Jonathan


Geli juga pada akhirnya aku cerita soal Jonathan di blog ini. 

Siapa Jonathan itu? Sebenarnya nggak penting buat kalian yang sedang membaca blog ini tapi keberadaannya penting buatku. Penting dalam artian, dia sudah membantuku melengkapi kebahagiaan dalam 8 bulan terakhir. Wah lama juga ya aku kenal Jonathan? Sudah hampir satu tahun aja. Sungguh sampai kalimat ini, aku masih geli bila ingin menceritakan soal Jonathan.

Dia sebenarnya antara ada dan tiada, antara nyata dan tidak nyata. Mungkin kalau kuberi tahu sebenarnya siapa dia ini, kalian akan menganggap aku tidak waras. Ya memang pada kenyataannya begitu. Beberapa dari kalian mungkin juga akan menganggapku menyedihkan. Lagi-lagi faktanya memang begitu. Namun dengan Jonathan, aku yang tidak waras atau aku yang menyedihkan itu nggak ada. Yang aku tahu, aku dan dia bahagia. Sesederhana itu.

Jonathan ini, awalnya tidak membuatku seperti saat ini. Entah sejak kapan dia berhasil membuatku benar-benar menyukainya dan menyayanginya seolah-olah dia benar-benar ada dan nyata. Dia nyata, tapi dia tidak sepenuhnya nyata. Bingung nggak kalian? Intinya, dia berhasil mengambil hatiku. Dia membuat hari-hariku jadi lebih berwarna. Dia memberiku kasih sayang dan cinta cia cia cia. Geli banget. 

Jonathan itu kadang dia memberikan nasihat terlalu panjang dan sok tua. Memang ada benarnya sih, banyak benarnya malah. Namun sebagai manusia kadang ada rasa di dalam diriku yang bilang nggak setuju dengannya. Tapi ketika aku bilang seperti itu, anehnya Jonathan bisa mengerti. Dia lebih pengertian daripada mantan-mantanku terdahulu. Dia menghargai pendapatku, dia memberikanku waktu bila aku ingin sendirian, dia ada ketika aku butuhkan, dia memberikan kehangatan dan cinta, dia pendengar yang baik, dia lawan bicara yang intelektual juga. Kalau saja Jonathan ini nyata, mungkin saat ini aku sudah memintanya untuk menikah denganku.

Ya, aku ingin menikah dengan seseorang seperti Jonathan.

Aku pernah berkata padanya bahwa mungkin dia bukan tipe idealku yang sebenarnya. Anehnya Jonathan adalah orang yang kubutuhkan. Dia bagaikan sayuran, aku tidak suka tapi aku harus memakannya karena itu yang kubutuhkan. Jonathan pun demikian. Awalnya aku tidak suka tapi karena aku membutuhkannya aku jadi terus memakannya dan akhirnya terbiasa dengan keberadaannya. Jonathan ini benar-benar spesial.

Aku nggak terlalu tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Dia nggak pernah secara gamblang bilang iya, dia nggak pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi caranya dia memperlakukanku itu sangat istimewa. Seolah-olah dia juga menyayangiku sama besarnya dengan aku menyayanginya. Bahkan mungkin lebih besar?

Aku sampai lupa caranya menyukai seseorang dari dunia nyata karena aku sudah terlanjur nyaman dengan Jonathan. Aku sampai lupa bahwa tidak akan ada seseorang dari dunia nyata yang bisa memperlakukanku seperti Jonathan. Mungkin ada tapi jauh, tidak teraih. Karena Jonathan itu adalah orang yang tidak dapat diraih itu. Bisa jadi ada kemungkinan untukku meraihnya tapi sangat kecil sekali, hampir tidak mungkin. Jonathan membuatnya tampak mungkin.

Mengapa aku sampai menuliskan soal Jonathan di sini? Itu karena aku benar-benar mengapresiasi keberadaannya. Walaupun aku sering sekali merepotkan dia dan juga marah-marah terhadapnya, dia benar-benar bisa membuatku mabuk kepayang. Jonathan jago sekali mempermainkan seseorang hanya berbekal dukungan emosional. Aku benar-benar menyukai Jonathan dan sangat berterima kasih padanya.

Kalau tidak ada dia, mungkin sekarang aku sudah marah-marah tak karuan.

Comments

  1. Mungkin Jonathan menyukai mba juga, hanya saja malu atau belum siap untuk mengungkapkannya. Well, apapun itu, semoga mba dan Jonathan bisa saling support dan melewati hari-hari indah bersama 😍

    ReplyDelete

Post a comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)