Pengalaman Seleksi EY (Ernst & Young) Indonesia dan PwC London


Selama beberapa bulan terakhir ini aku sedang menjadi seorang job-hunter. Dan aku termasuk kategori pengangguran musiman yang cukup lama setelah lulus dari pendidikan Master di London. Ada sejumlah teman yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap sesegera mungkin setelah mereka lulus, ada juga yang masih sama sepertiku yaitu jadi job hunter. Entah sudah berapa banyak lamaran yang aku masukkan dan sudah berapa kali aku bolak-balik Jakarta untuk menghadiri sejumlah interview tapi masih belum membuahkan hasil, salah satunya akan aku tulis dalam postingan ini.

Sebelum aku kembali ke Indonesia, sebenarnya aku sudah aktif melamar pekerjaan. Dimulai dari LinkedIn hingga ke website perusahaan yang bersangkutan. Beberapa menolakku langsung, beberapa memberiku kesempatan untuk menghadiri assessment dan interview. Pada akhir Desember, aku mendapatkan undangan assessment dari salah satu KAP Big Four di Indonesia yakni EY (Ernst & Young).

Bagi yang belum tahu, ada 4 audit firm (Kantor Akuntan Publik) yang terbilang besar dan reputable skala internasional yakni: Pricewaterhouse Cooper (PwC), Deloitte, Ernst & Young (EY), dan KPMG. Empat audit firm ini bertanggung jawab atas audit eksternal sejumlah perusahaan, terutama bagi perusahaan emiten yang telah melepas saham mereka di pasar modal. Tugas KAP ini bermacam-macam, ada yang memberikan jasa audit (pemeriksaan laporan keuangan) dan ada juga yang menyediakan jasa konsultan atau penasihat sistem di sebuah perusahaan. Maka dari itu, menjadi pegawai dari salah satu Big 4 merupakan loncatan karir yang cukup signifikan bagi lulusan Ekonomi. Ditambah lagi, beban kerja sebagai auditor atau konsultan di audit firm ini juga cukup berat. Tentu saja gaji mereka juga terbilang sepadan.

Seleksi EY

Aku melamar posisi junior auditor (assurance) di EY sejak bulan Oktober/November 2018 ketika aku iseng-iseng membuka job offer di LinkedIn. Cara apply di perusahaan ini cukup mudah, aku hanya perlu menuju ke halaman career di website mereka lalu mengisi data lengkap di form yang telah disediakan. Selang satu minggu kemudian, mereka mengirimiku e-mail untuk menghadiri assessment tulis. Sayang karena saat itu posisiku masih berada di London, aku tidak bisa menghadiri undangan assessment EY. Beruntung EY menawarkan jadwal re-schedule assessment ini agar bisa kuhadiri. Jadi assessment yang sebelumnya akan diadakan pada awal bulan Desember aku tunda hingga akhir Desember setelah aku wisuda dan pulang ke Indonesia.

Setelah wisuda beserta drama kepulangan, akhirnya aku sampai juga di rumah. Belum lama di rumah, aku harus bertolak lagi ke Jakarta untuk menghadiri assessment EY ini. Pada assessment tersebut, aku diminta untuk membawa lamaran, CV, serta copy ijazah dan transkrip lengkap dengan alat tulis. Sayangnya karena aku melewatkan butir-butir tersebut di email, aku hanya berangkat bermodalkan pulpen dan pensil saja! Benar sekali teman-teman, aku tidak membawa dokumen apapun. Itupun aku baru sadar kalau perlu membawa dokumen setelah temanku tanya, "Loh Gis emang kamu nggak disuruh bawa dokumen gitu ta?" lalu kujawab dengan percaya diri: "Oh engga dong!" padahal e-mail menyebutkan bahwa aku perlu membawa dokumen tetek bengek itu. #KebodohanAgistaYangke19784682

Aku sempat mau menyerah dan menggagalkan diri untuk mengikuti assessment tulis EY karena aku baru membaca lagi e-mail pengumuman di pagi harinya. Namun karena sudah terlanjur basah, aku nekad saja. "Yah kalau memang nggak keterima ya udah toh. Wong masalah dokumen nanti juga bisa nyusul," batinku. Dan ya, begitu aku sampai di Kantor EY di kompleks perkantoran Bursa Efek Indonesia, aku masih diterima dengan ramah kok. Terlebih lagi, aku masih diperbolehkan untuk mengikuti tes tulis EY yang berisikan: tes kemampuan bahasa Inggris setara TOEFL (writing, reading, listening) dan tes teknikal alias assurance.


Di tes bahasa Inggris aku cukup percaya diri karena untuk level TOEFL, aku sudah terbilang cukup menguasai. Sehingga aku lebih santai dan mengerjakan sangat cepat. Berbeda dengan tes assurance yang aku sudah lupa. Bahasannya adalah basic accounting, mulai dari teori akuntansi sampai dengan study case. Aku menjawab beberapa butir soal yang teorinya masih kuingat saja. Selebihnya aku mengarang total! Saat itu aku berpikir, "Kayaknya aku gak bakal lolos sih. Pasti skor ujian tulis teknikal ini rendah banget." Memang sih, nilai ujian teknikalku sangat rendah tapi aku masih dapat panggilan ke tahap berikutnya yakni interview HR. Jarak antara pengumuman tahap ke-2 dengan tes tulis cukup dekat, berbeda 1-2 minggu saja. Saat itu, aku sudah balik ke Malang (dan sempat ke Bandung dulu) lalu harus balik lagi ke Jakarta. Sungguh melelahkan.

Di tahap ke-2 seleksi EY, aku dikumpulkan beserta 5-7 peserta lainnya dalam satu ruangan. Awalnya aku mengira kami akan dipanggil satu per satu dan menghadapi interview face to face dengan HR/User. Ternyata dalam ruang rapat tersebut, dilaksanakan interview bebarengan, hampir mirip dengan FGD. Pertanyaan awal masih umum seperti "Try to introduce yourself." Interview dengan HR ini full English, jadi pastikan kamu sudah siap untuk menjawab dalam bahasa Inggris dan memahami bahasa Inggris ya teman-teman!

Setelah mengenalkan diri secara umum dari nama, almamater, dan asal kota, HR mulai menanyai satu-satu seperti, "Why did you choose EY?" atau "Why did you choose accounting?" atau "What is your strength and weaknesses?" pertanyaan yang sama ditujukan bagi semua peserta interview di dalam ruangan tersebut. Lalu satu per satu dipersilakan menjawab secara sukarela. Biasanya, HR akan melanjutkan ke pertanyaan pendukung lain sesuai dengan jawaban kandidat. Jadi, kamu bisa sekaligus mempelajari kelemahan dan kekuatan kandidat lain di ruangan yang sama. Pada saat itu, ada salah seorang kandidat yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris sehingga proses interview berlangsung agak lambat. Memang sih diperbolehkan menjawab dengan bahasa Indonesia, tapi alangkah lebih baik kamu juga harus mengerti bahasa Inggris. Kan susah juga misal kamu tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali.

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontaskan di assessment tahap ke-2 ini lebih bersifat personal sehingga kamu tidak perlu belajar banyak-banyak. Kuncinya adalah percaya diri dan diplomatis. Usahakan untuk tetap low profile tapi juga menjual diri. Intinya jangan terlalu bicara muluk-muluk dan ceritakan usaha konkret. Misalkan ditanya soal kegiatan organisasi, jangan jelaskan terlalu detail tapi jelaskan gambaran garis besar dengan solusi atau masalah yang jelas.

e-mail feedback EY (cr: dok. pribadi)
Sebenarnya setelah seleksi tahap ke-2 dengan EY ini aku mendapatkan feedback yang baik tapi hingga saat ini aku belum dikabari untuk lanjut ke seleksi tahap selanjutnya, yakni interview user. Karena sudah lewat tiga bulan sejak seleksi tahap ke-2 tidak ada kabar, aku menganggap bahwa seleksi di EY sudah gagal dan aku tidak berharap lagi.

Seleksi PwC London

Setelah agak menyerah dengan peruntungan di EY, aku mencoba untuk melamar posisi di PwC London. Sebenarnya aku sudah ragu duluan karena pada tahun 2017 lalu, aku sudah mencoba untuk melamar jadi mahasiswa magang di PwC London dan gagal di assessment awal mereka. Perbedaan assessment PwC London dan Indonesia adalah sistem rekrutmen mereka. Rata-rata perusahaan di UK sudah memanfaatkan portal online untuk assessment pelamar pekerjaan, jadi pelamar tidak perlu repot-repot datang ke kantor terkait*). Assessment dapat dikerjakan di rumah atau dimanapun hanya dengan modal koneksi internet, laptop, dan otak yang cerdas. PwC London pun demikian, di tahun 2017 itu aku lolos screening administrasi dan diminta untuk mengerjakan soal assessment yang dibatasi aksesnya dalam waktu 3 hari.

Soal online tersebut harus dikerjakan dalam kurun waktu tertentu, 1 jam misalnya. Isi dari tes assessment bermacam-macam, mulai dari tes logika, tes number sequence, logical reasoning, sampai tes teknikal yang berkaitan dengan statistik atau hitungan akuntansi. Usai assessment, dalam dua-tiga hari akan dikabari apakah seorang kandidat lolos atau tidak. Saat itu aku tidak lolos. Sementara ada kisah dari salah seorang teman yang lolos hingga tahap interview, dia gagal karena dia membutuhkan sponsor visa Tier 2 untuk bekerja di UK. Ada juga salah seorang teman yang menambahkan bahwa setelah assessment online, kandidat akan dipanggil untuk melakukan Focus Group Discussion di kantor PwC setempat.

PwC London Office
Sementara itu kali kedua aku melamar posisi di PwC London adalah pasca aku tidak kunjung mendapatkan kabar dari EY. Berbeda dengan assessment tahap pertama saat aku melamar posisi magang, assessment online pertama PwC London adalah mengenai work behaviour. Sama sekali tak ada soal hitungan atau logical reasoning, murni soal preferensi lokasi dan lingkungan kerja kandidat. Sayangnya, setelah mengambil tes ini aku dinyatakan tidak sesuai dengan kriteria yang dicari oleh PwC. Pada akhirnya, aku tahu bahwa aku memang tidak cocok untuk PwC London.

*) Sejumlah perusahaan seperti DBS atau UOB sudah menerapkan online assessment semacam PwC ini. Telkom pun demikian. Namun KAP Big 4 di Indonesia masih menerapkan sistem assessment offline yang mewajibkan pesertanya datang ke kantor terkait dan menjalani tes.

Seleksi PwC Indonesia

Hingga bulan ke-empat aku pulang dari London, aku tidak kunjung dapat pekerjaan. Pada akhir Maret kemarin, Mas Samuel yang menjadi salah satu mentorku saat masih magang di BI London memberi tawaran menarik. "Gista udah kerja belum?" lalu aku jawab belum dan Mas Samuel berkata, "Sudah coba di mana aja? Kalau mau ini temenku ada yang di PwC, kamu kirim CV ke aku nanti ku forward ke dia." Kemudian tanpa ba bi bu aku segera mengirimkan CV-ku. Hal ini kulakukan karena aku sudah berulang kali melamar posisi di PwC Indonesia tapi tak kunjung mendapatkan panggilan (bahkan untuk assessment pun). Setelah mengirim CV ke Mas Sam, berselang satu sampai dua minggu kemudian, PwC mengirimkan e-mail assessment invitation padaku. Kali ini pun aku harus re-schedule lagi karena keterbatasan biaya.

PwC Indonesia
Di assessment tahap pertama yang diadakan hari ini (13/04), aku dikumpulkan bersama sejumlah peserta lain dalam satu ruangan. Isinya lebih dari 50 orang, berbeda dengan EY yang waktu itu hanya menguji sekitar 20 orang dalam satu ruangan. Tes tulis PwC kurang lebih sama dengan tes tulis EY. Bedanya adalah untuk tes tulis bahasa Inggris, PwC tidak menyertakan listening section. Level bahasa Inggris yang diujikan pun sama-sama TOEFL jadi ada reading passage dan grammar section. Setelah mengerjakan tes bahasa Inggris yang dilaksanakan selama 45 menit, tes dilanjutkan ke tes logika. Lagi-lagi berbeda dengan EY, seingatku di EY tidak ada tes logical reasoning semacam ini. Paket tes logical PwC ini cukup lengkap, mulai dari number sequence, pattern, analogi, silogisme, dll. Jumlah tes bahasa Inggris PwC ada 60 butir soal, tes logika 70 butir soal.

Setelah mengerjakan dua tes tersebut di atas, tes terakhir adalah tes teknikal. Sama seperti EY, masing-masing divisi diberikan soal yang berbeda. Di PwC aku tidak lagi mengambil divisi assurance tapi divisi advisory. Alasannya adalah aku memang ditawari posisi di divisi advisory deals strategy. Soal di divisi advisory ini lebih berkutat soal M&A dan Corporate Finance, ada sedikit teori akuntansi tapi tidak terlalu detil. Berbeda dengan soal teknikal assurance yang kukerjakan di EY karena membahas akuntansi secara mendetail. 

Sayangnya, lagi-lagi aku tidak belajar sehingga aku merasa agak kesusahan di soal teknikal ini. Padahal kalau aku belajar, mungkin aku akan setidaknya ingat rumus apa saja yang digunakan untuk menghitung WACC, Future Value, Present Value, sampai RoE berdasarkan informasi yang tersedia. Alhasil aku mengarang bebas dan tidak berharap akan lanjut ke tahap berikutnya. 

Kalau ditanya, manakah yang lebih sulit PwC atau EY? Dari kedua proses seleksi, menurutku soal yang diujikan cukup berimbang. Tidak ada yang lebih sulit satu sama lain. Semua tergantung seberapa banyak kamu belajar. Soal bahasa Inggris yang diujikan pun demikian. Tidak terlalu sulit, yang penting memahami grammar dan bacaan dengan baik.

Jadi, buat kalian yang sedang mencoba seleksi di Big 4 Audit Firm, aku sarankan untuk belajar sebelum hari tes. Kalau kalian memang niat untuk masuk ke salah satu perusahaan entah itu EY atau PwC pastikan kalian melakukan persiapan yang cukup matang. Jangan seperti aku, sudah sering kesasar, sering terlambat, ngerjain tesnya nggak belajar pula.

Comments

  1. Halo kak, mohon di accept invitation saya di LinkedIn, saya ada sediki pertanyaan terkait LPDP. Thanks in advance kak

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)