Tren Cafe 'Kopi Senja', Gelas Plastik, dan Kapitalisme


Sepertinya aku cuma setahun berada di Inggris tapi begitu pulang, aku menemukan banyak tren baru yang berjamuran. Salah satunya adalah Es Kepal Milo yang sempat hits di pertengahan tahun 2018 lalu. Dilanjutkan dengan Es Kopi Susu-Susuan bermodel franchise semacam Kopi Janji Jiwa, Kopi Kulo, Kopi Kenangan, Kopi Mantan, dan sebagainya. Sebenarnya gaung per-kopian ini sudah terdengar sejak aku masih di London, salah satu temanku kerap kali bercerita mengenai hobi ngopi warga Jakarta. Aku tidak menyangka bahwa kota kecil seperti tempat tinggalku, Malang, juga terkena dampak dari gaya hidup hedonisme millenials Ibukota dengan franchise es kopi susu-susuan.

Memang dasarnya aku tidak terlalu suka minum kopi, keberadaan franchise es kopi ini tidak terlalu berpengaruh buatku. Bahkan meski Kopi Kulo jadi sangat populer di Malang, sampai hari ini aku masih belum mencoba jenama yang membuka satu cabang di dekat PHD Sawojajar ini. Justru, aku mulai mencoba kopi susu-susuan ini ketika aku sedang berada di sekitaran Jabodetabek. Racun pertama yang kudapatkan adalah karena rekan satu OJT-ku di Bogor membeli Kopi Kenangan secara bulk suatu hari. Karena terlanjur terbeli (karena promo) akhirnya aku minum juga deh.

Sejujurnya aku sempat berkata pada temanku di Malang bahwa aku tidak terlalu suka dengan konsep kedai kopi susu-susuan yang sedang naik daun ini. "Rasanya kok kayak nggak menghargai pelanggan dengan menyajikan kopi di cup plastik. Selain itu juga gak cinta bumi, kapitalisme gaya baru," ujarku waktu itu. Memang, kekesalanku akan penyajian kopi di cup plastik ini dimulai ketika aku mampir ke Starbucks di sekitaran Cikini dan justru mendapatkan minuman di cup plastik alih-alih di cangkir. Di situlah Saya merasa sedih.


Sebenarnya aku bukan orang yang terlalu cinta bumi sih, tapi tren franchise kopi yang mengeksploitasi gelas plastik ini sebenarnya sudah agak mengganggu. Dengan harga yang dibanderol cukup unworthy, customer disuguhi minuman dalam gelas plastik meskipun mereka dine-in. Kalau take away tidak masalah sih, tapi dine-in tanpa cangkir? Rasanya kok seperti tidak modal gitu ya. Padahal kalau dihitung-hitung, sebenarnya cost untuk membeli gelas cangkir pakai buang dan juga sablon logo bisa lebih mahal daripada beli cangkir keramik bulk dan membayar tenaga kerja untuk mencucinya.

Ditambah lagi dengan gaya hidup 'cinta bumi' manusia masa kini sehingga sedotan plastik tidak lagi tersedia dan digantikan oleh stainless straw yang lagi trending di Shopee. Bukankah sebenarnya tren kopi susu-susuan bergelas plastik ini tidak sebanding dengan effort minimalisasi sedotan plastik? Sebuah paradoks yang sebenarnya sampai sekarang belum bisa kumengerti. Padahal kalau toh memang memegang prinsip instan, harusnya gelas plastik itu digantikan dengan paper cup seperti coffeeshop-coffeeshop di UK atau bisa juga dengan menjual coffee cup yang re-usable sehingga memudahkan pengunjung take away. Tapi kalau dipikir lagi, budaya ngopi di Indonesia kan bukan budaya take away. Salah seorang temanku pernah mengatakan bahwa "Ngopi adalah sosialisasi." Hal ini berarti pengunjung akan menghabiskan waktu cukup lama di kedai kopi dan menikmati minuman tersebut pelan-pelan dong? Lagi-lagi timbul pertanyaan: Mengapa harus menggunakan gelas plastik?

Mungkin ada penjelasannya bahwa lebih praktis untuk dibersihkan, lebih praktis untuk dibawa-bawa, dan sesuai dengan gaya hidup orang Jakarta. Sayangnya, hingga saat ini aku masih belum menemukan statistik atau penelitian yang mendukung argumen tersebut sih. Berkaca dari pengalaman, selama di UK sejumlah kedai kopi masih menyajikan minuman di dalam gelas keramik alih-alih gelas plastik dan tidak ada masalah mengenai hal itu. Sekali lagi, poin dari pendapatku adalah: kalau memang mau hemat cost, apakah benar re-supply gelas plastik lebih murah daripada pembelian gelas keramik? Kalau memang cinta bumi, apakah benar gelas plastik justru tidak menambah permasalahan mengenai non-degradable waste? Kalau memang tujuannya untuk kepraktisan, apa memang local wisdom masyarakat Indonesia lebih cenderung ke take away daripada dine-in?


Regardless of my rants above, sebenarnya aku nggak protes-protes amat mengenai rasa kopi di gelas plastik ini. Ada sejumlah kopi susu yang pernah kucoba dan memang enak. Apalagi rekan-rekan satu OJT di Bogor gemar memesan minuman ini di aplikasi pesan antar. Dari sejumlah jenama, yang paling favorit adalah Kopi Soe dengan rum-nya. Terakhir (dan dengan terpaksa) aku harus mengakui bahwa kopi Foresthree juga enak apalagi kopinya unik banget, pakai sirup raspberry gitu. Kalau saja disajikan di gelas keramik, mungkin aku akan sangat berbahagia. Sayangnya, kopi-kopi yang kubeli di kedainya langsung ini juga disajikan dalam gelas plastik.

Bila dilihat dari kacamata finance, bisnis kopi yang menjamur ini merupakan kapitalisme gaya 2019. Sama seperti jenis bisnis lain yang sempat menjamur di Indonesia, Mie Pedas contohnya, bisnis kopi ini suatu saat akan mengalami deklinasi dan lama-lama ditinggalkan. Penggunaan gelas plastik pun sebenarnya merupakan strategi branding tersendiri. Logo-logo imut yang dicetak, warna minuman yang catchy, serta penulisan nama di gelas tersebut secara tidak langsung membantu pemasaran jenama di sosial media. Apalagi kultur masyarakat zaman sekarang adalah digital advertising, tanpa diminta pun, bila customer merasa puas atau merasa perlu berbagi foto maka semua orang hampir pasti juga mengenal jenama yang dimaksud.

Kapitalisme lain yang bisa dilihat dari fenomena per-kopi-an ini adalah kemunculan sedotan stainless yang dikampanyekan oleh SJW lingkungan hidup. Padahal kalau dilihat dari sisi Behavioural Finance, sebenarnya produk sedotan tersebut justru menimbulkan cognitive bias karena mengeksploitasi sisi ikut-ikutan (konsumerisme) dari sebagian masyarakat saja. Ujung-ujungnya, kapitalisme berkedok eco-friendly ini malah menciptakan lini pasar baru yang lebih premium. Maka dari itu, hingga saat ini aku memandang produk eco-friendly seperti Fjallraven, The Body Shop, atau Lush hanya menunggangi asas penghijauan untuk mematok harga tinggi bagi produk mereka. Ironisnya, aku tetap membeli produk-produk mereka. Itulah yang disebut sebagai bargaining power.

Selanjutnya, keberadaan kedai kopi susu-susuan ini juga semakin menciptakan demand akan gaya hidup kekinian. Perilaku konsumen saat ini lebih berfokus pada apa yang nampak bagus di feed sosial media daripada kepuasan akan rasa atau kualitas produk. Sehingga, produk-produk yang sebenarnya biasa saja harganya jadi melambung karena tingginya kepuasan konsumen akan engagement produk mereka di sosial media. Apakah ini hal yang buruk? Buruk bila dilakukan terus-menerus tapi justru menjadi metode pemasaran kreatif yang baru.



Terlepas dari sederetan kedai kopi yang menyajikan minuman mereka di gelas plastik, sebenarnya masih ada sejumlah kedai kopi yang menghargai pelanggan dengan menyajikan minuman di wadah yang sesuai. Deretan kedai kopi di Cikini misalnya, dengan desain interior vintage yang juga bagus untuk diunggah ke sosial media, mereka masih menyajikan kopi dalam gelas. Selain itu, kedai kopi kecil di Pasar Tawangmangu, Malang, mereka juga masih menyajikan kopi dengan cita rasa kopi sebenarnya dan disajikan di gelas kaca lengkap dengan tatakannya. Bukankah esensi ngopi itu memang begitu? Menikmati aroma kopi ditemani cahaya remang-remang dan diskusi yang matang?

Nah, itu adalah pendapatku. Kalau pendapat kalian bagaimana? Tulis di kolom komentar ya!



Comments