Review Film: JOKER [2019]

Image result for Joker
cr: metro.co.uk
"I used to think that my life is a tragedy, but now I realise it's a comedy." - Arthur Fleck 
"Is it just me? Or is it getting crazier out there?" - Arthur Fleck

Somehow I agree with that condition because I felt the same and that's why I always have reasons to laugh at myself. Well, postingan ini bukan soal aku tapi soal Joker sebenarnya. Sebuah film yang sejak trailernya dirilis sudah aku tunggu-tunggu. Ketika aku dikabari temanku mengenai info pre-sale telah dibuka, tanpa pikir panjang aku langsung menuju M-Tix dan membeli tiketnya. Awalnya aku dan temanku itu sudah janjian untuk nonton di hari pertama rilis, sayangnya dia tidak bisa datang karena ada urusan. Sebenarnya meski tanpa dia aku juga bisa sih nonton di hari pertama rilis, tapi aku takut jadwalku terlalu padat hingga tak sempat nonton. Akhirnya aku memilih untuk nonton di hari kedua rilis.

Jujur aku menaruh ekspektasi tinggi pada film yang diderek oleh Todd Philips ini. Pasalnya di trailer penampilan Joaquin Phoenix sebagai Joker sangat meyakinkan. Terlebih lagi film-film bertema psikologis dan mental illness merupakan hal yang paling aku sukai. Rupanya ekspektasiku pada film berdurasi 2 jam 2 menit ini memang benar terpenuhi. Rasa-rasanya tak berlebihan dong kalau film ini juga mendapatkan rating tinggi yakni 9.4 di IMDb? 

Joaquin Phoenix sebenarnya membawa beban pasca karakter Joker gagal diperankan dengan epik oleh Jared Letto di Suicide Squad. Dan tentu saja, dia juga harus siap untuk dibanding-bandingkan dengan karakter Joker Heath Ledger yang sukses menuai pujian di masanya. Namun sebelum kamu menilai kapabilitas Phoenix dalam membawakan karakter Joker dalam self-titled film ini, lebih baik hapus jauh-jauh karakter Joker yang diperankan oleh aktor yang sudah-sudah.

Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) merupakan karakter yang diperkenalkan sejak awal dalam film ini. Arthur memang bekerja sebagai badut, diasumsikan bahwa passion-nya memang menjadi seorang pelawak. Tak terhitung berapa kali jumlahnya, Arthur menyebut cita-citanya sebagai seorang pelawak. Sayangnya, Arthur tidak lahir dengan privilege justru dia terlahir sebagai kaum marjinal. Seperti kaum marjinal pada umumnya, Arthur tertindas, lemah, bahkan untuk hidup saja istilahnya empot-empotan. Ditambah lagi dia harus menghidupi Ibunya yang sudah tua.

Image result for Joker
cr: The Atlantic
Yang membuat sosok Arthur ini makin mengundang simpati adalah kejadian-kejadian tragis yang mengiringi perkembangan dirinya menjadi seorang "villain". Mulai dari dibully oleh remaja, anak muda, hingga mengetahui kenyataan pahit bahwa dia adalah "anak yang tak diharapkan". Apalagi Arthur juga sempat didiagnosis mengidap mental ilness yang kemudian dijelaskan di bagian akhir film. Intinya, hidup Arthur sengaja digambarkan se-tragis dan se-menyedihkan itu.

Rupanya sutradara berhasil menampilkan untold story of Joker. Film ini sarat akan kritik sosial dan pesan implisit yang sebenarnya cukup mudah untuk ditafsirkan. Yang paling menarik, setelah menonton film ini mungkin kamu akan berpikir bahwa Bruce Wayne (Batman) hanyalah wealthy-drama-queen-spoiled-brat. Dari film ini juga kamu akan belajar untuk melihat seseorang dari sisi lain, pasti ada alasan mengapa seseorang berubah menjadi "orang jahat" dan salah satunya adalah kondisi sosial atau ekonomi.

Pendekatan karakter Joker dalam film ini tidak bisa dibandingkan dengan film-film sebelumnya karena sepenuhnya berbeda. Joaquin Phoenix dengan unik dapat menampilkan sisi emosional, gila, tragis, dan depresif Joker yang selama ini kita kira hanyalah gila karena memang ditakdirkan demikian. Rupanya tidak, Joker gila bukan karena tercebur laruta kimia tapi karena rusaknya kehidupan bermasyarakat Kota Gotham. Sangat gelap dan dalam bukan? Bahwa sebenarnya siapapun akan bisa jadi Joker kalau mereka terlalu sering ditindas dan diperlakukan tidak adil.

Sebenarnya cukup banyak aspek yang membuatku sangat menyukai film ini, di antaranya: plot, pengembangan karakter, scoring, sinematografi, dialog hingga akting menawan Joaquin Phoenix. Dari awal hingga akhir, feel yang didapatkan memang muram dan menggalang simpati penonton dari scoring yang diramu oleh Hildur Guờnadóttir. Dialog yang ditampilkan sarat makna dengan kadar jokes yang tidak berlebihan, bahkan jokes pun jarang dilontarkan karena film ini memang sengaja diarahkan agak disturbing dan mentally depressing. Yang patut diapresiasi adalah perkembangan karakter Joker yang bisa mengubah perspektif penonton mengenai seorang villain. Memang pada akhirnya Joker jadi penjahat tapi penonton tidak dengan instan menghakimi bahwa dia dari sananya sudah terlahir jahat.

Kalau kamu mengharapkan Joker bakal jadi pemuas kegemaranmu akan film superhero yang penuh adegan action, bersiaplah untuk kecewa. Joker yang ini lebih ke psychological drama yang mana bakal membuatmu merasa larut dalam kesedihan berkepanjangan atau bahkan anxiety pasca nonton filmnya. So, sit back and relax. Enjoy the emotions and let's discuss which part of the movie is your favourite?

P.S: To sum it up, It's difficult not to say that this movie is Oscar-worthy in every aspect.

Image result for Joker
cr: NOW Magazine

Plot★ ★ ★★☆
Akting★ ★ ★  
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆  

Comments