Apakah Salah Menjadi Idealis?

If becomes an idealist cost us our life, will you still do it?

Sebenarnya nggak bagus buat orang yang baru masuk ke sebuah perusahaan seperti aku ini menulis hal-hal buruk di tempat kerja di ruang publik begini. Tapi aku rasa, orang harus tahu bahwa bekerja di tempat yang kelihatannya bagus nggak selamanya bagus. Kalau anak kuliahan membayangkan kerja di BUMN itu nyaman, aman, sentosa, sepertinya mereka harus berpikir ulang. Yang pertama, tidak ada kerjaan yang mudah dan nyaman di dunia ini. Yang kedua, bahwa sekolah itu jauh lebih menyenangkan daripada bekerja. Dan yang ketiga, kembali ke judul tulisan ini: Apakah Salah Menjadi Idealis?

Sebelum semua ini, bayanganku mengenai dunia kerja begitu naif dan sempurna. Di realitas yang kuciptakan sendiri, aku akan bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh di jam kerja yang normal. Lalu memiliki cukup waktu untuk mengembangkan diriku sendiri. Entah itu olahraga sepulang kerja atau sekedar hang out bersama teman di saat akhir pekan. Lalu aku bisa menabung sebagian untuk masa depan dan hidup normal-normal saja. Mungkin standar normalku di sini sama seperti kebanyakan orang, bekerja dari pukul 8 ke 5 sore, punya kehidupan sosial, punya uang. Work life balance kalau kata orang zaman sekarang.

Namun aku terlalu naif untuk berpikir demikian setelah menjalani kenyataan yang tidak seindah apa yang kubayangkan. Kerja lembur tanpa dibayar. Iya, bekerja di BUMN berarti kamu bekerja untuk negara, tidak ada kompensasi overtime seperti yang tertuang dalam UU No. 13 tahun 2003. Dalam undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa: waktu kerja adalah 7 jam/hari atau 40 jam/minggu dalam 6 hari atau 8 jam/hari atau 40 jam/minggu dalam 5 hari. Di luar waktu tersebut disebut sebagai lembur dan maksimal adalah 3 jam/hari atau 14 jam dalam seminggu. Kedua hal ini sudah diatur dalam hukum legal bahkan didukung juga oleh Peraturan Menteri KEP 102/MEN/VI/2004 Pasal (13). Di peraturan yang sama, terdapat juga penghitungan upah lembur bagi karyawan. Sayangnya peraturan ini bisa di-nullify kapan saja bila kamu bekerja di BUMN. Kenapa? Karena kembali pada prinsip bekerja untuk negara 😊

Ini yang sedang aku rasakan. Bukan karena seseorang bekerja di BUMN, maka upah lembur ditiadakan. Bukan karena seseorang bekerja di BUMN, berarti perusahaan/pemerintah bisa seenaknya memeras tenaga karyawan sedemikian rupa. Tentu saja hal ini tidak adil dong. Karyawan juga manusia, bukan robot. Dalam hal ini aku akan menceritakan seberapa tidak adilnya jam kerja yang berlaku di tempat aku bekerja.

Unit tempatku bekerja saat ini adalah strategic planning, konon outcome dari pekerjaan kami adalah dokumen perencanaan strategis perusahaan yang diperbarui setiap tahun. Sebenarnya bukan pekerjaannya yang membuatku marah dan frustasi namun metode yang digunakan oleh sang boss (VP) yang menurutku sudah keterlaluan gilanya. Di masa rolling rencana strategis perusahaan ini, bos telah melakukan abusive work hour alias bekerja hampir 24 jam tanpa henti. Kami yang selama WFH harusnya bekerja normal dari 8-5 (ini pun sudah lebih dari 8 jam) malah harus bekerja dari 8-infinity. Yang paling membuat muak sebenarnya adalah karena apapun yang dibahas dalam rapat (vcon) sangat tidak efektif, tidak tepat sasaran, dan tidak memberikan progress signifikan.

Coba bayangkan, selama seharian penuh kamu harus duduk di depan komputer mengikuti video conference, entah apa yang dibicarakan dalam rapat itu. Tidak ada hasil yang konklusif. Tidak ada kemajuan. Tidak ada impact baik secara personal ataupun grup.

Secara pribadi aku akan lebih bisa menerima bila bekerja lembur karena memang dibutuhkan. Contohnya, aku memiliki tugas khusus untuk melakukan proyeksi keuangan. Dari hal tersebut, bila memang proyeksi keuangannya belum selesai maka bila dibutuhkan waktu untuk lembur aku akan lembur dan menyelesaikannya. Sayangnya, di diskusi so-called rolling dokumen strategis ini tidak ada outcome atau hasil yang diinginkan seperti yang kulakukan pada proyeksi finansial. To sum it all, it's all bullshit.

Aku tidak akan komplain bila memang sebuah pekerjaan relevan dan memiliki tujuan. Aku tidak akan mengeluh bila si bos tidak gila hormat dan menjadikan bawahannya sebagai korban hanya karena dia tidak puas dengan dirinya sendiri. Dan apakah aku salah bila aku menolak bekerja di luar jam kerja untuk hal yang memang tidak relevan? Tidak ada yang salah. Yang salah adalah menormalisasi logika yang terbalik-balik. Menormalisasi bahwa lembur merupakan hal yang sudah biasa meskipun itu tidak memiliki nilai tambah bagi karyawan. Menormalisasi bahwa bawahan harusnya tidak punya kehidupan lain selain bekerja dan bekerja. Itu yang salah.

Bekerja memiliki aturan bahkan memang sudah ada peraturannya. Meminta bawahan untuk hadir di vcon mengenai diskusi yang membuang banyak waktu merupakan pelanggaran hak. Jadi, aku tidak salah dong bila menolak. Aku juga tidak salah bila tidak menghormati si atasan yang melanggar kehidupan pribadi karyawannya ini. Lucunya si bos ini malah merasa bahwa karyawan yang tidak mau menurut apa kata dia, atau mengikuti kegilaannya dengan bekerja tidak efektif adalah karyawan yang tidak rajin. Sungguh aku ingin tertawa karena dibandingkan dengan dia, bahkan aku datang lebih awal ke kantor dan bangun lebih pagi 😊

Lagipula, tidak salah juga menunjukkan sebuah resistensi. Karena gaji antara karyawan di posisiku dan si bos saja sudah berbeda. Gaji si bos sudah menyentuh angka puluhan bahkan ratusan juta, sementara gajiku tidak sampai dua digit. Kalau beban psikisnya disamakan, memang dia mau menaikkan gajiku setara gajinya? Tidak kan?

Comments