Manusia-Manusia Yang Ada di Sekitarku


Menurutku manusia itu unik. Mengapa demikian? Karena masing-masing individu punya karakter yang berbeda dan tak sedikit dari mereka yang membuatku geleng-geleng kepala. Aku pun begitu, mungkin di mataku aku normal-normal saja tapi siapa tahu teman-temanku menganggap tingkahku ini aneh, cara berpikirku ini tidak umum, dan lain sebagainya. Bermacam peristiwa yang terjadi di sekitarku pun semakin membuatku merasa bahwa manusia itu unik dan lucu, maka dari itu akhirnya aku memutuskan untuk menuliskannya di sini.

Beberapa waktu lalu (dan hal ini belum kutulis) ada sebuah kasus yang mencoreng nama almamater Universitas Indonesia. Kabar ini basi sebenarnya tapi karena belum kubahas jadi kubahas saja di sini. Sebut saja Krimi, seorang mahasiswa UI yang ternyata ketahuan memalsukan segala macam prestasinya, bahkan yang namanya Krimi ini tetap kalem dan dingin seolah-olah tak terjadi apa-apa padahal dia melakukan pembohongan besar. Hal yang sama menimpa seorang calon doktor yang sedang kuliah di TU Delft. Dua kasus ini membuktikan bahwa seseorang bisa dengan sadar dan sengaja berbohong demi kepentingan pribadi.

Awalnya aku geleng-geleng kepala membaca artikel-artikel soal pembohong akademis tersebut tapi lambat laun aku takjub juga. Awalnya aku bertanya-tanya, "Buat apa sih berbohong soal prestasi akademik? Buat apa sih berbohong untuk mendapatkan karir yang cemerlang?" Well, kalau dinilai dari sisi kapitalisme ya memang berbohong itu diperlukan untuk bertahan hidup. Dan cara berbohong orang-orang tersebut merupakan salah satu bentuk untuk meraup keuntungan di masa mendatang dan survive.

Bagiku, what's the point? Apa ujungnya? Apakah dengan mendapatkan jabatan mentereng lantas kita akan bahagia seumur hidup? Toh ujung-ujungnya kita mati. Ya, menurutku semua hal di dunia ini sia-sia untuk disombongkan karena ujung-ujungnya kita mati tidak akan membawa hal itu kan?

Sayangnya, pikiranku tersebut terlalu sempit. Bila ditelaah lebih lanjut, bisa jadi orang-orang tersebut mengumpulkan pundi-pundi kekayaan agar anak-anak dan keluarganya kelak hidup nyaman. Bisa jadi niatan orang-orang tersebut baik sayangnya mereka mengambil langkah yang salah. Lagipula siapa sih yang nggak ingin kaya? Aku pun juga ingin kaya.

Meski demikian tak bisa dipungkiri lagi bahwa cara berbohong orang-orang tersebut patut diacungi jempol. Tak cuma mereka, ada begitu banyak manusia di muka bumi ini yang manipulatif, persuasif, dan suka berbohong. Apakah mereka jahat? Kalau dunia hanya terbagi dalam hitam dan putih, Ya, mereka jahat. Sayangnya dunia tidak terbagi hanya dalam dua sisi tersebut bukan? Selalu ada sisi lain yang menyertai, selalu ada sebab dan akibat. Intinya, manusia itu kalau sudah punya tujuan dan kepentingan akan melakukan hal-hal gila dan lucu.


Tak usah jauh-jauh mengambil contoh Krimi dan calon doktor tersebut, orang-orang di sekitarku pun unik dan lucu. Ada yang suka sekali membicarakan orang lain, ada yang suka sekali mengomentari penampilan orang lain, ada yang hidup terlalu santai seolah-olah dia tidak punya masa depan, ada yang haus perhatian, ada yang ingin diakui, ada yang tidak mau rugi tapi suka merugikan orang lain, ada yang biasa-biasa saja, ada yang terlalu ambisius, ada yang tidak punya rasa empati.

Hal-hal tersebut wajar, namanya juga manusia. Masalahnya dikembalikan pada diri sendiri, apakah kita mau hidup sebagai manusia yang membawa banyak kerugian daripada manfaat? Apakah kita mau bercapek-capek menjalin silaturahmi dengan orang-orang yang negatif pada kehidupan kita? Semua keputusan kan kembali pada diri sendiri.

Aku pun begitu. Sebelum jadi aku yang sekarang ini, aku adalah seburuk-buruk manusia. Lingkungan keluargaku berpengaruh besar dalam pembentukan karakterku. Percayalah, kamu nggak akan mau berteman dengan diriku yang dulu. Aku pun malu. Bahkan aku pun kadang suka tersenyum sekaligus sedih mengingat kelakuanku yang dulu. Hal-hal buruk yang kusampaikan di paragraf sebelumnya ada dalam diriku yang dulu. Lucu sekali kan?

Iya manusia memang lucu. Bisa jadi seseorang yang dulunya sangat baik berubah jadi seseorang yang sangat jahat di masa depan, begitupun sebaliknya. Pertemanan juga begitu, ada sahabat yang baik saat butuh saja, ada sahabat yang tulus, ada juga sahabat yang baik di depan tapi buruk di belakang. Kalau aku sih maunya semua orang straight-forward, jelas apa mau dan maksudnya tapi dunia tidak berjalan demikian. Kalau semua orang tegas, jelas, dan tidak manipulatif tak akan ada politisi di muka bumi ini.

Kadang aku pun suka heran pada manusia (terutama orang Indonesia) yang sangat awas pada setiap kesempatan kecil untuk mengambil keuntungan. Aku juga melakukan hal itu tapi ketika tahu ada orang lain yang mengambil keuntungan dengan cara yang bahkan tidak bisa kunalar, aku bingung harus marah atau terperangah. Contohnya: aku mengambil keuntungan dengan menjadi penerima beasiswa dengan cara melakukan manajemen keuangan untuk keperluanku pribadi (nonton konser, pulang ke Indonesia, jalan-jalan). Ternyata ada banyak sekali orang-orang di luar sana yang mengambil keuntungan jadi penerima beasiswa meskipun sebenarnya orangtuanya lebih dari mampu untuk membiayai kuliahnya di luar negeri, jadi allowance beasiswa digunakan untuk foya-foya. Lalu ada juga yang mengambil celah beasiswa agar dia mendapatkan tunjangan lebih banyak di masa mendatang meski sebenarnya kesempatan tersebut bisa diberikan pada orang lain.

Cara-cara licik itu sering kutemui dan kudengar ketika aku studi di sini dan aku lagi-lagi tidak tahu harus memberi tepuk tangan atau menasihati mereka. Mungkin yang paling pas adalah memberi tepuk tangan, apresiasi bahwa saking liciknya mereka bisa melakukan hal-hal yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya.


Manusia itu benar-benar lucu. Kalau sudah baik maka individu tersebut akan menjadi seperti malaikat, kalau sudah jahat maka individu tersebut bisa membuat setan protes pada Tuhan, "Manusia melakukan hal-hal buruk atas kemauan mereka sendiri tanpa aku hasut tapi mengapa aku yang kekal di neraka?"

Ada juga manusia lucu lain yang mulai jumawa ketika dia merasa sudah di atas angin. Menjadi populer, mendapatkan banyak perhatian dan pujian, seolah-olah jadi diri sendiri padahal dia sebenarnya haus perhatian saja. Contoh nyata: banyak utas tidak masuk akal yang jadi viral di sosial media (terutama twitter). Apakah ketenaran di dunia maya itu sebegitu memabukkannya? Lalu apakah feed instagram orang lain itu benar-benar membuat kita jadi iri pada orang tersebut?

Ada sejumlah temanku yang mengaku bahwa mereka stop main instagram karena merasa iri dengan pencapaian orang lain di sosial media tersebut. Kuakui instagram memang ajang pamer tapi kenapa dengan hal itu? Mengapa kita harus iri atas pencapaian orang lain padahal kita sudah punya jalan kita sendiri? Mengapa kita harus iri kalau orang lain jalan-jalan sementara kita berada di rumah saja? Mengapa harus iri pada pakaian bagus atau feed bagus teman? Instagram kan cuma Instagram, orang lain hanya ingin menunjukkan apa yang ingin dia tunjukkan pada orang lain, kita nggak tahu bahwasanya dia kesusahan di kehidupan nyata bukan?

Bicara soal manusia memang tidak ada habisnya. Ketika kamu semakin berumur maka semakin banyak manusia unik yang bermunculan di hidupmu. Pilihannya adalah kamu tetap menjaga dirimu di jalan yang benar atau jadi orang yang bermasalah juga pada akhirnya.

Aku pun menulis hal ini bukan berarti aku menganggap diriku sudah baik dan benar. Tidak. Aku kadang masih berbuat hal-hal yang tidak berintegritas, melanggar aturan agama, menjadi brengsek. Aku menulis ini sebagai pengingat, siapa tahu orang-orang yang kuanggap 'lucu' itu ternyata adalah diriku sendiri. Jadi, tulisan ini bisa jadi pengingat di masa mendatang bahwa aku pernah menertawakan manusia-manusia unik dan lucu di sekitarku dan seharusnya aku tak jadi seperti mereka.

Comments