"Dating Around": a Guide for Blind-Dating Culture


Suatu hari, Mas Adjuy bertanya di grup chat kira-kira ada tayangan bagus dan binge-worthy tidak? Mulanya Mas Adjuy bertanya soal SKY Castle tapi aku jelaskan bahwa tayangan tersebut cukup berat dan agak bikin frustasi. Lalu muncullah Mbak Ayod yang nimbrung dengan jawaban Dating Around. Netflix series satu ini lebih tepat disebut sebagai reality show ketimbang series. Konsep acaranya adalah dokumentasi blind date seseorang, tidak ada wawancara khusus pada lakon utama, intinya mengenai kultur Blind Dating yang tidak biasa di Indonesia. Karena aku sedang tertarik dengan Blind Dating (dan mencari jodoh) akhirnya aku tonton juga Dating Around.

Dating Around terdiri dari 6 episode dengan durasi masing-masing 25-30 menit. Cast dari acara ini juga cukup diverse, mulai dari pria heteroseksual, janda, gay, hingga duda tua. Oleh sebab itu aku hanya butuh waktu dua hingga tiga hari untuk menamatkan acara Dating Around ini.

Bersetting di Kota New York, Luke tengah mencoba blind dating dengan 5 orang wanita. Luke ini merupakan sosok opening acara yang membuat siapapun bakal merasa bahwa Dating Around menarik dan memutuskan untuk lanjut bingewatching (re: ganteng banget). Di episode awal bersama Luke kita sudah diperkenalkan ke tiga segmen blind date: Drinks, Dinner, After Dinner. Di sesi drink, obrolan dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar diri masing-masing. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan umum seperti pekerjaan, asal darimana, kesibukan, hobi, dan interest. 

Luke

Setelahnya dilanjut dengan Dinner untuk mulai melihat kebiasaan makan lawan bicara. Di episode Luke, ada seorang gadis yang begitu outgoing bahkan dia tidak malu mengakui kalau dia makan banyak dan bersuara. "Ya ini adalah aku, aku suka makan bersuara macam ini sebagai bentuk aku menikmati makanan itu. Apakah kamu keberatan?" Alih-alih merasa jijik, Luke mencoba untuk terbuka pada kebiasaan yang bagi sebagian orang terasa mengganggu tersebut (termasuk aku). Di segmen Dinner ini, aku jadi belajar bagaimana seorang teman kencan bisa dinilai dari cara mereka memesan makanan. Dominan dan berprinsip merupakan mereka yang bisa dengan cepat memutuskan hendak pesan apa. Submissive bagi mereka yang lebih menyerahkan pilihan pada teman kencan. Ada juga yang memilih untuk memutuskan bersama.

Kalau aku lihat, di Dating Around ini keputusan mengenai jenis minuman yang dipilih dalam segmen drinks dan makanan dalam segmen Dinner juga menentukan karakter seseorang. Termasuk gesture dan juga cara menjawab pertanyaan. Ada orang-orang yang dengan mudah bisa nyambung dengan Luke, ada juga yang dari awal sudah terlihat kalau mereka tidak bisa meneruskan dating ini. Biasanya, setelah Dinner baru akan ketahuan apakah cast utama akan lanjut minum lagi. Bila tidak lanjut, biasanya lawan bicara akan memanggil taksi dan pergi. Di episode pertama, Luke dicium oleh dua wanita yang berbeda setelah dinner. Hal tersebut menunjukkan ketertarikan dan kenyamanan menurutku namun bisa jadi berarti berbeda bagi si cast utama. Sebagian orang berpikir bahwa kencan pertama hanya digunakan untuk menggali identitas, kencan kedua bicara hal yang agak berat, kencan ketiga baru bisa kontak fisik seperti ciuman. Well, masing-masing punya penilaian sendiri sih.

Setelah puas dengan kisah kencan kilat Luke di episode pertama yang happy ending, muncul twist di episode kedua. Pada episode ini, seorang wanita keturunan India-Punjab yakni Gurki berusaha untuk menemukan tambatan hati. Gurki dikisahkan adalah seorang janda berusia 30-an akhir. Secara finansial, Gurki terlihat mandiri dan stable. Di segmen perkenalan, Gurki menyinggung masa lalunya yakni pernikahan yang tidak berhasil.

Gurki

Aku baru tahu juga bahwa seseorang bisa bertanya atau bercerita mengenai kehidupan percintaan sebelumnya di kencan buta ini. Gurki contohnya, dia bercerita bahwa dia sudah berpacaran dengan mantan suaminya sejak muda. Sama seperti kebanyakan orang Asia lain, pacaran lama artinya harus menikah dengan orang yang sama. Padahal tidak demikian. Ada kalanya hubungan yang sudah lama terjalin tidak menjamin keharmonisan rumah tangga juga. Gurki juga menyinggung pernikahan kedua orangtuanya yang ternyata dijodohkan tapi masih bertahan hingga saat ini. Intinya sih lama hubungan tidak dipengaruhi dari lama masa pacaran atau kenalan, when you think it's right then it is. Kalau aku pribadi sih lebih suka berpacaran dulu satu atau dua tahun baru menikah, I can't marry a guy I just know shortly.

Masa lalu Gurki ini lantas berkaitan dengan plot utama di episode dua. Diceritakan bahwa salah seorang pria yang Gurki kencani beradu argumen dengannya. Namun karena kesalahpahaman serta perbedaan prinsip, malam kencan yang seharusnya indah justru jadi malam yang menyebalkan bagi Gurki. Dari hal ini aku belajar bahwa kita bisa lho memancing orang berargumen di kencan pertama dan menilai apakah orang tersebut merupakan sosok berkepala dingin atau sebaliknya. Bila dari awal sudah terlihat keras kepala dan berpikiran tertutup, kita bisa dengan mudah mengakhiri hubungan tanpa harus memulai. Bukankah ini manfaat dari kencan buta? Mengenal complete stranger sebelum kita memutuskan untuk memulai hubungan dengan si dia bukan?

Di episode Gurki, endingnya tidak bisa ditebak. Pada akhirnya wanita satu ini memilih untuk tetap menjadi single meski sudah menemui 5 pria dalam kencan buta.

Lex

Episode selanjutnya merupakan episode favorit Mbak Ayod, cast utamanya adalah seorang production designer gay bernama Lex. Lex ini merupakan gaysian alias gay dari ras Asia. Kalau dilihat dari mukanya sih aku menduga bahwa Lex ini masih Japanese decent karena fiturnya lebih Japanese daripada Chinese atau Korean. Meski gay, Lex tidak terlihat terlalu melambai malah menurutku porsi femininity dan masculinity Lex berimbang. Di satu sisi Lex terlihat soft tapi di sisi lain dia lebih maskulin dari teman kencan gay-nya.

Sama seperti cast di episode-episode sebelumnya, Lex juga menemui 5 orang teman kencan dari latar belakang yang berbeda. Lex kentara sekali dalam memberikan pelajaran soal kencan buta di acara ini. Dengan pendekatan tak kentara, Lex mampu menggali informasi-informasi sensitif tentang teman kencannya. Misalnya: "Sejak kapan kamu mengaku kalau kamu gay?" dari situ secara tidak sadar masing-masing teman kencannya memberikan jawaban yang dielaborasi dengan menarik dan luas. Lex juga tampak seperti seorang pendengar yang baik, dia lebih sering melontarkan pertanyaan daripada menceritakan tentang dirinya sendiri.

Yang aku suka dari episode Lex adalah aku bisa belajar mengenai bonding pasangan gay. Ternyata pasangan gay tidak selalu feminim salah satunya, keduanya bisa saja manly atau feminim. Dan aku lebih melihat mereka sebagai teman minum bareng daripada teman kencan. Tidak ada flirty jokes atau semacamnya, diskusi mereka lebih personal dan dalam. Aku juga suka pembawaan Lex yang trendi, segar, dan unik tapi tetap down to earth. Ada satu teman kencan Lex yang sebenarnya bikin ilfil tapi Lex tidak mengatakannya secara verbal, hanya melalui gesture. Meski teman kencannya ini ngilfili sekalipun, Lex tetap memuji penampilan teman kencannya. Satu hal lagi yang kuperhatikan di acara Dating Around ini, baik cast maupun si teman kencan tidak pelit pujian. Memang sih kultur di negara-negara Barat begitu, sebisa mungkin berbicara positif dan complimenting person daripada menghina (sungguh sangat berbeda dengan negaraku).

Si teman kencan Lex ini menyadari bahwa sebenarnya Lex tidak tertarik padanya, "I keep telling you about my self but you don't. So, I guess you're not attracted to me. Just say yes and let's be friends." Lex pun mengiyakan ucapan teman kencannya ini. Hal ini berarti bahwa bila kita berkencan dan hanya salah satu pihak saja yang lebih banyak bicara, berarti kita memang tidak menarik perhatiannya. Dalam beberapa kasus, pasangan yang baik adalah pasangan yang bisa mengimbangi pembicaraan lawan bicara.

Dari 5 teman kencan Lex, sebenarnya aku sudah bisa melihat chemistrynya dengan dua orang yakni Cory dan Brad. Aku awalnya mengira bahwa Lex akan memilih Brad karena Brad lebih maskulin dan juga asyik untuk diajak bicara. Pada akhirnya, Lex menjatuhkan pilihan pada Cory, cowok flamboyan yang tinggi dan tampan. Memang sih kalau dilihat-lihat Lex memiliki lebih banyak chemistry dengan Cory daripada Brad.

Leonard

Setelah ikutan bahagia dengan cerita Lex, Dating Around dilanjutkan ke episode baru dengan cast Leonard. Kali ini cast utamanya bukan lagi lajang muda yang usianya sekitar 20-40 tahunan, Leonard merupakan Duda yang ditinggal istrinya karena meninggal dunia. Di episode Leonard ini, aku baru tahu bahwa Widower itu berbeda dengan Divorced. Widower lebih merujuk ke cerai mati, sementara Divorced ya cerai karena kesepakatan.

Sama seperti episode-episode sebelumnya, Leonard juga memiliki 5 orang teman kencan yang rata-rata hampir seumuran dengannya. Wanita-wanita yang ditemui Leonard cukup beragam, mulai dari seorang diva yang sudah kawin cerai 3 kali, hingga wanita hingga usia senja tak kunjung menikah. Di episode ini aku belajar bahwa ternyata nggak cuma orang Indonesia yang bisa bolak-balik kawin-cerai dan aku juga jadi melihat betapa manisnya PDKT ala Kakek-Nenek. Terus terang episode Leonard ini adalah episode yang paling aku suka.

Usianya sudah senja tapi Leonard masih bisa jadi sosok gentleman nan romantis. Cerita-cerita yang timbul antara dirinya dan teman kencannya juga membuatku jadi ikut merasakan zaman mereka masih muda dulu. Tidak jarang mereka menyinggung rock n roll, tren hippies, penggunaan narkoba di zamannya dan lain-lain. Bahkan Leonard sempat mengaku pada seorang wanita yang sangat religius bahwa dirinya adalah pengguna LSD. Mendengar pengakuan Leonard, wanita itu langsung berpikir untuk tidak meneruskan hubungannya dengan pria yang setia pada satu orang wanita ini.

Kencan ala Kakek-Nenek ini entah mengapa terasa lebih imut dan sopan bagiku. Tidak ada flirting berlebihan, perlakuan old school banget, lalu melihat Kakek-Nenek jalan berdua begitu rasanya menimbulkan rasa hangat di hati. Sebenarnya dari 5 orang yang dikencani Leonard, ada dua yang menurutku paling cocok dengannya. Yang satu adalah Franchine dan yang satu adalah Ibu beranak satu. Namun ending kisah Leonard ini sungguh di luar dugaanku, dua kandidat yang menurutku mungkin bisa jadi pendamping Leonard malah tidak masuk kriterianya. Leonard justru berakhir dengan Dianne, seorang wanita berkulit hitam yang mengaku tidak pernah mengencani pria berkulit putih.

Caption

Usai dimanja dengan kisah hangat nan manis Leonard, Dating Around berlanjut ke kisah Sarah. Sosok Sarah merupakan wanita kuat yang paling aku suka sepanjang reality show ini berlangsung. Cewek berambut pendek ini memiliki fashion sense yang bagus dan juga cerdas. Tingkat intelejensi Sarah terlihat dari respon dia terhadap percakapan lawan bicara, keterbukaan diri, cara menggali informasi, dan jokes yang dia lontarkan. Dikisahkan, Sarah sudah berulang kali mencoba menjalin cinta tapi selalu gagal karena kerap kali bertemu orang yang salah. Di episode ke-5 Dating Around ini, Sarah mencoba untuk menemukan sosok pria yang tepat.

Seperti biasa, percakapan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti asal dan pekerjaan. Yang membuatku sedikit heran, pekerjaan sebagai real estate agent berkali-kali disebutkan dalam acara ini, apakah hampir setengah warga New York bekerja sebagai agen flat dan kamar kos? 

Kalau di episode Luke lempeng-lempeng saja, di episode Sarah ini masalah timbul ketika salah satu teman kencannya kerap kali menyinggung humor porno. Awalnya Sarah masih menoleransi hal tersebut, "You're such a headache but a cute headache." Lama-kelamaan secara tidak sadar teman kencan ini semakin menyinggung hal-hal pornografi lagi pada seorang stranger, tentu saja Sarah tidak tahan memilih untuk meninggalkan pria tersebut bahkan sebelum pesanan mereka datang. It's never okay to tell a dirty jokes to stranger.

Ada satu lagi pria Jamaica yang awalnya terlihat sopan tapi sempat melontarkan jokes porno juga. Dalam kencan tersebut, Sarah dan teman kencan Jamaicanya ini memesan salad. "I'll get the Jalapeno for you." Sarah belum ngeh dengan candaan satire tersebut, baru setelah "Jalapeno, no tip." Sarah memahami bahwa maksud pria tersebut adalah penis! Aku juga baru sadar setelah cukup lama mencerna alasan kenapa Sarah tiba-tiba jadi bad mood.

Untuk episode Sarah ini, aku sudah menduga akan ada dua kandidat kuat. Yang pertama, pria teman kencannya ini punya banyak kesamaan dengan Sarah. Lucunya lagi, keduanya sering banget bilang sesuatu secara bersamaan (jinx). Aku sudah menduga kuat bahwa Sarah pada akhirnya akan memilih cowok tersebut karena mereka berdua sepertinya sama-sama nerd. Ternyata aku salah, Sarah justru memilih cowok yang bekerja sebagai programmer. Yah pilihan Sarah kali ini mungkin tidak sepenuhnya salah karena cowok berbaju oranye tersebut merupakan sosok yang jauh lebih reserved dan mengimbangi sifat outgoing Sarah.

Mila
Yang terakhir ada Mila, seorang lesbian yang bekerja di bidang fashion. Bila tadi kita sudah melihat bagaimana seorang pria gay berkencan maka kali ini kita melihat gaya wanita gay berkencan. Pendekatan yang dilakukan oleh Lex dan Mila cukup berbeda. Bila Lex berhasil mengulik bagian terdalam seseorang dengan pendekatan yang smooth, Mila justru terlihat lebih reserved dan lamban. Episode Mila ini cenderung terlihat seperti curhatan antar sesama perempuan. Karena kebanyakan teman kencan yang ditemui Mila lebih banyak bercerita mengenai perjuangan mereka sebagai seorang lesbian/biseksual dan juga latar belakang mereka berubah orientasi.

Mila tidak terlalu banyak menyinggung tentang dirinya sendiri, Mila justru lebih banyak mendengarkan. Dengan mendengarkan itu, mungkin Mila akan jadi lebih tahu banyak mengenai kepribadian pasangannya hingga dia menambatkan hati pada sosok wanita yang ada di foto di atas. Sebelum menjadi lesbian, cewek yang lebih pendek dari Mila tersebut mengaku pernah pacaran. Hasrat lesbiannya baru muncul setelah menonton film yang mempertontonkan tubuh wanita, "Saat itu aku merasa kok ternyata aku lebih tertarik pada wanita ya? Dan aku memikirkan hal itu cukup lama hingga aku bilang pada orangtuaku bahwa aku lesbian."

Yang berbeda di episode Mila ini adalah after dinner. Bila di episode-episode sebelumnya after dinner indentik dengan minum lagi, Mila mengajak pasangannya sekedar jalan-jalan dan memakan es krim di food truck. Bisa dicontoh dan diterapkan untuk kultur Indonesia, dessert never wrong tho. Bahkan kamu juga jadi bisa menilai seseorang dari rasa es krim apa yang dia suka, lebih suka cone atau cup, dan yang jelas (bagiku) apakah dia suka berbagi?

Menonton Dating Around ini tidak hanya mengajariku untuk jadi cewek mempesona seperti Sarah atau mandiri seperti Gurki, acara ini juga tidak hanya berfokus pada interaksi romantis saja. Ada beberapa orang yang justru setelah kita temui hanya bisa dijadikan teman, ada orang-orang yang complete dickhead pada seorang stranger, ada orang yang benar-benar full of herself, dan macam-macam. Semakin lama aku menonton Dating Around, semakin aku bisa mengobservasi orang yang berbeda dalam scope kecil. Dari acara ini juga aku banyak belajar mengenai bagaimana cara membangun percakapan dengan lawan bicara atau tidak jadi baper meski berada dalam situasi 'kencan'.

Namanya juga blind dating kan? Masalah jadi atau tidak jadi itu urusan nanti. Yang penting, kita harus belajar seni untuk mengenal seseorang dalam waktu yang terbatas.

Budaya kencan di Indonesia memang tidak seperti ini. Berdasarkan observasi dan pengalaman pribadiku, orang-orang Indonesia lebih cenderung memilih orang-orang yang familiar, dekat dengan lingkungan mereka. Mungkin karena pepatah Jawa "Witing trisno jalaran seko kulino (cinta ada karena terbiasa)." tapi seiring waktu aku jadi berpikir untuk mencoba hal baru, salah satunya adalah blind dating. Aku ingin bisa mencoba untuk membuka hati pada complete stranger, yang karakternya baru aku ketahui setelah aku bertemu dengannya untuk makan malam.

Jujur saja, sebelum aku pergi ke London lingkunganku tidak se-menarik itu untuk dieksplorasi. Yang pertama karena lingkungan pertemanan di Malang itu sempit. Temanku SD bisa mengenal temanku SMP, temanku kuliah ternyata merupakan kenalan dari temanku SMA dan begitu seterusnya. Bila aku memutuskan untuk berputar-putar di Malang saja dan memulai cinta dari kebiasaan (yang mana ya dari lingkungan pertemananku), aku yakin aku tidak akan menemukan sosok yang tepat. Aku baru sadar kalau aku menemukan sosok yang benar-benar aku inginkan waktu aku ada di London.

Setelah menonton acara Dating Around ini, keinginanku untuk ikutan blind dating jadi semakin menjadi-jadi. Entah siapapun itu, bisa temanku atau siapapun kalau ada yang ingin kenalan denganku boleh saja tapi harus ketemu dulu ya. Nanti akan aku kulik sampai habis :)

Syaratnya sih jangan berekspektasi apa-apa dulu, yang penting bertemu, ngobrol, dan bersenang-senang.

P.S: Selain memberi arahan untuk scope blind dating, Dating Around ini juga bisa jadi acuan bagi seseorang untuk mulai PDKT lho.

Comments

  1. blind dating di negara ini nyeremin haha, entahlah mungkin aku yang parnoan sama orang yang belum dikenal atau gimana, takut dijahatin secara kriminal (walaupun orang yang dikenal juga nggak menutup kemungkinan untuk ini), jaman semakin edan aku harus ekstra hati-hati

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)