Mengingat London: Sistem Pembayaran #Hari2Jenius

UK Retail Bank - cr: Wall Street Journal

Salah satu hal yang membuatku sangat mencintai London adalah kemudahan teknologi, terutama dalam sistem pembayaran dan transportasi. London disebut sebagai kota dengan banyaknya jasa Fintech di dunia alias world leading fintech area (1). Tak heran dong kalau di London sistem pembayaran sudah begitu mudah, efektif, dan efisien. Saat di London, aku nggak perlu memiliki akun terpisah untuk melakukan pembayaran. Semua bisa dilakukan hanya dengan mendaftarkan kartu visa/mastercard/american express debit/kredit di semua akun yang membutuhkan pembayaran. Berbeda dengan Indonesia yang menyediakan begitu banyak pilihan dompet elektronik seperti Go-Pay, OVO, T-Cash, Link Aja, Dana, dan lain-lain.

Sebenarnya aku sudah pernah menyinggung soal pembayaran tidak terintegrasi dan membandingkannya dengan sistem pembayaran di London dalam tulisan berikut ini:


Namun dalam tulisan tersebut, aku tidak menjelaskan secara detail apa saja yang membuat sistem pembayaran di London sangat memudahkan generasi cashless seperti aku. Maka dari itu simak penjelasanku di bawah ini ya.

SISTEM PEMBAYARAN

CONTACTLESS
Hampir semua kartu ATM yang diterbitkan oleh perbankan di London bersifat contactless. Apa artinya? Kamu bisa menggunakan kartu tersebut (baik visa/credit card) tanpa harus memasukkan chip kartu ke dalam mesin EDC. Konon tingkat keamanan debit/credit card contactless jauh lebih tinggi karena kamu tidak perlu memasukkan nomor PIN ke EDC serta meminimalisir pencurian data akibat swipe kartu pada mesin (2). Keamanan sistem kartu contactless ini terjamin karena pencuri data kartu harus benar-benar mencuri kartumu atau bisa melihat kode CVV di balik badan kartu, yang mana kemungkinan hal tersebut terjadi sangatlah kecil. Ditambah lagi, transaksi menggunakan kartu contactless ini diberi batasan sebesar £30 saja. Sehingga bila kartumu ada kemungkinan dicuri, si pencuri tidak akan bisa mengambil dana lebih dari £30 dari tabunganmu kecuali dia mengetahui PIN kartumu.

Kabar baiknya, salah satu Bank Virtual di Indonesia mulai menerapkan sistem contactless ini. Sayangnya sistem yang satu langkah lebih maju ini tidak didukung oleh infrastruktur. Bank tersebut adalah BTPN Jenius. Kartu debit yang diterbitkan oleh Jenius sudah mengadaptasi sistem contactless sehingga membuat transaksi jauh lebih aman dibandingkan dengan kartu-kartu terbitan bank konvensional lain. Kalau kamu sudah menyadari manfaat kartu contactless, aku yakin kamu akan tertarik untuk membuat akun di Jenius.

Contactless Payment - cr: Daily Mail


APPLE PAY/ANDROID PAY INTEGRATED
Karena sudah mengadaptasi sistem contactless, perbankan di UK jauh lebih advanced lagi dalam sistem pembayaran mereka dengan terintegrasi pada Android/Apple Pay. Dalam bertransaksi sehari-hari, kamu tidak perlu mengeluarkan kartu lagi. Kamu hanya perlu tap smartphone kamu pada EDC yang disediakan. Hal ini terhitung lebih aman karena kamu tidak perlu mengeluarkan kartu debit/credit tapi ada risiko bila smartphone kamu dicuri oleh seseorang. Tentu saja data-data perbankan kamu akan dengan mudah diakses oleh pihak pencuri smartphone tersebut. Beruntung iOS dan juga Android kini memiliki fitur verifikasi password dulu di bagian setting sehingga kemungkinan data perbankan kamu terlindungi jadi lebih tinggi.  Dengan Apple/Android Pay integrated pula, ketika kamu mengunduh in-app purchase transaksi akan semakin mudah dilakukan. Kamu hanya perlu memberikan verifikasi sidik jari atau memasukkan password saja dalam transaksi digital tersebut.

Sangat berbeda dengan metode contactless yang dianut oleh sejumlah Fintech Indonesia seperti Go-Pay, OVO, dan Dana yang mengharuskan kamu untuk melakukan scanning pada barcode EDC mereka yang terpisah. Kamu juga harus memecah dana yang kamu miliki ke masing-masing akun yang berbeda. Kalau ditelaah lagi, kamu akan jadi selalu merasa bahwa dana yang kamu punyai tidak banyak karena akun yang terpisah tersebut sehingga akan lebih susah bagimu untuk mengontrol pengeluaran sehari-hari. Apple/Android Pay yang terintegrasi langsung dengan debit/credit contactless tidak demikian, kamu masih bisa melakukan kontrol pengeluaran karena saldo di akun tabungan kamu tidak dipecah ke beberapa pos yang berbeda.

UNIVERSAL EDC
Hampir semua merchant di UK (contoh: London) hanya menggunakan satu EDC saja dan EDC tersebut sudah dilengkapi dengan fitur contactless. Meski demikian, masih ada sejumlah tempat dan biasanya owner merchant tersebut adalah keturunan Asia/China yang tidak menerima pembayaran card-based atau menggunakan EDC berbeda yakni Alipay. Hanya satu jenis mesin EDC yang digunakan ini berarti sistem pembayaran di UK telah mengadaptasi sistem universal EDC. Tidak peduli bank apapun yang digunakan oleh konsumen (HSBC, Barclays, Lloyds, Monzo, Tesco) EDC yang digunakan tetaplah sama. Sangat berbeda dengan sistem pembayaran di Indonesia yang masing-masing bank memiliki EDC sendiri sehingga tidak jarang ketika belanja di suatu merchant, kamu akan menemukan paling tidak dua EDC.

Penggunaan universal EDC ini kemungkinan berkaitan dengan standardisasi perbankan di UK. Bila Indonesia baru-baru ini mengadaptasi sistem Gerbang Pembayaran Nasional untuk transaksi bebas biaya (3), UK sudah menerapkan hal tersebut bertahun-tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, cukup satu EDC yang digunakan, bebas biaya transaksi dan bebas jumlah minimum pembayaran. Bayangkan bila dengan diterapkannya GPN di Indonesia lambat laun akan mempermudah sistem pembayaran seperti yang dipraktikkan di UK ini. Tentu saja turnover uang akan jadi lebih cepat dan ekonomi akan semakin berkembang pesat.

Universal EDC - cr: express.co.uk

NON-TRANSACTION FEE
Seperti yang sudah disinggung di poin sebelumnya, sistem pembayaran antar-bank di London hampir tidak mengenakan biaya administrasi kecuali tipe akun bisnis dan transaksi tertentu (4). Pada dasarnya meski kamu melakukan transfer antar-bank (sesama UK bank) maka kamu tidak akan dikenai biaya transfer lagi. Ketika kamu menarik tunai di sejumlah ATM (yang bertuliskan free transaction), maka kamu tidak akan dikenai biaya penarikan tunai dan itu berlaku bebas di ATM bank manapun. Contoh: kamu adalah nasabah Barclays dan hendak menarik uang tunai di ATM Lloyds, kamu tidak akan dikenakan charge untuk penarikan uang tunai tersebut selama mesin bertuliskan 'Free Transaction', begitupun sebaliknya.

Biasanya transaction fee baru akan dikenakan ketika kamu menggunakan kartu debit/credit di luar negeri (UK). Contohnya ketika aku berpergian ke Eropa dan berbelanja menggunakan kartu debit Barclays, maka Barclays akan mengenakan charge ditambah dengan currency rate yang nantinya akan disesuaikan sesuai dengan jumlah pembayaran saat belanja. Transaction fee juga biasanya baru dikenakan dalam transaksi overdraft, tapi selama overdraft tidak lebih dari batas yang ditentukan oleh Bank terkait maka tidak akan ada charge lebih.

Karena UK menganut sistem non-transaction fee antar-sesama-bank-UK ini, bunga yang diberikan juga termasuk kecil. Bunga ini akan diberikan pada akhir/pertengahan bulan tapi rate-nya sangat rendah bila dibandingkan dengan rate bunga perbankan Indonesia.

Di Indonesia, satu-satunya bank yang bebas transaction fee seperti di UK adalah Jenius. Dengan membuka tabungan Jenius, kamu akan bebas dari biaya administrasi tiap bulan. Ada fitur bebas transaksi antarbank pula. Sayangnya di Jenius bila saldomu tidak melewati limit yang ditetapkan, fitur bebas transaksi antar-bank ini tidak bisa diterapkan. Memang sih kamu akan tetap dikenai biaya transaksi transfer, tapi sekitar dua minggu berikutnya biaya transfer ini akan kembali.

OVERDRAFT
Serunya lagi ketika kamu memiliki akun bank di UK adalah keberadaan fitur overdraft. Layanan ini memungkinkan kamu untuk bertransaksi meski saldo yang ada di tabunganmu kurang dan aku cukup sering menggunakannya (5). Batas overdraft yang diberlakukan oleh Barclays (serta rata-rata bank lain) adalah £15 per bulannya. Contoh: aku lupa mengecek saldo di akun tabunganku tapi aku berbelanja untuk kebutuhan harian £20. Ternyata saldo di tabunganku masih ada £10 namun pembayaranku masih diterima oleh kasir karena bank memperbolehkanku untuk melakukan overdraft sebesar £10. Hal ini baru ketahuan ketika aku mengecek saldoku keesokan hari atau di waktu yang mendatang, oleh sebab itu usahakan sering mengecek saldo tabungan secara berkala.

Di Indonesia, pembayaranmu akan ditolak bila saldo tidak mencukupi tapi tidak dengan di UK. Kemungkinan adanya sistem overdraft ini adalah sistem pembayaran di UK rata-rata sudah menganut Direct Debit yaitu pemotongan langsung oleh merchant ketika kamu melakukan pembayaran (6). Saat belanja atau membayar tagihan, saldomu akan otomatis berkurang karena sistem ini. Dengan catatan, kamu dengan sadar memberikan informasi kartu debit/kredit untuk bertransaksi.

STANDARDIZED UI/UX
Aplikasi mobile banking untuk hampir semua perbankan di UK juga memiliki user interface yang seragam. Mungkin warna dan template berbeda antar satu bank dengan bank lain tapi pada dasarnya fitur yang disediakan hampir sama. Apalagi nasabah juga bisa memecah rekening mereka ke dalam bentuk saving account tanpa kartu dan tanpa membuka akun tabungan baru lagi. Dulu aku memiliki tiga saving account terpisah yakni: Regular account untuk transaksi sehari-hari, Saving account 1 untuk menyisihkan uang sewa rumah, saving account 2 untuk tabungan pribadi, saving account 3 untuk menyisihkan uang sisa allowance dari LPDP. Dengan memiliki pos tabungan pribadi dalam satu account tersebut, aku jadi bisa mengontrol berapa banyak budget yang harus aku keluarkan per bulan. Namun tidak semua orang memiliki pengaturan keuangan sepertiku, ada yang hanya memiliki satu saving account saja kok.

Karena persamaan UI/UX ini, nasabah jadi bebas memilih bank manapun untuk digunakan. Tidak ada perbedaan signifikan dalam mobile UI begitu pun dengan fiturnya. Jadi, pasar/nasabah benar-benar bisa memilih dengan bebas sesuai dengan preferensi mereka. Berbeda dengan perbankan Indonesia yang memiliki UI/UX berbeda, contohnya: BRI hanya perlu autentikasi PIN sementara BCA dan Mandiri perlu dua kali autentikasi.

Yang menarik, di Indonesia hanya Jenius yang memiliki UI/UX mirip dengan bank retail di UK. Memang ada sedikit modifikasi tapi Jenius tidak lagi menyediakan buku tabungan, cukup statement online yang bisa diakses pada aplikasi seperti gambar di bawah ini. Nasabah juga bisa melakukan pemecahan saving account tanpa harus bikin account baru lagi di bank. Jenius abis kan?
Barclays UI - cr: boagworld


CHALLENGER BANK
Karena pesatnya pertumbuhan Fintech di UK, pilihan perbankan jadi semakin luas. Bila sebelumnya Bank Retail merajai pasar, maka kini muncul Bank Challenger. Bank Challenger ini merupakan perbankan virtual yang tidak mensyaratkan pengguna untuk membuka akun melalui kantor cabang (branch). Analoginya, BTPN Jenius adalah Challenger Bank di Indonesia, meski sebenarnya Jenius belum bisa sepenuhnya disebut sebagai Challenger Bank. Sebelum resmi di-launch di pasar, Challenger Bank UK (Monzo, Starling, Tesco Bank) harus melalui screening yang dilakukan oleh Financial Conduct Authority (FCA) dan memenuhi deposit yang disyaratkan oleh lembaga keuangan terkait yakni Prudential Regulation Authority (PRA). Perbedaan challenger bank dengan bank retail UK konvensional adalah pada jumlah aset serta deposit yang mereka miliki (7).

Selain itu challenger bank juga tidak memiliki kantor (branch) fisik, dalam membuka akun kamu hanya perlu registrasi secara online serta mengirimkan scan/foto identitas, sangat mirip dengan BTPN Jenius. Secara pribadi, aku sebenarnya tidak bisa menyebut Jenius sebagai challenger bank karena dia juga masih berada di bawah Bank BTPN yang memiliki aset cukup besar sebagai bank konvensional di Indonesia.

Salah satu kelebihan challenger bank, khususnya Monzo adalah bebas biaya transaksi di luar negeri. Monzo merupakan salah satu perbankan yang menganut sistem no-barrier banking sehingga Monzo tidak menarik biaya transaksi yang cukup tinggi saat digunakan di luar UK. Monzo juga menyediakan perkiraan currency rate ketika digunakan untuk bertransaksi di kawasan Eropa/luar UK. Sangat memudahkan bukan?

METODE PEMBAYARAN

Selain kemudahan sistem pembayaran seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam hal berbelanja sistem di UK juga sangat nyaman untuk digunakan lho. Apalagi terdapat pilihan bagi anak-anak introvert seperti aku yang kurang suka berinteraksi dengan orang lain. Seperti apa saja sih kemudahan yang ditawarkan oleh merchant retail di UK?

SELF-CHECK OUT MACHINE
Aku baru menyadari bahwa aku kadang merindukan mesin self-check out ini ketika aku membeli sesuatu di Alfamart/Indomaret. Di UK, ketika kamu berbelanja di convenience store akan ada dua macam kasir yakni kasir berupa manusia seperti yang sering ditemui di Alfa/Indomaret dan juga kasir otomatis berupa mesin. Hampir 99% ketika aku berbelanja, aku selalu menggunakan self-check out machine ini karena lebih cepat, tidak antre panjang, dan tentu saja tidak berhubungan dengan orang lain. Untuk menggunakannya, aku hanya perlu meletakkan belanjaan di sisi kanan lalu memindai barcodenya sendiri dan memindahkannya ke sebelah kiri (kadang bisa sebaliknya). Begitu selesai aku hanya perlu memencet perintah check out/pay di layar sentuh yang disediakan dan menempelkan (tap) kartu/smartphone. Sesederhana itu!

Waralaba makanan siap saji seperti McDonald juga sudah mengadaptasi sistem self-check out ini (saat ini di Indonesia masih terdapat di Sarinah Jakarta saja). Untuk memesan aku tidak perlu repot-repot antre di kasir dan memesan order, aku hanya perlu berdiri di mesin, memencet pesanan ini dan itu, lalu membayar dengan contactless card/phone. Setelah itu nota akan keluar berisikan order, nomor antrean, dan juga voucher bonus (biasanya).

Kalau ditanya apakah sistem serupa bisa diterapkan di Indonesia? Bisa, asalkan tingkat keamanan juga diperketat. Misalnya dengan menempatkan pendeteksi barang curian di dekat pintu masuk/keluar dan juga perlu ditempatkan security di pintu masuk/keluar. Selain itu, penerapan sistem self check-out ini juga lebih efisien terhadap penempatan pekerja non-skilled. Bila dipertimbangkan lagi, kemungkinan sistem modern seperti ini baru bisa diterapkan di Indonesia bertahun-tahun yang akan datang, mengingat demografi unskilled labour masih cukup tinggi dibandingkan dengan UK.

McDonald Self Service Machine
Sainsburry self-checkout

INTEGRATED OYSTER CARD CONTACTLESS
Sebelumnya telah kujelaskan manfaat dan kemudahan yang ditawarkan oleh debit/credit card contactless. Mengetahui hal ini, Transport for London membuka kerja sama dengan perbankan retail untuk menjaring lebih banyak nasabah salah satunya dengan integrasi contactless dan TfL Oyster. Untuk Student, penggunaan photocard Oyster memang jauh lebih murah dan menjadi solusi yang paling plausible dibandingkan dengan penggunakan contactless. Namun bagi warga umum, menggunakan contactless bisa jadi solusi yang lebih hemat karena ada weekly cap sehingga biaya perjalanan dihitung lebih murah. Selain itu, nasabah umum tidak perlu memisahkan pos pengeluaran transportasi dari personal saving account mereka. Tambahan lagi, integrasi ini juga memudahkan bagi siapapun yang kebetulan tidak suka membawa terlalu banyak kartu atau bagi mereka yang kebetulan lupa meninggalkan Oyster card mereka di rumah.

EASY ONLINE TRANSACTION
Yang kumaksud sebagai easy online transaction adalah kita tidak perlu repot-repot transfer ke rekening penjual. Karena kartu debit/credit sudah memiliki kode CCV/CVV, maka pembayaran online hampir seluruhnya dilakukan dengan sistem direct debit seperti yang telah kujelaskan sebelumnya. Begitu kita beli sesuatu, merchant akan memotong saldo kita secara otomatis dan barang akan dikirim setelahnya. Sangat mudah bukan?

Tentu saja dengan catatan bahwa merchant/penjual online adalah pihak yang jujur dan adil. Mereka pasti akan mengirimkan barang yang kita pesan. Selain itu, sistem perbankan Inggris sudah cukup canggih sehingga tindakan penipuan jualan online dengan metode direct debit (terutama pada merchant populer) dapat dengan mudah ditelusuri. Sistem pengawasan transaksi di UK juga sudah jauh lebih canggih daripada sistem penjaminan transaksi yang Indonesia miliki.

Tidak dipungkiri lagi, bila semua bank konvensional Indonesia mulai bekerja sama dengan MasterCard/Visa dalam penerbitan kartu debit maka Indonesia juga akan menerapkan sistem yang sama. Saat ini hanya Jenius yang bisa digunakan sebagai alat bayar easy online transaction alias dapat dengan mudah di-direct debit karena sudah memiliki kode CVV. Hal ini juga sebenarnya yang membuatku suka pada Jenius, sebagai kartu debit contactless visa Jenius bisa digunakan untuk transaksi online internasional tanpa kartu kredit. Sangat memudahkan!

#HARI2JENIUS BERSAMA JENIUS CONNECT

Karena sudah terbiasa dengan kemudahan pembayaran di UK selama setahun belakangan, aku sebenarnya sempat khawatir akan kehilangan kemudahan itu di Indonesia. Beruntung sebelum pulang ke Indonesia, dua orang temanku mengenalkanku pada Jenius. Jauh sebelum Jenius jadi populer pada tahun 2019 ini, temanku sudah memberitahukan betapa oke-nya fitur Jenius. Temanku ini kebetulan sempat menggunakan Jenius untuk naik bus (sebagai pengganti Oyster Card) dan bertransaksi di London, hal ini disebabkan oleh kartu visa debit Jenius yang sudah berbasis contactless. Berbeda dengan kartu debit bank lain yang tidak bisa digunakan di London, Jenius mempelopori hal tersebut. Sayangnya, kartu sakti Jenius ini masih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh Jenius agar menjadi semakin terdepan dan semakin dicintai masyarakat cashless sepertiku, di antaranya:

CURRENCY EXCHANGE INFO BASED ON LOCATION
Fitur satu ini sebenarnya sudah dimiliki oleh Monzo (selaku challenger bank di UK) tapi masih belum dimiliki oleh Jenius. Menurut pengakuan temanku, rate currency yang ditawarkan Jenius sudah cukup bersaing bahkan terbilang terjangkau. Sayangnya, Jenius belum memiliki fitur informasi currency exchange sesuai dengan negara yang dituju berbeda dengan Monzo. Saat aku menggunakan Monzo untuk keliling Eropa, secara otomatis aplikasi Monzo akan mendeteksi lokasi yang aku kunjungi. Lalu Monzo akan memberikan informasi nilai tukar dari Poundsterling ke mata uang negara yang bersangkutan. Bila fitur ini ditambahkan pada aplikasi Jenius, tentu saja akan semakin banyak ekspatriat dan juga nasabah Indonesia yang sering berpergian ke luar negeri jadi terbantu.

Monzo Currency Exchange Rate - cr: Monzo

SPENDING BUDGET
Jenius memang telah memiliki fitur Maxi Saver dan Dream Saver untuk memudahkan nasabah mencapai target saving yang diinginkan. Tapi Jenius belum memiliki fitur Spending Budget sebagai bentuk pengendalian nasabah terhadap pengeluaran bulanan mereka. Fitur budgeting ini sebenarnya cukup membantu, apalagi untuk orang seperti aku yang cenderung membuang-buang uang selagi masih memiliki saldo. Untuk membuat seseorang jadi lebih aware terhadap budget bulanan, sangat perlu juga dilakukan integrasi behavioural finance dalam fitur ini. Seperti yang sudah aku jelaskan dalam tulisan berikut ini:


Sebagai pionir perbankan modern (dan sangat milenial), aku berharap Jenius bisa menambahkan fitur budgeting dalam aplikasi mereka. Hal ini lambat laun akan membantu milenial untuk lebih sadar akan manajemen keuangan pribadi dan menghindari sandwich generation di masa tua nanti.

Monzo Budget Spending feature - cr: Monzo

INTEGRATING WITH MRT/TOLL PAYMENT
Saat ini pengguna Jenius sudah mencapai angka 700.000 (8) dan bisa diasumsikan bahwa lebih banyak di antara pengguna Jenius tersebut merupakan warga Ibukota. Dua orang teman pengguna Jenius yang juga mempengaruhiku untuk membuka akun adalah warga kawasan Ibukota DKI Jakarta, sementara Jenius baru mulai merambah ke kota-kota lain pada tahun 2018 hingga awal tahun 2019 ini (termasuk Kota Malang, domisiliku). Dari asumsiku tersebut, bisa dilihat bahwa peluang Jenius untuk jadi perbankan yang terdepan semakin luas. Khususnya di bidang pembayaran transportasi.

Berbekal fitur contactless, seharusnya Jenius bisa berperan seperti debit/credit contactless perbankan UK yakni terintegrasi dengan sistem pembayaran KRL/TransJakarta/MRT/e-Toll. Saat ini, pembayaran transportasi publik di Jakarta terbatas pada kartu KRL, Jaklingko, serta uang elektronik bank konvensional lain (Flazz, Brizzi) dan menurutku pribadi kurang efisien. Lagi-lagi karena aku harus memecah pos pengeluaran lagi dan membuat uangku tersebar di banyak akun. Bila Jenius bisa memanfaatkan fitur contactless ini dengan maksimal dan jadi kartu debit pertama yang bisa digunakan untuk naik KRL/MRT/TransJakarta, pasti akan ada lebih banyak nasabah yang terjaring karena tingginya convenience dalam penggunaan Jenius.

Tentu saja masyarakat tidak perlu membeli uang elektronik yang terpisah atau kartu KRL yang terpisah. Langkah yang sangat cerdas bukan?

INTEGRATED WITH APPLE/ANDROID PAY
Yang terakhir, bila Jenius sudah bisa digunakan di berbagai macam EDC contactless (tanpa pandang bulu milik bank apapun) maka fitur integrasi dengan Apple/Android Pay ini juga akan semakin membantu. Saat ini, tidak banyak EDC contactless yang ditemukan di Indonesia sehingga fitur contactless Jenius justru useless bila digunakan di negara sendiri. Apalagi Jenius juga tidak menyediakan EDC contactless mereka pribadi sehingga keberadaan fitur contactless yang sangat kusukai ini jadi tidak berguna. Harapannya, bila Jenius berhasil berintegrasi dengan fitur tapping transportasi publik Jakarta atau dengan fitur EDC contactless lain di seluruh Indonesia, maka nantinya penggunaan kartu Jenius bisa diminimalisir. Jadi semakin aman dengan pembayaran menggunakan Apple/Android Pay tanpa harus mengeluarkan kartu. Bebas dari kejahatan kriminal dan pencurian kode CVV juga. Aku yakin hal-hal ini sangat mungkin untuk diwujudkan oleh Jenius sebagai bank paling modern di Indonesia. Memang tidak sekarang tapi nanti!

Jadi, untuk kalian yang masih ragu membuka akun Jenius tunggu apalagi? Untuk saat ini Jenius sudah menyediakan fitur yang satu langkah lebih maju dibandingkan dengan bank lain. Jangan mau ketinggalan, kita juga bisa kok punya sistem pembayaran yang mudah dan efektif seperti di UK!

Jenius - cr: KartuPos

P.S: bila ada informasi yang tidak tercakup dalam tulisan ini, silakan tambahkan di kolom komentar. Tulisan ini juga bisa jadi media untuk membuka diskusi mengenai Fintech dan perbankan di Indonesia.

Comments

  1. Google Translate couldn't fully convey your content but it is such a dedicated post! Great work, girl!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)