Solo Trip Pertama di Asia Tenggara, Melipir ke Singapura


Ada suatu masa ketika aku merasa benar-benar impulsif dan ingin menyegerakan tercapainya bucket list. Ketika pulang ke Indonesia, aku sudah bertekad untuk memulai travelling Asia Tenggara. Entah itu sendirian atau beramai-ramai dengan teman, harapanku sih aku tidak akan travelling sendirian lagi tapi yah kondisi kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bertepatan dengan bucket list: berkeliling Asia Tenggara, ada rezeki cukup yang kudapatkan di penghujung tahun 2019 ini. Tanpa pikir panjang, aku menyegerakan niat jalan-jalan dengan destinasi pertama: Singapura. Alasannya karena dekat dan bisa disambangi hanya dalam waktu 2 hari saja alias dijadikan weekend getaway.

Akhirnya kupilih tanggal 22 November 2019 sebagai jadwal keberangkatanku ke Singapura. Mengapa tidak di awal November atau bulan Desember sekalian? Semua karena aku harus jeli dalam menempatkan jadwal. Akhir-akhir ini, unit tempatku bekerja cukup sibuk karena harus menghasilkan sebuah dokumen strategi perusahaan. Deadlinenya akhir tahun ini, maka dari itu tak heran juga aku sering bolak-balik Bandung-Bogor untuk menyelesaikan dokumen tersebut. Di saat load pekerjaan sedang naik, tingkat stress juga naik. Aku berpikir, tak ada salahnya dong mencuri-curi waktu di tengah kesibukan dengan harapan aku akan bisa bekerja lebih produktif di minggu berikutnya?

Awalnya aku berencana untuk pergi berempat dengan teman-temanku, salah satunya teman kosan yang juga sama-sama bekerja di Direktorat. Dua lainnya adalah temannya temanku di Direktorat yang sama, tapi aku kenal mereka juga. Seiring waktu berjalan, masing-masing orang memiliki agendanya sendiri-sendiri. Teman kosanku ini juga kondisi badannya sedang tidak fit, sehingga mereka cabut satu-satu dari rencana jalan-jalan ke Singapura. Seperti yang sudah-sudah, lagi-lagi aku pergi sendirian. Banyak sekali yang bertanya padaku: "Sendirian banget?" hingga aku lelah menjawab "Iya sendirian." Padahal hal ini sudah sangat biasa kulakukan. Dari dulu sampai sekarang, aku suka jalan sendirian pun.

Begitu tekad sudah bulat, waktu rasanya berjalan begitu cepat. Padahal aku sengaja beli tiket jauh-jauh hari ternyata hari H pun tiba secara mendadak. Hingga H-1 sebelum keberangkatan, aku terbilang belum 100% siap Solo Travelling lagi. Apalagi ini adalah solo trip pertamaku di Asia Tenggara. Banyak kekhawatiran berkecamuk di kepalaku, apakah nanti akan aman? Apakah nanti aku tidak akan melakukan kebodohan seperti yang sudah-sudah? Apakah nanti aku bisa kembali dengan selamat? Rasa grogi bercampur cemas membuncah bahkan mengalahkan solo trip pertamaku di Eropa yang penuh dengan ketidakhati-hatian.


Well, pada akhirnya semua berjalan sesuai dengan waktunya.

Hari Jumat itu kebetulan sekali rekan satu unit di kantor pergi ke Bogor untuk workshop CSS. Dan kebetulan sekali aku tidak diajak ke Bogor, untuk kali pertama! Mungkin semesta mendukung rencanaku pergi ke Singapura saat itu. Kondisi kantor sepi, hanya tinggal sekitar 5 orang rekan kerja, membuatku leluasa cabut lebih awal untuk mengejar penerbangan pukul 8 malam dari Cengkareng. Jam 3 sore aku pamit pulang, hanya berbekal carrier, naik ojek ke stasiun BNI City lalu naik KA Bandara yang hanya memakan waktu sekitar 45 menit saja. Begitu sampai di bandara, seperti biasa aku check in dengan santai lalu duduk-duduk di lounge sembari menunggu boarding. Alhamdulillah, tidak ada tanda-tanda aku melakukan kebodohan.

Begitu masuk pesawat pada pukul 8 malam, seperti biasa aku langsung tertidur hingga pesawat landing di Changi Airport pada pukul 11. Karena sudah mengecek transportasi lewat CityMapper, aku sudah memutuskan untuk memesan grab saja begitu sampai di Singapura. Karena nervous, apalagi masuk Singapura tidak membutuhkan visa aku jadi agak canggung ketika melewati border check. Aku lupa mengisi kartu deklarasi, aku sempat merasa itu tidak penting karena menganggap bahwa Singapura adalah negara tetangga. Ternyata mereka masih mensyaratkan siapapun untuk mengisi kartu itu dulu. Begitu sampai di border check, aku diminta kembali keluar untuk mengisi kartu deklarasi ini. Usai mengisi, aku baru boleh masuk lagi dan diizinkan untuk menginjakkan kaki secara resmi di Singapura. It wasn't as bad as I thought it's gonna be.

Entah mengapa, begitu landing di Changi rasanya pikiran jadi kacau karena kerinduan akan Eropa sekaligus kebingungan karena pertama kali solo trip di Asia Tenggara bercampur jadi satu. Singapura ini aneh, dia punya suasana Eropa yang sangat kental tapi dia masih berada di Asia. Sisi kanan kiri Changi mengingatkanku saat aku baru pertama kali mendarat di Heathrow dulu. Mungkin saat ini memang aku lebih fasih dan familiar tapi rasa excitement-nya masih ada. Excitement karena aku akhirnya bertemu dengan kondisi yang sudah kurindukan sejak hampir setahun ini.

Lolos dari border check, aku melihat jam tanganku. Memastikan apakah masih sempat untuk makan Shaek Shack di Jewel? Karena aku sudah tahu lebih dulu bahwa Shake Shack memang berada dekat sekali dengan bandara. Begitu keluar dari pintu bandara, aku langsung celingukan melihat tanda-tanda burger yang menjadi alasanku terbang ke Singapura itu. Beruntung! Begitu keluar aku langsung melihat papan besar Shake Shack. Aku langsung naik ke lantai 2 dan mendapati bahwa Shake Shack sudah tutup! Pupus sudah harapanku untuk makan Shake Shack di hari itu. Otakku berputar cepat, kalau begini caranya berarti aku baru bisa makan Shake Shack ketika aku hendak pulang ke Indonesia.


Aku sebenarnya sempat kepikiran untuk tidur di bandara saja daripada langsung cabut ke Hostel. Kemudian aku teringat bahwa hal itu hanya akan membuang-buang uang saja karena aku sudah membayar hostel untuk kutinggali dua malam. Tanpa punya pilihan lain, aku memesan Grabcar seharga SGD 30 (Rp 300 ribu). Thanks to God, I've been sparing budget for my Singapore Trip this time. Dan beruntungnya, Grabcar masih terbilang jauh lebih murah daripada taxi bandara biasa. Supir Grabcar-ku juga tergolong baik hati dan tidak sombong. Kami bercerita cukup banyak hal, termasuk aku yang bertanya soal sistem ERP di Singapura yang sempat viral beberapa bulan lalu. Berbekal penjelasan dari Grab driver ini, aku nantinya juga akan sedikit lebih paham mengenai sistem ERP yang rencananya bakal diterapkan di Jakarta mulai tahun depan. Tapi apakah implementasinya sama? Sepertinya tidak. Selain menjelaskan soal ERP, supir Grab ini juga menjadi guide yang baik. Dia menunjukkan sejumlah lokasi wisata, tempat belanja, dan tempat makan murah. Sedikit banyak aku jadi punya gambaran akan kemanakah aku besok pergi? Walaupun sebenarnya aku juga sudah menyiapkan itinerary, penjelasan driver ini sangat membantu.

Aku menginap di OSS Backpackers Hotel, terletak di kawasan Lavender, cukup dekat pula dengan stasiun MRT terdekat. Salah satu tips yang paling penting dalam pemilihan tempat menginap adalah: 1) dekat dengan stasiun/halte bus; atau 2) dekat dengan pusat perkotaan. Kebetulan OSS Backpackers Hostel ini juga cukup dekat dari Bugis Junction. Memang sih bentukannya tidak sebagus yang kuharapkan, tapi masih oke lah. Apalagi resepsionis yang jaga di hari itu juga ramah, Reda namanya. Mukanya mirip-mirip dengan Maher Zain gitu. Dia menjelaskan peraturan dan menunjukkan jalan masuk ke Hostel dengan sangat ramah. Bahkan dia sempat memuji kemampuan bahasa Inggrisku, "You speak English very well," katanya. Aku membalasnya dengan "Thank you," dalam hati berkata "Well, I lived in UK tho." Hostel yang kutempati ini kecil sekali, maklum tarifnya hanya Rp 200 ribu semalam. Tidak sebagus hostel-hostel yang pernah kutinggali di Belgia, Jerman, atau Belanda sih tapi masih okelah. Kamar yang kutempati diisi 4 bunk bed, kamar mandi sharing di satu lantai. Tidak seperti hostel yang pernah kutinggali sebelumnya, kamar mandi berada di tiap ruangan. Jadi agak lebih was-was sih.




Mengapa oh mengapa harga penginapan di Singapura mahal sekali?

Esok hari, aku bangun jam 8 pagi dan langsung bergegas. Aku sudah niatkan untuk tidak bermalas-malasan karena jadwalku cukup padat. Bagaimana tidak? Aku hanya punya waktu satu hari setengah di Singapura. Bila tidak dikejar dari pagi, aku tidak akan sempat kemana-mana. Begitu bangun, aku langsung mandi, siap-siap, dan sarapan. Sarapan di OSS Backpackers Hostel tidak terlalu enak to be honest, sungguh berbeda dengan pengalaman hostelku selama di yurop. Namun setidaknya aku pergi dengan perut terisi. Usai sarapan, aku jalan ke arah stasiun MRT terdekat dan menuju tujuan pertama yakni Merlion Park! Karena ini Singapura, tentu saja landmark-nya adalah Merlion.

Begitu turun di stasiun Raffles Place, aku menemukan gedung-gedung Central Business District seperit yang pernah diceritakan Mas Hudi padaku. Aku memilih untuk jalan-jalan sesuai arah angin saja, mumpung udara pagi itu masih sangat segar. Aku berhenti dan duduk-duduk di pinggir sungai, lalu memotret rombongan Schwรคrze Piet di gondola. Hingga detik itu aku masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Singapura selaku negara tetangga punya vibe Eropa yang meledak-ledak dan udaranya jauh lebih bersih dari Jakarta? Padahal sebenarnya Central Business Districtnya tidak terlalu berbeda jauh. Jalanannya juga sama-sama lebar. Tapi di Singapura jarang sekali terjadi kemacetan. Malam sebelumnya, aku sempat terjebak macet pasca keluar Bandara. Sang supir Grab berkata, "This rarely to happen. There must be something wrong that we're stuck in traffic like this," ujarnya. Begitu tahu bahwa terjadi road diversion, si supir menjelaskan lebih lanjut, "It must be VVIP coming to this country, those police rarely do a road diversion like this unless a big politician or important person is coming." Now you know!

Kembali ke pembahasan udara segar tadi, saking jarangnya pengendara mobil, Singapura jarang macet!

Duduk-duduk di tepian sungai dekat dengan Fullerton Hotel sedikit banyak mengingatkanku pada London Southbank. Apalagi setelah aku berjalan menyusuri sungai untuk menuju Merlion Park dan sampai di sana. Wah, vibe-nya benar-benar Tower Bridge banget!



Merlion Park kala itu sudah penuh sesak dengan para turis. Kukira aku akan tiba di waktu yang tepat karena masih pagi, ternyata turis-turis itu datang lebih pagi dariku. Dan sudah seperti yang kalian duga, banyak sekali turis Indonesia di sekitaran Merlion. Dengan cuek, aku foto-foto sendiri dan berjalan menyusuri tepian sungai, sekaligus mencari jalan kira-kira manakah jalan menuju Artscience Museum? Tujuanku selanjutnya.



Liburan ke Singapura kemarin sebenarnya lebih terencana daripada perjalanan-perjalananku sebelumnya. Yang mana aku lebih mengikuti kemana arah kaki melangkah. Kemarin berbeda, aku sudah mempersiapkan itinerary. Begitu puas berputar-putar di Merlion Park dan berfoto di sana-sini, aku langsung memperhitungkan waktuku untuk ke tujuan berikutnya: Artscience Museum. Maklum, Agista anak museum memang apalagi museum art dan science. Karena setelah dari Artscience, aku merencanakan makan siang di Nando's dan jalan-jalan di Arab Street. Baru setelah itu ke Orchard untuk membeli iPhone titipan temanku. Malamnya, aku berencana untuk pergi ke Clarke Quay menikmati vibe night market mereka. Tapi rupanya rencana terakhirku gagal.

Begitu menemukan ArtScience Museum, tanpa pikir panjang aku langsung membeli tiket di self-service machine. Terima kasih atas Visa Debit contactless Jenius yang mempermudah perjalananku di Singapura, akan kupastikan bahwa kemanapun aku pergi aku akan menggunakan Jenius. Bagaimana tidak? Naik MRT, aku tidak perlu beli tiket city-pass tapi cukup tap visa debit contactless Jenius saja. Beli tiket ArtScience Museum juga demikian, cukup tap tanpa perlu gesek atau memasukkan pin. Jenius BTPN memang mantap djiwa! #bukanendorse #tapikalaudifeaturetidaknolak.

Aku sudah memutuskan untuk masuk ke ekshibisi Future World ArtScience saja, meskipun ada juga ekshibidi 2219 dan Disney World. Berhubung aku sedang tight budget, aku hanya memperbolehkan diriku pilih salah satu saja. Begitu masuk Future World, aku tidak menyesal! Aku suka dengan ekshibisi di dalamnya, meskipun sedikit mainstream. Maksudku, pertunjukan macam itu sedang in saat ini, jadi sebenarnya bisa ditemukan dimana-mana. Well, karena aku sudah memuaskan rasa penasaran jadi aku tidak menyesal-menyesal amat.





Selepas dari ArtScience Museum, aku tidak langsung pergi mencari makan siang walau sudah sangat kelaparan. Posisi ArtScience masih dekat dengan Gardens by The Bay dan Marina Bay Sands, jadi ya aku melipir sedikit sekaligus mencari stasiun MRT terdekat yakni Bayfront. Berlapar-lapar tidak apa-apa lah yang penting kan bucket list ticked! Padahal sebenarnya aku juga tidak masuk ke Flower Gardens atau jalan-jalan di Skywalk Tree Grove tapi karena dua hal ini merupakan ikon Singapura, jadi sayang aja kalau nggak dikunjungi sekalian. Ketika berada di kawasan Tree Grove, aku merasa seperti berada di St.  James' Park versi summer. Memang nggak semirip itu sih, tetap saja rasanya nostalgic. Jadi ingat perkataan salah seorang teman, "Kalau lagi kangen yurop, ke Singapur aja." Rupanya dia benar.

Puas berfoto-foto dengan bukti Tree Grove dan Marina Bay Sands, aku bergegas menuju Bayfront station yang tak jauh dari situ. Apalagi cuaca sudah mulai mendung, aku takut jika semakin lama mengulur waktu, maka aku akan kehujanan. And I don't want to get wet! Rupanya di terowongan menuju ke Bayfront station, ada sejumlah kaca-kaca cantik. Mirip seperti King's Cross ketika ada instalasi London Lumiere, mirip juga dengan salah satu stasiun yang pernah kufoto di Belgia. Agista memang underground freak!





Akhirnya setelah puas berputar-putar di sekitaran Merlion Park, Garden By The Bay, Marina Bay Sands, dan ArtScience Museum, aku kembali ke Bugis. Mengapa kusebut kembali? Karena memang satu stop MRT lagi sudah di hostel tempatku menginap. Setelah mengecek CityMapper, rupanya Nando's terdekat berada di Bugis Junction. Tanpa pikir panjang, aku langsung keluar stasiun dan berusaha menemukan Nando's, salah satu alasanku pergi ke Singapura akhir pekan lalu.

Memang sih Nando's tidak seenak itu, tapi ayam ini setidaknya mengobati rasa kangenku pada London. Di London sendiri ada ayam piri-piri yang rasanya jauh lebih enak daripada Nando's, namanya Pranzoss. Pranzoss ini restoran kecil banget, bukan franchise besar seperti Nando's yang bisa ditemukan dimana-mana di London. Namun ayamnya selalu bikin kangen, apalagi coleslawnya. Aku memesan chicken butterfly dengan sides: coleslaw dan mashed potato (di Singapura diganti cauli mashed), menu andalanku sejak aku kenal Nando's di London dulu.

Begitu duduk di restoran, melakukan pesanan, menunggu makanan disajikan, hingga menyantapnya, rasa kangenku sepertinya tak berkesudahan. Memang begini rasanya kalau sedang jatuh cinta dengan sesuatu dan gagal move on. Kenangan-kenangan indah itu berputar dengan cepat di kepala #okeinilebay. Yah, meskipun aku tidak tahu kapan bisa kembali ke London dan benar-benar mengunjungi Pranzoss setidaknya Nando's yang kumakan tempo hari bisa mengganjal kerinduan ini. Kalau dipikir-pikir lagi, pergi ke London tampak jadi sangat mustahil. Apalagi bisa kembali ke sana. Apakah bisa aku kembali ke sana untuk sekolah atau tinggal selamanya di sana?


Puas makan Nando's aku memilih untuk jalan-jalan di Bugis Junction yang sangat mirip dengan Paris van Java-nya Bandung ini. Sekalian mampir beli Thai Tea yang enak banget ya Allah! Dan juga mampir ke Sephora, siapa tahu aku khilaf membeli lipstik Kat Von D atau menemukan foundation Bare Minerals kan ya? Ternyata aku cuma khilaf beli lip balm Burt's and Bees yang nggak ada di Indonesia saudar-saudara. Aku juga sempat mampir ke toko oleh-oleh yang dipenuhi dengan turis Indonesia, ramenya minta ampun! Setelah aku mengambil sejumlah barang, ternyata mereka hanya menerima cash. Jadi aku mengurungkan niat dan kembali esok hari. Benar saja, saat aku kembali keesokan harinya sebelumn terbang kembali ke Indonesia, tokonya sepi banget. Jadi aku bisa leluasa memilih barang dan membayar sejumlah oleh-oleh yang kumaksud itu. Ingat, toko oleh-oleh ini ada di Bugis Junction dan dikunjungi oleh banyak sekali turis Indonesia (rata-rata emak-emak berjilbab dan Bapak-Bapak).

Puas berjalan-jalan di Bugis Junction, aku bersyukur lagi-lagi tidak ada kebodohan yang kulakukan. Sampai aku terpeleset lalu landing dengan pose yang sangat aneh. Jalanan licin karena hujan waktu itu dan aku menggunakan sepatu converse. Tahu kan sol converse licin seperti apa kalau digunakan berjalan pasca hujan? Untungnya tidak ada seorangpun yang melihat.

Kenyang sudah, berkeliling di Merlion Park sudah. Sekarang saatnya mencari Haji Lane di Arab Street. Bugis dan Arab Street jaraknya cukup dekat sih. Jadi aku cukup jalan kaki beberapa blok saja dan sampai! Sebenarnya aku tidak terlalu amazed dengan keberadaan Chinatown atau Arab Street, karena di Malang pun juga ada pecinan dan Embong Arab. Tapi aku penasaran mengenai spot foto-foto populer Haji Lane ini. Sayangnya, tipikal Agista ketika tidak berhasil menemukan Haji Lane, aku justru menemukan Gelam Galeri. Dan daripada berjalan lagi, aku stuck di Gelam Gallery dan berfoto-foto dekat Masjid Mustafa.




Hari itu aku berjalan 20 ribu langkah, perjalanan terakhir ditutup di Orchard Road bukan di Clarke Quay karena aku harus beli titipan teman berupa iPhone 11. Ada dua orang yang titip padaku, satu memberiku uang cash sebesar SGD 1100, bayangkan betapa insecurenya aku membawa uang sebesar itu di dompet dengan tas tote bag. Chance-ku kecopetan hampir 1000% pemirsa! Namun kadang Agista memang lucky bastard, hingga aku sampai di tokonya, uang tersebut masih aman terjaga dan iPhone 11 berhasil dikantongi. Temanku yang membeli via transfer bank juga begitu. Awalnya kami sempat khawatir apakah bisa pakai debit card atau tidak karena biaya charge bisa sampai SGD 45 (Rp 450.000). Kan sayang ya? Eh ternyata tokonya menerima transfer BCA -_-

Untuk kali pertama, aku berkunjung ke Far East Plaza (bukan Far East Movement) di Orchard, melewatkan Kinokuniya yang masuk ke itinerary. Far East lebih mirip dengan Mangga Dua Jakarta atau Gajahmada Plaza di Malang. Berisi toko-toko kecil menjual handphone dan gadget-gadget lain. Harga iPhone yang dijual di toko seperti ini lebih murah dari yang dijual di Apple Store karena exclude GST (PPN Singapura) tapi bukan berarti bebas pajak Indonesia saudara. Begitu pulang dan ketahuan membawa dua kardus iPhone, Agista tetap ditagih pajak sejumlah Rp 5 juta ha ha ha ha.

Untuk kali pertama, aku langsung membayar dengan uang cash SGD 1100 (Rp 11 juta) dan membeli dua batang iPhone! Saat itu aku gemetaran hebat karena merasa seperti penjual handphone pasar gelap. Apalagi kondisi pertokoan agak sepi, penjaga toko perempuan, aku harus mengecek dua buah iPhone yang harganya tidak murah. Gimana nggak nervous?

Karena ingin segera selesai, aku menginspeksi iPhone tidak secara mendetail. Yang penting kamera, sound, passcode, fisik oke, Face ID bisa, dan IMEI sama aku jadi percaya-percaya saja. Semoga teman-temanku yang nitip juga puas dengan handphone mereka. Mana mereka kena pajak juga lagi T.T

Begitu aku keluar dari toko hari sudah malam, keinginanku pergi ke Clarke Quay aku urungkan. Sekarang aku tidak cuma bawa uang cash SGD 1100 saja tapi membawa dua batang iPhone di totebag yang sangat tidak aman ini. Agar merasa aman, satu-satunya jalan adalah kembali ke hostel dan menyimpan iPhone di tempat yang aman. Akhirnya aku kembali ke Hostel lebih sore. Keinginanku nonton the dancing light juga terururungkan karena faktor keamanan ini.


Malam kedua di Singapura aku mulai merasa tidak enak badan, mulai bersin-bersin dan badan meriang. Apakah ini flu Singapura atau hanya sindrom tidak ingin pulang ke Indonesia? Sebab aku selalu mengalami gejala serupa setiap hendak terbang kembali ke Indonesia. Dulu di Inggris juga begitu, aku selalu meriang di hari H penerbangan menuju ke Indonesia. Beruntung aku juga sudah memutuskan untuk pulang lebih cepat jadi bisa istirahat lebih lama. Esoknya aku tetap bangun jam 8 dan tetap bergegas untuk pergi karena mengejar itinerary yang tersisa sebelum boarding.

Tujuan pertama adalah membeli oleh-oleh di Bugis, di toko yang kukunjungi di hari sebelumnya dan sudah menyiapkan cash. Aku tidak sarapan di Hostel karena berniat untuk antre Hawker Chan. Namun keinginan tidak selalu berbanding lurus dengan realita, aku tidak bisa menemukan Hawker Chan. Yaiyalah, aku cuma muter-muter di Bugis nggak ke Chinatown makanya tidak ketemu. Akhirnya aku membeli masakan Indonesia di pasar yang terletak di kawasan Bugis juga. Kututup sarapanku dengan Milo dingin yang ya Allah kenapa sih Milo Malaysia/Singapura itu enak banget?

Aku berniat untuk mampir ke Kinokuniya sebelum menuju stasiun MRT Bugis, untuk kedua kalinya aku berputar-putar di Bugis Junction. Namun Agista kehabisan pulsa data dan roaming jadi buta arah dan tidak berhasil menemukan Kinokuniya #kebodohanAgistake102983702. Berhubung tujuan ditemukan, aku memutuskan untuk memangkas waktu dengan cabut ke bandara. Siapa tahu waktu luang yang kupunya masih bisa digunakan untuk memenuhi hasrat yang terakhir: makan Shake Shack.

Aku tiba di Jewel hampir mepet dengan waktu check in, yakni pukul 11 siang. Tidak mau membuang waktu, aku langsung berfoto sebentar di air mancur legendaris itu dan antre di Shake Shack. Petugasnya sempat bilang padaku bahwa Shake Shack tidak halal karena baconnya digoreng bersebelahan dengan patty, kubilang "It's okay, I'm fine with that." Agista memang anaknya agak rebelious. Well, kalau dosa yang besar saja berani aku lakukan masa aku gak berani makan patty yang digoreng di sebelah bacon sih? Lagipula besar atau tidaknya dosaku kan hanya Allah yang menentukan ๐Ÿ˜Œ.

Demi Shake Shack, maafkan hamba ya Allah!



Akhirnya setelah berhasil menunaikan niat untuk makan Nando's dan Shake Shack di Singapura, aku lega. Aku optimis bakal pulang dengan hati gembira dan badan sehat. Namun ternyata tidak demikian, weekend getaway yang juga merupakan reward karena sudah menjadi karyawan tetap ini justru malah membuatku drop. Menuju pulang ke Indonesia, badanku semakin meriang. Sampai di rumah, langsung demam, berlanjut ke hari berikutnya sehingga aku harus izin sakit pada atasan.

Tapi ya sudah, bodo amat. Yang penting sudah pergi ke Singapura dan bisa kembali ke Indonesia dengan aman, selamat, dan sentausa. Terima kasih Singapura. I will be back someday, in the next episode of reminiscing Europe life. Untuk saat ini, negara pertama sudah tercoret dari bucket list. Kemanakah setelah ini? Tunggu kisah-kisah perjalananku berikutnya di blog ini ya!



Comments

  1. gila kalo aku ya nolak dari awal mau dititipi beliin iphone di luar negeri hahahaha
    kirain bebas kebodohan 100% ternyata ada aja kalo ga kepleset ya lupa isi kartu xD
    akhirnya ada yang ke daerah bugis, aku ga sempat ke sana dulu, huhu emang kalo business trip sama traveling beda T_____T
    Well, kalau dosa yang besar saja berani aku lakukan masa aku gak berani makan patty yang digoreng di sebelah bacon sih? >> WAKAKAKAKAKAK GILA KAMU xD

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)