Review Buku: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2


Little did you know, few months ago I was diagnosed with mild depression.

Sebelum menemukan buku karangan Baek Se Hee ini di Gramedia, sebenarnya aku sudah sempat melihat covernya berseliweran di linimasa Twitter. Kukira buku ini adalah buku fiksi atau buku yang secara harfiah menceritakan si penulis ingin mati tapi masih ingin makan tteokboki. Namun ternyata asumsiku salah, saat berjalan-jalan ke Gramedia beberapa waktu lalu, aku melihat buku ini lalu membaca sinopsis di bagian belakang bukunya. Dikatakan seperti ini:

"Perjuangan Baek Se Hee untuk sembuh dari distimia masih berlanjut. Konflik batin yang dialaminya selama masa penyembuhan pun jadi lebih kompleks. I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki adalah catatan pengobatan Baek Se Hee yang berjuang mengatasi distimia-depresi ringan yang terus-menerus."

Kata kunci yang membuatku jadi bulat dalam membeli buku ini adalah: depresi ringan. Sebenarnya aku tidak pernah memasukkan buku ini ke dalam wishlist atau apapun, tapi begitu membaca kata kunci tersebut akhirnya aku tergerak untuk membelinya. Apakah buku ini memberikanku jawaban yang aku cari?

Ekspektasi ketika membaca buku ini sebenarnya tidak tinggi, mungkin aku cuma mencari jawaban atau mencari kesamaan dengan apa yang kubaca. Baek Se Hee, menariknya, menceritakan detil-detil proses penyembuhannya dengan kalimat-kalimat yang sangat relatable dengan apa yang kualami. Satu hal yang perlu aku apresiasi juga setelah membaca buku ini adalah si penerjemah memilih diksi yang nyaman untuk dibaca sehingga buku ini sangat bisa dinikmati dan memberikan efek menenangkan.

Awalnya aku pikir Baek Se Hee akan berbagi tips untuk melawan depresi atau berusaha sembuh. Ternyata tidak, memang benar seperti ulasan yang disampaikan di sampul buku "Proses penyembuhan itu unik dan individual." Dalam buku ini, Baek Se Hee juga menceritakan proses penyembuhannya dengan pendekatan yang sangat personal. Hal yang mungkin bekerja dengan baik baginya mungkin tidak bekerja bagi beberapa orang lainnya.

Namun selembar demi selembar halaman yang kubaca, aku bisa merasakan kesamaan karena kekhawatiran Baek Se Hee sebenarnya adalah kekhawatiran yang aku rasakan juga. Mulai dari perasaan insecure, perasaan ingin dicintai dan tidak mau ditinggalkan, perasaan marah karena harus menjadi orang lain, perasaan tidak puas, hingga perasaan kehampaan. Semakin banyak halaman yang kubaca, semakin aku memahami bahwa apa yang dihadapi oleh Baek Se Hee juga kuhadapi. Terutama di masa-masa WFH seperti ini. Ternyata memang aku menarik diri dari lingkaran sosial, aku mengasihani diri sendiri, atau aku memang sengaja mengusir orang-orang yang sebenarnya peduli padaku lalu aku terjebak dengan pikiran-pikiran rumitku sendiri. Beruntungnya, aku tidak sampai di tahap melukai diri sendiri seperti yang Baek Se Hee lakukan.

Baek Se Hee menyampaikan catatannya dalam bentuk transkrip percakapan dengan sang Psikiater disertai dengan tulisan pendek mengenai apa yang dia lalui dalam beberapa periode. Buku ini semacam jurnal pribadi Se Hee. Kita dibuat simpatik tapi di saat yang sama, kita juga belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena perubahan itu sebenarnya dimulai dari tekad, dari dalam diri sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk membuat diri kita bahagia, kita harus temukan kebahagiaan itu dari dalam diri kita sendiri.

Setelah membaca buku ini pun, aku juga jadi merasa bahwa aku sudah menyia-nyiakan orang yang mengkhawatirkan aku. Aku jadi lebih apresiatif terhadap diri sendiri. Dan secara tidak langsung, aku jadi menemukan cara untuk mengatasi rasa gelisah atau rasa tidak puas pada diri sendiri.

Selain pendekatan personal serta gaya bahasa yang membuat pembaca nyaman, Baek Se Hee memperlihatkan kecerdasan dan wawasannya melalui sejumlah literatur yang disebutkan dalam buku. Dia bahkan menuangkan pandangannya terhadap paham feminis dan bagaimana dia mengatasi insecurities yang dialaminya bertahun-tahun. 

Buku ini, aku rasa juga cocok untuk dibaca bagi orang-orang dengan permasalahan yang mirip seperti itu yaitu untuk orang-orang yang overthinking, orang-orang yang terlalu memikirkan perasaan orang lain, orang-orang yang merasa rendah diri, orang-orang yang merasa kesulitan tapi tidak tahu bagaimana harus bersikap. Psikiater yang dikunjungi oleh Baek Se Hee pun memberikan saran-saran yang sebenarnya caranya tidak menggurui, melainkan membimbing. Saat membaca percakapan antara Baek Se Hee dengan si Psikiater, kita bagaikan berbicara dengan diri sendiri. Bahwa sebenarnya kita memiliki jawaban atas pertanyaan namun kita hanya kurang rasional untuk mendengar jawaban itu. Apalagi Psikiater yang ditemui Baek Se Hee juga suportif dan memberikan suntikan kepercayaan diri yang dibutuhkan oleh orang-orang seperti Se Hee.

Untuk kategori buku self-healing, buku ini termasuk buku yang aku rekomendasikan. Sebab setelah membacanya hatiku terasa sedikit lebih ringan dan bebanku seolah terangkat. Buku ini, seperti yang sudah kujelaskan di atas, memberikan jawaban atas kegelisahanku. Mungkin buku ini juga akan memberikan jawaban yang kalian cari bila kalian tidak menemukannya. Jadi, bagi kalian yang sekarang sedang berada di fase "hidup segan mati tak mau" mungkin buku ini sedikit membantu. Dan tidak ada yang salah dengan beristirahat sebentar atau belajar dari pengalaman orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Walaupun sebenarnya membuat kesalahan juga tidak apa-apa karena pengalaman itu mendewasakan.

Comments

  1. Hi mba Agista,

    Sudah lama baca-baca tulisan mba, sepertinya baru kali ini saya meninggalkan komentar hehe. Salam kenal mba, saya salah satu yang menikmati tulisan mba sejak beberapa post ke belakang 😆

    Eniho, saya sudah baca buku ini juga, dan isinya sangat ringan namun penuh makna. Saya suka bagaimana cara penulis berbagi pengalamannya tanpa merasa digurui olehnya 😆 -- jika mba Agista merasakan apa yang penulis rasakan, semoga mba bisa overcome it yah. Semangat, mba 😍

    Keep writing, sharing and inspiring 💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you udah baca blog saya mbak hehe

      Mbak Eno (dari Creameno, boleh kan saya panggil begini?) sudah kali kedua meninggalkan komentar di blog saya. Atau mungkin kali ketiga kalau tidak salah hitung hehe

      Iya mbak, terima kasih banyak. Semoga apa yang dibagikan oleh si penulis bisa sedikit meringankan beban di hati juga dan membantu saya cepat sembuh :))

      Terima kasih sekali lagi karena sudah mampir ke blog saya :)

      Delete
  2. Pantesan covernya kok hitam, lha wong seri kedua. Yang pertama pink kalau nggak salah ya dan memang buku pertamanya mengindikasikan akan ada seri kedua kalau aku baca dari review orang lain. Semangat kakaknya!!!

    ReplyDelete

Post a comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)