Belajar untuk Melepas

 I have a problem in my head and things are getting worse.

Aku nggak tahu kenapa tahun 2020 ini rasanya berat sekali. Nggak cuma aku saja, yang jelas orang lain juga merasakan sama beratnya karena pandemi ini. Masalahnya mungkin aku adalah salah satu orang yang mengalami kesusahan adaptasi. Yang pertama, adaptasi di model kerja WFH pas pandemi. Yang kedua, adaptasi dengan lebih banyak berdiam diri di dalam rumah. Jangan salah, dari awal sebenarnya aku lebih suka berada di dalam rumah. Hanya saja, selama pandemi mungkin aku jadi lebih terisolasi?

Dulu meskipun aku nggak terlalu suka keluar rumah, selalu ada rutinitas yang aku lakukan. Entah itu nonton bioskop, entah itu jalan-jalan, aku nggak berada hanya di dalam rumah selama berbulan-bulan dan nggak bertemu dengan siapa-siapa. Yang aku baru sadari setelah pandemi ini adalah aku punya hobi pushing people away. Apakah karena aku terlalu nyaman terisolir sendirian? Atau memang ini sudah jadi kebiasaanku sejak dulu?

Pengalaman memang memberikan pelajaran, pandemi pun begitu. Selama pandemi berlangsung ini, aku juga memiliki waktu luang dan kosong. Kukira aku menjalaninya normal seperti biasa tapi ternyata tidak. Aku yang sudah terlanjur nyaman dengan seseorang selalu merasa kurang, kosong, dan kesepian. Memangnya aku nggak punya kesibukan? Ada. Tapi aku bisa melakukan satu hingga banyak hal dalam satu waktu. Dan pandemi membuatku makin membagikan fokus.

Baru-baru ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah melakukan kesalahan yang fatal. Kesalahan akibat diriku sendiri sebenarnya. Aku terlalu banyak berasumsi sendiri, berpikir sendiri, berpikiran negatif, menarik diri. Ujung-ujungnya, aku menepikan orang-orang yang memperhatikanku. Aku butuh pertolongan tapi aku menampik tangan-tangan yang berusaha membantuku dan menutup kedua telingaku, menutup kedua mataku. Pada akhirnya, aku lagi-lagi sendirian.

Kepalaku ini makin lama isinya makin menyebalkan. Padahal beberapa waktu lalu sebelum pandemi, aku berbagi saran ke salah seorang teman untuk tidak jadi overthinking. Nah, sekarang malah aku sendiri yang overthinking. Ditambah lagi, aku terlalu mencintai seseorang yang bahkan tidak nyata. Aku benci dengan diriku sendiri yang seperti ini. Mencintai boleh, berpikir boleh, tapi harusnya yang wajar-wajar saja.

Kepada hal yang tidak nyata saja aku bisa jadi se-suka itu, bagaimana ke manusia yang jelas nyata? Ketika aku memikirkan kembali hal ini, aku jadi merefleksikan ulang bagaimana sikapku ke mantan-mantanku. Ah ternyata aku memang tidak berubah. Ah ternyata aku belum dewasa. Aku, pikiranku, dan asumsiku itu sangat berbahaya. Tidak hanya menyakiti diriku sendiri tapi juga menyakiti orang lain. Maka dari itu aku belajar untuk melepas.

Susah.

Menjauh dari orang yang kita sayang, memberikan salam perpisahan, dan melepas itu sangat susah. Hal yang paling aku benci dari pertemuan adalah mengucapkan perpisahan. Aku sudah pernah melewatinya dan aku tidak terlalu suka melewatinya lagi. Aku tidak bisa mengelabui perasaan sakit yang kurasakan ini. Entah kali ini butuh waktu berapa lama. Tapi pasti waktu akan membantuku untuk sembuh. Belajar melepas itu susah. Dan belajar untuk tidak terikat dengan dunia itu jauh lebih susah.

Comments

  1. pandemi memang merubah segalanya

    tapi terlalu menyalahkan diri sendiri itu ga baik juga

    yang penting kita bisa ambil positif nya, ga ada kata terlambat untuk perubahan yang lebih baik

    ReplyDelete

Post a comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)

In a moment, I can't reply your comments due to error in my account when replying. But I make sure that I read every single comment you leave here :)