Feeling Content

Sore ini aku tiba-tiba kepikiran. Dengan apa yang kupunya, rasanya aku udah bahagia. Punya kerjaan yang ngasih penghasilan stabil, bisa membeli barang-barang yang kuinginkan, bisa tidur enak, bisa makan enak. Semua cukup lah. Yah walaupun aku masih sering mengeluh dan marah-marah soal kerjaan. Terlepas dari pekerjaan, aku merasa sudah cukup dan bisa hidup nyaman.

Lalu aku berpikir, kalau aku bisa mencukupi kebutuhanku sendiri kenapa pencapaian terbesar orang Indonesia masih menikah? Ya nggak salah sih, untuk orang sepertiku aku juga butuh untuk menyalurkan hasrat biologis.

Pikiran ini terlintas di benakku, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang teman. Dibandingkan dengan sebelumnya, setelah menikah hidupnya jadi agak lebih baik. Sudah mulai pakai barang branded, HP juga sudah berganti ke iPhone keluaran terbaru. Apakah aku iri? Tentu saja tidak. Ketika aku melihat ke diri sendiri, ternyata tanpa harus menikah, tanpa harus bertemu dengan seorang pria aku bisa lho memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersier seperti itu. Aku mampu membeli iPhone keluaran terbaru dengan tabunganku sendiri, aku bisa beli barang branded juga dari penghasilan sendiri, bahkan merch K-Pop yang aku beli juga nggak minta siapapun tapi pakai uangku sendiri.

Di situlah aku berpikir, memangnya prestasi terbesar seorang perempuan itu menikah ya?

Kayaknya nggak. Sayangnya, kebanyakan orang Indonesia masih menilai bahwa prestasi terbesar wanita itu ya menikah, punya anak. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memilih untuk tidak melakukan hal tersebut? Apakah mereka gagal? Kan nggak juga.

Obrolan soal hal ini sudah sering sekali aku bahas dengan salah seorang teman. Apalagi dia sangat diganggu oleh dorongan orangtuanya serta teman-teman satu angkatannya untuk menikah. Aku juga sih, masih didorong-dorong orangtua (re: Ayah) tapi teman-temanku nggak ada yang berani menyinggung soal pernikahan. Satu, sebagian manusia di dalam pertemananku memang sudah berpikiran progresif. Dua, mereka sudah kapok ngomongin masalah pernikahan yang berujung aku garamin habis-habisan. 

Selain menikah, sore ini aku kepikiran bahwa ternyata aku sudah feeling content. Aku nggak perlu mengoleksi barang-barang ber-merk. Cukup merch Kpop dan baju Uniqlo. Ponsel pun baru ganti ke edisi terbaru karena memang sudah waktunya ganti, selain itu aku memang mengincar lensa tele-nya untuk konser (yang nggak tau ntah kapan ada lagi). Selain itu, aku sudah merasa cukup. Mungkin yang perlu aku kejar adalah punya rumah. Memiliki rumah sendiri, mengisi perabotan sendiri, tinggal sendiri adalah impian terbesarku. Aku nggak bisa membayangkan kalau harus menikah dulu baru punya rumah. Apakah nanti aku ikut suami? Atau kami patungan beli rumah? Atau seperti apa? Nggak tahu. Untuk saat ini aku ingin tinggal sendiri.

Kukira manusia itu nggak pernah merasa puas. Mungkin aku juga masih? Toh aku masih nyari Album The Day - DAY6 juga hahahaha. Hanya saja, akhir-akhir ini sejujurnya aku lebih merasa content. Sudah cukup dengan apa yang aku miliki. Sudah nggak terlalu ingin berlari. Sudah cukup hidup dengan nyaman seperti saat ini. Satu-satunya yang ingin kulakukan di luar rasa content itu adalah mengembangkan diri. Aku ingin bisa lebih banyak hal dan menekuninya. Dan aku juga ingin jadi manusia yang lebih sehat.

Comments