Pengalaman Seleksi PCPM BI 36

Pagi ini aku mendapatkan sebuah e-mail yang menyatakan kalau aku tidak lolos seleksi PCPM BI 36. Hal ini sudah menjadi percobaan ke-sekian kali bagiku yang ternyata memang tidak berjodoh dengan Bank Indonesia. Yah, meskipun pada akhirnya nggak kunjung berjodoh dengan Bank Indonesia semoga aku berjodoh dengan anak Gubernur Bank Indonesianya aja (ngarep). Anyway, karena sudah dinyatakan tidak lolos berarti sekarang aku boleh dong berbagi pengalaman mengikuti seleksi PCPM (Penerimaan Calon Pegawai Muda) Bank Indonesia? Siapa tahu ada yang mencari info lebih lanjut mengenai rekrutmen Bank Indonesia ini juga di masa depan.

Seleksi tahun ini rasanya berjalan agak cepat karena berjarak hanya dua mingguan saja. Awal aku mengikuti seleksi ini sebenarnya karena: 1) penasaran soalnya nggak pernah lolos di seleksi TPA atau administrasi; 2) ingin mencari alternatif kalau memang resign dari tempat kerja sekarang. Pengumuman awal seleksi PCPM BI 36 ini kalau nggak salah dilakukan di bulan Juli. Di bulan itu, aku iseng-iseng membuat akun lalu melengkapi dokumen-dokumennya. Dan kebetulan juga memang ada jurusanku sebagai syarat umum mengikuti seleksi: Akuntansi dan Keuangan. Sebenarnya dari awal aku sudah nggak terlalu berharap untuk lolos karena ada syarat selanjutnya yang membuatku malas yaitu: penyetaraan ijazah. Di tempatku bekerja sekarang, nggak ada tuh persyaratan penyetaraan ijazah. Kenapa aku malas menyetarakan ijazah? Ya karena kalian tahu sendiri birokrasi di negara ini itu ribet setengah mampus. Jadi dari awal aku memang nggak terlalu niat mengikuti seleksi PCPM BI 36 ini.

Meskipun di seleksi administrasi belum diwajibkan untuk menyetarakan ijazah dan tidak diwajibkan juga untuk upload, tetap saja dokumen ini akan ditagihkan di kemudian hari. Dan meskipun aku tidak melampirkannya, ternyata aku tetap lolos seleksi administrasi lalu dipersilakan untuk mengikuti tahapan tes selanjutnya yaitu Tes Potensi Dasar (TPD) dan POF (Person Organisation Fit). Di Tes Potensi Dasar ini pada umumnya merupakan TPA seperti biasa. Ada ratusan soal yang dikerjakan secara online dan mempersyaratkan kandidat untuk selalu menyalakan kamera. Soalnya mulai dari aritmatika hingga logika visual. Aritmatika ini bukan deret angka melainkan ujian menghitung cepat dengan membubuhkan tanda matematika yang tepat dalam persamaan. Lalu untuk logika visual, seperti tes TPA pada umumnya yaitu tes yang membuat kita harus membayangkan secara visual gambar apa yang akan muncul selanjutnya. Yang menarik adalah tes visual ini merupakan sebuah proses. Jadi bukan cuma menebak gambar apa yang akan muncul selanjutnya tapi kita juga harus melihat proses visualnya.

Di tes tahap pertama lagi-lagi aku nggak mau terlalu berharap karena aku tahu selalu gagal di situ. Dulu waktu pertama kali tes Bank Indonesia selepas lulus kuliah (tahun 2016) aku gagal di tes pertama. Tapi waktu itu memang langsung ada tes akademik dasar (akuntansi) dan Kebanksentralan, ditambah lagi aku nggak belajar ya jelas nggak lolos. Di tahun berikutnya aku mencoba tesnya yang sudah online dan gagal di tes TPA juga. Waktu baru pulang dari kuliah S2 (2018) aku ikut jalur penerimaan LPDP, nggak lolos juga. Karena secara historis memang nggak pernah lolos Bank Indonesia, aku jadi santai saja dan memang nggak berharap bakal lolos. Ternyata malah di tahun 2021 ini aku lolos tesnya, sangatlol.


Begitu dinyatakan lolos tes tahap pertama, tes tahap kedua yakni Tes Kebanksentralan, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum menanti. Memang sih aku ada dasar-dasar Kebanksentralan karena sudah magang di BI dua kali, tapi kan tetap saja ya itu sudah hampir 3 tahun yang lalu jadi ya sedikit lupa. Untungnya ada seorang teman yang ikut tes PCPM BI 35 di tahun 2020 dan dia memberikanku beberapa tips, salah satunya adalah dengan join grup Telegram. Siapa tahu ada materi ujian di situ kan? Dan benar saja memang ada materi ujian di situ untuk tes Kebanksentralan, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum ini. Namun seperti biasa, aku juga nggak belajar hingga H-1.

Pada dasarnya Tes Kebanksentralan lebih banyak menguji seberapa jauh pengetahuan kita mengenai tugas Bank Sentral. Materi ini bisa banget juga dibaca di website Bank Indonesia. Terutama dengan perundang-undangan yang melingkupi Bank Indonesia, tugas Gubernur dan Dewan Gubernur, secara hukum Bank Indonesia itu organisasinya seperti apa dan pengetahuan dasar mengenai tugas-tugas moneter Bank Sentral. Ada juga kaitan terkait kebijakan makroekonomi, sebuah hal yang wajar karena nantinya begitu bekerja di Bank Indonesia karyawan akan lebih banyak bersentuhan dengan makroekonomi. Berbeda denganku yang sekarang lebih berat ke mikroekonomi karena menjadi budak korporat. Dan secara keilmuan pun, aku dari dulu sudah jadi spesialis mikroekonomi karena belajar Akuntansi. Makroekonomi mungkin lebih dipahami oleh mereka yang belajar Ekonomi Pembangunan.

Lalu untuk Tes Pengetahuan Umum juga masih berkutat di kebijakan Bank Sentral dan makroekonomi, hanya saja lingkupnya lebih luas. Sudah merambah ke tugas Bank Sentral global serta implikasi kebijakan moneter untuk perekonomian. Kalau kalian tanya aku, belajarnya dimana? Jawabannya tadi sudah aku berikan: join saja grup Telegram PCPM BI pasti ada. Sementara untuk tes Bahasa Inggris, levelnya grammar TOEFL. Cukup mudah bagi kalian yang memang sudah terbiasa mengerjakan soal-soal TOEFL. Lalu mungkin ada juga soal reasoning atau concluding (menyimpulkan) sesuatu dari bacaan berbahasa Inggris. Saran untuk hal ini? Banyak latihan soal bahasa Inggris dan membaca cepat.



Lagi-lagi setelah menjalani tes aku sempat nggak PD karena aku merasa bahwa aku cuma belajar H-1 dan baca cepat. Udah hampir menyerah dan merasa nggak bakal lolos ke tahap selanjutnya. Eh lolos juga. Sempat terkejut dengan pencapaian diri sendiri juga sih. Memang kadang yang iseng-iseng dan nggak berharap itu malah lolos. Dua minggu berikutnya dapat pengumuman kalau lolos tes tahap dua dan lanjut ke tahap tiga yaitu LGD, Wawancara Psikologi, dan Verifikasi Dokumen. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, di sini dokumen ditagih termasuk SKCK dan juga penyetaraan ijazah. Minimal untuk penyetaraan ijazah sudah dalam proses katanya. Aku sebagai orang yang last-minute kalau gak penting-penting banget ya nggak bakal ngurus. Karena di dalam pikiranku aku sudah malas duluan kalau nggak fix keterima nggak bakal ngurus penyetaraan ijazah. Akhirnya karena dinyatakan lolos, aku jadi harus mengurus penyetaraan ijazah deh ke DIKTI. Untung sekarang bisa diurus online di sini. Itupun aku harus mengalami delay karena jurusanku nggak terdaftar di database DIKTI *deep sigh*.

Di Tes LGD ini waktunya seharian atau sekitar 8 jam. Jadi aku sarankan untuk tidur dengan cukup dan jaga stamina karena harus stand by 8 jam. Di tahap ini juga akan ada tes ulang mengenai Pengetahuan Umum jadi pastikan belajar lagi. Lalu yang penting adalah percaya diri tapi jangan terlalu mendominasi pembicaraan di sesi Leaderless Group Discussion. Di timku ada satu orang yang sempat membuat dahiku berkernyit karena jawaban dia nggak terlalu mensolusikan isu yang diberikan di kelompok alias gak nyambung bos. Meski gak nyambung, orang ini tetap keukeuh pada pendapatnya dan terlalu mendominasi diskusi. Nggak tahu deh orang ini lolos seleksi di tahap ini atau nggak.

Setelah mengerjakan tes Pengetahuan Umum ulang dan LGD, kita akan dibawa untuk wawancara 1 on 1 dengan asesor psikologi. Di sini yang penting kita percaya diri dan rileks. Serta berikan saja jawaban apa adanya dan diplomatis. Oh ya di tahap ini juga akan ada tes asesmen psikologi yaitu Harrison Assesment. Mungkin karena tes Harrison inilah aku nggak lolos tahapan ini. Karena aku anaknya terlalu deviant alias nggak tunduk pada feodalisme dan birokrasi. Kepribadianku memang nggak terlalu cocok untuk bekerja dengan pemerintah yang sifatnya harus obedient. Makanya nggak salah juga kalau nggak lolos, dan aku bersyukur karena nggak lolos sih toh sekarang aku sudah pindah unit kerja yang mana lingkungannya lebih positif dan insya Allah membuatku tetap bekerja di perusahaanku sekarang.

Setelah semua tahapan tes selesai, barulah dilakukan verifikasi dokumen. Dan kalau boleh jujur, tahapan verifikasi ini memang agak mengesalkan karena koordinasi yang kurang bagus serta kesalahan teknis sedikit akan membuyarkan konsentrasi kita untuk verifikasi dokumen.

Nah, sepertinya itu saja cerita dari pengalamanku ikut seleksi PCPM BI 36. Semoga kisahnya cukup membantu ya. Buat kalian yang membaca postingan ini, aku sarankan untuk nggak menghubungiku lewat Instagram apalagi sampai tanya soal yang diujikan seperti apa karena aku jamin aku akan malas menjawabnya. Sudah jadi tugas kalian untuk belajar dan banyak latihan. Jadi jangan harap aku akan memberikan bocoran soal. Yang jelas, saranku adalah tidur cukup, makan cukup, rileks, percaya diri, dan banyak latihan. Semoga lancar dan good luck!

Comments