Kecanduan Investasi


Bukan, ini bukan karena saya ikut-ikutan tren investasi.

Dari segala hal yang membuat saya kecanduan, sepertinya memang kecanduan investasi adalah salah satu yang paling bermanfaat karena menghasilkan cuan betulan. Sebelum kecanduan investasi, saya kecanduannya ke hal-hal yang sifatnya konsumtif: jadi Otaku, jadi K-popers, jadi Mechanical keyboard enthusiast. Yah pada dasarnya hobi-hobi saya itu mengeluarkan uang. Nah, baru kali ini saya menyadari selain saya mengeluarkan uang (untuk investasi) saya juga dapat timbal balik.

Saya mulai investasi pada tahun 2020, atau mungkin akhir tahun 2020 ketika saya merasa bahwa Deposito nggak lagi bisa memberikan timbal balik yang saya harapkan. Sebelumnya saya nggak pernah berinvestasi karena beberapa hal, antara lain: 1) Pembuatan akun investor dulu tidak semudah sekarang; 2) Saya adalah tipe orang yang menghindari risiko (risk averse); 3) Uang saya tidak cukup banyak untuk diinvestasikan. Bersamaan dengan itu, saya juga mencoba untuk membagikan edukasi bagi pembaca tulisan-tulisan saya bahwa, investasi itu memang step paling akhir dalam hal menyimpan uang. Sebelum investasi, yang penting kita harus sudah terbiasa menyimpan uang, mencatat pengeluaran, dan mengontrol impuls atas pembelian sesuatu. Sewaktu selesai ikut training CFP, saya baru tahu bahwa nggak cuma dana darurat dan dana pensiun aja yang penting, proteksi juga penting sebelum investasi. Jadi, pastikan dulu kita nggak lompat langsung ke investasi ya.

Berkenalan dengan Deposito

Sewaktu saya mendapatkan gaji yang cukup dan bisa nabung dengan cukup, pikiran saya cuma satu: yang penting punya deposito. Bunga deposito ini lebih tinggi daripada bunga tabungan biasa, tapi tidak lebih tinggi dari inflasi. Bagi siapapun yang baru mendapatkan gaji dan mau belajar menyimpan uang, deposito bisa menjadi pilihan pertama. Selain bunganya lebih tinggi dari tabungan biasa, deposito juga sifatnya cukup likuid alias dapat dicairkan dengan cepat. Triknya adalah dengan mengambil tenor yang lebih cepat. Bank-bank digital sekarang sudah menyediakan deposito dengan tenor kurang dari satu tahun. Jadi, selain dapat imbal hasil yang dapat disertakan lagi di dalam deposito tersebut, bila sewaktu-waktu membutuhkan uang cepat deposito dapat dicairkan.

Saya berkenalan dengan deposito berkat Jenius Maxi Saver. Jenius menyediakan layanan deposito yang tenornya dapat diatur sesuai keinginan nasabah dengan cara yang sangat mudah. Tenor mulai dari 1 bulan hingga beberapa tahun ke depan, dengan bunga di kisaran 4.0%. Aturan maturitynya juga bisa diubah ketika kita menyimpan deposito berjalan. Mulai dari roll-over principal saja, roll-over principal dengan bunga, atau kembalikan semua principal plus bunga ke saldo tabungan biasa. Dalam hal ini, Jenius merupakan pionir di masanya. Saya ingat banget ketika mau nabung deposito di bank lain masih rumit dan tenornya masih lama banget, di Jenius sudah ada fleksibilitas yang menstimulasi nasabah untuk semangat menggunakan deposito.

Berkenalan dengan Reksa Dana

Saya lupa-lupa ingat tepatnya mulai nabung di Reksa Dana sejak kapan, tapi mungkin tepatnya circa 2020-2021. Alasan saya beralih ke Reksa Dana adalah untuk mengalahkan inflasi dan taking to the next level kemampuan saya mengatur uang. Jadi, Deposito saya di Maxi Saver Jenius sudah cukup gendut tapi saya masih merasa kayaknya saya nggak bisa mendiamkan uang itu begitu saja deh. Maka dari itu, saya mencoba memberanikan diri membuka reksa dana. Beruntung waktu saya mulai bergerak ke arah investasi, Bibit hadir dengan segala kemudahannya.

Saya ingat banget waktu masih kuliah Sarjana dulu, teman-teman saya sudah fafifu wasweswos mengenai investasi dan Reksa Dana. Tapi nggak ada satupun dari mereka yang mau memberi saya edukasi bagaimana cara membuka akun Reksa Dana. Akhirnya saya google sendiri dan tanya-tanya ke berbagai pihak. Di saat itu, buka tabungan Reksa Dana tidak semudah sekarang. Saya harus memilih bank yang menyediakan manajer investasi, harus buka rekening tabungan di bank tersebut. Dan menurut saya hal tersebut ribet karena bank yang saya gunakan waktu itu tidak menyediakan layanan Reksa Dana. Yah, selain saya juga nggak punya uang sebanyak itu sih. Sementara di waktu itu, hampir tidak pernah saya dengar orang boleh nabung (investasi) Reksa Dana hanya dengan Rp 100 ribu.

Di satu sisi, saya justru bersyukur karena saya baru berani nabung di Reksa Dana lebih telat dari teman-teman saya. Meskipun di sisi lain, itu berarti saya butuh waktu lebih lama untuk mengembangkan uang yang saya tabungkan. Karena menabung Reksa Dana di tahun 2020 onwards ini jauh lebih mudah daripada sebelum tahun 2020. Bibit adalah salah satu penyelamat saya. Saya lupa kapan tepatnya saya berkenalan dengan Bibit tapi saya merasa bahwa platform ini adalah yang paling user friendly sekaligus trusted dari platform yang lainnya.

Ketika pertama kali mencoba Reksa Dana pun, saya nggak menabung dalam jumlah banyak. Hanya Rp 100 ribu saja. Namun ternyata Rp 100 Ribu itu justru membuat saya makin kecanduan. Dan mulai semakin fasih menggunakan Bibit. Setelah saya bandingkan dengan platform lain, UI/UX Bibit user-friendly. Produk yang disediakan juga bervariasi. Jadi kita bisa bebas memilih produk Reksa Dana dari bermacam manajer investasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pribadi. Sementara fitur investasi Reksa Dana Jenius baru menyediakan 3 jenis Manajer Investasi saja, Bareksa juga tidak menyediakan produk yang lebih variatif dari Bibit, sementara iPot cukup interfacenya cukup susah digunakan oleh pengguna awam.

Yang perlu diperhatikan ketika memilih Reksa Dana adalah Expense Ratio, semakin kecil semakin bagus. Karena itu berarti manajer investasi mengelola dana yang kita investasikan dengan baik. Perlu dilihat juga returnnya dalam jangka panjang, jika suatu Reksa Dana mencapai lowest price berada di kisaran berapa dan dibandingkan secara per tahun atau 3 tahun berikutnya. Di situlah Reksa Dana tersebut berhasil bounce back. Yang perlu diingat juga, parameter ini menjadi preferensi saya karena saya melihat investasi sebagai tabungan jangka panjang bukan untuk trading. Karena saya memang mengalokasikan dana di Reksa Dana salah satunya adalah untuk membangun portfolio dana pensiun.

Enaknya lagi ketika menggunakan Bibit, kita bisa membuat banyak portfolio. Kita juga bisa memanfaatkan fitur Robo Advisor yang membantu kita mengenali level risiko kita. Fitur ini juga dimiliki oleh Jenius, sebelum membuka Reksa Dana Jenius akan memberi kita kuesioner untuk dijawab dan mengkategorikan kita menjadi investor dengan risk appetite sejauh apa. Kalau saya sendiri sih termasuk investor moderat baik di Bibit maupun di Jenius. Oleh sebab itu, portfolio saya lebih berat di Reksa Dana Pendapatan Tetap (Obligasi) dibandingkan Reksa Dana Saham.

Saya bisa merekomendasikan Bibit bagi investor yang mau coba-coba dan belajar lebih jauh terkait Reksa Dana, dan kalau mau menggunakan Bibit bisa banget menggunakan referal saya berikut ini:



Berkenalan dengan Saham

Sama seperti narkoba dan hal yang adiktif lainnya, ketika sudah kecanduan investasi itu rasanya kita selalu ingin meng-upgrade ke level yang lebih tinggi. Nah, ketika saya memutuskan berkenalan dengan saham, itulah yang saya rasakan. Saya mulai upgrade ke Reksa Dana karena saya merasa mendiamkan uang di deposito saja sayang, selanjutnya saya ingin mencoba nih bagaimana thrill-nya ketika sudah bergerak ke pasar modal.

Salah satu pemicu saya mulai bergerak ke pasar modal adalah baru-baru ini salah satu anak perusahaan tempat saya bekerja IPO alias memberikan penawaran pertama di pasar modal. Sebagai salah satu orang yang ikut memperhatikan gerak-gerik portfolio perusahaan, saya merasa bahwa industri si anak perusahaan ini akan menguntungkan di masa depan. Maka dari itu, saya coba deh ikutan IPO anak perusahaan ini. Namun sayang, karena kebijakan dari kantor sendiri agak ribet akhirnya saya batal ikutan IPO. Jadinya saya malah membeli saham ketika selesai IPO. Di waktu yang sama, akhirnya saya memaksakan diri untuk mulai belajar menggunakan iPot. IPOT alias Indo Premier ini adalah salah satu broker yang sudah terpercaya sejak saya masih Sarjana. Cuma saya dari dulu selalu merasa kesulitan untuk mengutilisasi aplikasinya jadi saya nggak pernah tergerak untuk daftar sebelum tahun 2021 lalu.

Karena sudah punya akun iPot, sayang kan kalau dianggurin saja? Dan berhubung saya punya uang dingin (ingat ya, kalau mau investasi selalu gunakan uang dingin alias uang nganggur yang gak dalam waktu dekat digunakan) ya saya mencoba untuk mulai nabung saham. Saham pertama yang saya beli tentu saja adalah saham si anak perusahaan dari tempat saya bekerja, lalu saham selanjutnya adalah saham tempat saya bekerja. Saya inginnya beli saham BBCA karena sudah teruji kekokohannya, namun harganya kemahalan dan modal saya nggak cukup besar untuk membeli saham tersebut. Jadi ya saya beli saham yang murah-murah aja.

Pengalaman saya membeli saham si anak perusahaan ini cuma untung sedikit. Karena harga saham si anak perusahaan ini terjun setelah beberapa hari melakukan penawaran pertama. Akhirnya semua saham si anak perusahaan saya jual dan saya pun sekarang sudah beli saham MAPI dan ASRI. ASRI ini sahamnya menyedihkan karena sejak saya beli sampai sekarang masih minus. Sementara saya beli MAPI di timing yang tepat dan memberikan saya keuntungan walaupun gak sebanyak itu.

Setelah punya tiga portfolio yang gak saya utak-atik lagi, saya baru menemukan aplikasi sahamnya Bibit yaitu Stockbit. Di situlah saya merasa ketemu dengan sosok yang cocok tapi nggak dari dulu aja ketemunya. Stockbit ini seperti Bibit, interface-nya user friendly dan sleek. Pengguna awam bakal langsung bisa menggunakannya. Saya baru berkenalan dengan Stockbit setelah Bibit melakukan penawaran ORI22. Kalau nggak gitu ya saya gak kenala sama Stockbit memang.

Nah, untuk itulah judul postingan ini kecanduan investasi. Karena sekarang saya punya 2 akun Reksa Dana di platform yang berbeda (Bibit dan Jenius) serta 2 akun saham di platform yang berbeda (iPOT dan Stockbit). Setelah satu tahun belakangan mulai bisa mengatur flow arus kas dan tabungan, saya jadi tertantang untuk mulai menabung dengan imbal balik yang lebih tinggi. Intinya sih mengalahkan inflasi. Dan nanti kalau memang saya butuh duit, saya bisa cairkan dengan cepat. Untuk saat ini tujuan saya berinvestasi semua adalah untuk penggunaan jangka panjang. Jadi saya nggak terlalu serius di trading. Namun, yang perlu dipahami mau jangka panjang atau trading tetap kita harus punya dasar ilmunya dulu sebelum investasi. Perhatikan dana darurat, proteksi, dan dana pensiun. Lalu perhatikan fundamental (laporan keuangan dan kondisi makroekonomi) terlebih dahulu. Tanpa mengetahui hal-hal dasar dalam mengatur keuangan, yang ada investasi malah bikin kita rugi. Dan namanya bukan lagi investasi tapi spekulasi.

Lalu pesan terakhir di postingan ini terinspirasi dari Warren Buffet. Beliau adalah investor tersukses hingga saat ini dan apakah anda tahu rahasianya? Rahasianya adalah tidak trading. Warren Buffet adalah tipe orang yang berinvestasi jangka panjang. Maka untuk jadi investor sukses, saya ingin meniru Warren Buffet. Melihat suatu investasi untuk kegunaan jangka panjang, bukan jangka pendek.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga bilang bahwa, ketika kita mempekerjakan uang maka pajak yang kita bayarkan akan semakin sedikit. Ya kalau saya sih, kalau bisa uang bekerja untuk saya bukan saya yang bekerja untuk uang 😝

Itu sedikit cerita kecanduan investasi dari saya, mungkin ada juga pembaca yang merasa kecanduan investasi atau bahkan lebih jago dari saya? Silakan bagikan ilmunya juga ya di kolom komentar, barangkali ada hal-hal yang terlewat saya bagikan di tulisan ini 😉

Comments