Jung Finally Goes to Korea 2022 (Part 1)

Bagi penggemar Kpop, pergi ke Korea adalah sebuah keniscayaan. Banyak juga yang bilang kalau ngga afdol kalau nggak "berhaji" ke Korea. Ya wajar aja sih, karena center of universe pecinta Kpop kan memang Korea Selatan ya. Korea Selatan merupakan pusat dari segala kecintaan duniawi terhadap kultur Korea itu sendiri, mulai dari sekedar ngidol atau ngefans sama drama atau bahkan sampai suka juga sama makanan dan budayanya. Dan beruntung, tahun ini setelah vakum nggak kemana-mana karena pandemi Covid, aku berkesempatan untuk pergi ke Korea. Tentu saja dengan usaha dan air mata, canda ding hahaha.

Satu hal yang perlu diketahui sebelum membaca ceritaku yang kayaknya akan jadi panjang di postingan ini, pergi ke Korea kali ini itu nggak impulsif. Awalnya sih memang terdengar impulsif ya karena begitu tahu Korea buka border, aku langsung pesen tiket pesawat. Tapi sebetulnya di balik itu ada perencanaan yang matang, ada duit yang ditabung berbulan-bulan. Jadi, kalau ada orang yang tahu enaknya aja pergi ke Korea sebenarnya mereka nggak tahu aja proses di baliknya seperti apa. Nggak kok, aku nggak ujug-ujug pergi ke Korea gengs. Semua ada step-stepnya dan bocorannya pun sudah aku tulis di postingan ini yang berhasil membawaku menang lomba blog Jenius tahun ini.

Ya intinya yang mau aku sampaikan adalah: gengs, ke Korea itu butuh biaya, perencanaan, dan waktu. 

Sebelum ke Korea ini, jujur aku merasa super anxious. Hal ini terjadi karena untuk kali pertama aku akan solo trip di Asia Timur. Entah kenapa, solo trip di asia ini agak bikin aku merasa nggak aman. Dulu waktu solo trip ke Singapura juga gitu. Aku merasa jauh lebih aman kalau pergi sendiri di Eropa daripada di Asia. Padahal harusnya Singapura dan Asia Timur masih cenderung aman-aman saja juga daripada Eropa Timur kan? Selain masalah keamanan, yang bikin aku rada khawatir sama diri sendiri adalah historis kebodohanku selama solo trip. Dari sekian banyak solo trip, hampir semuanya aku melakukan kebodohan. Waktu di Singapura nggak terlalu banyak melakukan kebodohan sih, tapi pun aneh-aneh kan dekat ya. Lha kalau melakukan kebodohan di Korea, siapa yang mau nolongin kan?

Anyway... Dalam trip kali ini I could proudly say that I'm totally fine! Semua kekhawatiran itu cuma ada di pikiranku. Kayak kata Embun atau Balindo, aku tuh udah merencanakan trip ini dengan baik jadi seharusnya emang gak akan terjadi hal aneh-aneh kecuali aku memang bego banget πŸ˜‚

Hari pertama 30/08/22

Untuk pergi ke Korea, aku nggak ambil pesawat direct. Aku ambilnya pesawat transit ke Singapura karena memang sengaja memilih penerbangan malam. Maklum anaknya memang gak suka terbang pagi karena malas bangun pagi. Alasan lain adalah kalau milih penerbangan malam bisa jalan agak siang dari kosan dan nggak perlu terburu-buru banget. Begitu sampai di Korea, kebetulan cuacanya agak gak seru alias hujan mengguyur cukup deras. Baru landing disambut hujan tuh agak bikin cranky gengs. Karena harus bawa-bawa koper dan basah.

Yang perlu diperhatikan ketika mau ke Korea adalah beberapa persyaratan sebelum masuk Korea dan pastikan kamu udah bener-bener memahami step by step dokumennya ya dan jangan lupa untuk selalu ngecek website kedutaan besar korea untuk info terbaru atau cukup follow akun twitter Korea Tourism Organisation. Waktu aku ke Korea Selatan kemarin, persyaratan masuknya adalah: Hasil swab test PCR negatif (harus diprint), isi Q-Code (semacam deklarasi e-HAC Indonesia), dan harus tes PCR ulang begitu tiba di Korea Selatan. Tes PCR di airport ini bisa dilakukan dengan book slot di safe2gopass dan kamu akan diminta untuk bayar sebesar KRW 80,000 (kurang lebih 900-1 juta rupiah) dan mereka hanya menerima pembayaran via cash atau credit card saja.

Untuk lokasi tes PCRnya pun sebetulnya terhitung dekat dan mudah ditemukan, tergantung di Terminal mana kamu landing. Prosesnya juga cukup cepat dan nggak susah, terutama kalau kamu sudah melakukan booking di safe2gopass. Yang worth noting dari tes PCR ini selain harganya yang belum turun kayak di Indonesia adalah rasanya sakit banget. Jujur itu adalah tes swab paling sakit yang pernah aku rasakan seumur hidup. Setelah di-swab kamu diperbolehkan pergi dan hasilnya akan keluar kurang lebih 3-4 jam berikutnya. Hasilnya akan dikirimkan via email yang sudah kamu daftarkan di safe2gopass atau loket pendaftaran.

Berhubung udah capek banget karena harus transit semalaman di Changi ditambah cuaca yang nggak terlalu bagus buat jalan-jalan, di hari kedatanganku di Korea aku memutuskan untuk stay di hotel aja. Sebetulnya di dekat hotel tuh ada banyak orang jualan makanan kayak streetsnack tteokboki dan odeng gitu, ada kafe juga, bahkan ada komplek perkantoran dan ada Shake Shack, 7-Eleven pun tinggal ngesot di belakang hotel. Cuma aku sudah terlalu lelah sampai nggak peduli lagi sama rasa lapar, inginnya recharge badan di dalam hotel.

Hotel yang aku tempati ada di kawasan Jongno (μ’…λ‘œ), namanya Hotel Aventree Jongno. Pemilihan hotel ini pun atas pertimbangan dan saran dari teman. Bahwa mending menginap di hotel saja daripada di airbnb untuk faktor kenyamanan (dan keamanan) tentunya. Memang sedikit lebih mahal dan overbudget accommodation tapi nggak papa lah. Pilihanku ambil Hotel Aventree Jongno ini nggak salah kok. Justru worth the value of money πŸ‘Œ

Hari kedua 31/08/22

Setelah beristirahat dengan nyaman di hotel, paginya aku berangkat cukup pagi. Iya, aku mulai jalan jam 8 pagi tanpa sarapan. Tujuan pertama adalah Gyeongbukgung Palace yang ternyata deket banget cuma jalan kaki 25 menit dari hotel. Di sinilah aku baru menyadari bahwa hotel yang aku tempati tuh memang strategis karena dekat dengan landmark-landmark touristy di Seoul. Gyeongbukgung saat aku kunjungi masih sepi banget, mungkin karena aku berangkat kepagian? Sayangnya juga lagi ada construction work jadi kurang cakep aja kalau diambil gambar dari view jalan raya. Biasanya kan orang-orang ambil fotonya dari situ dan bagus kan? Nah ini jadi agak berantakan.

Sepagian itu, cuacanya mendung jadi hasil fotopun sebetulnya kurang bagus. Tapi nggak papa, aku sudah mengecek perkiraan cuaca dan untungnya hari itu cuma mendung aja nggak hujan. Meskipun demikian aku tetap membawa payung lipat milik temanku. Takut kalau ternyata keujanan kan?

Gyeongbukgung Palace ini buka pukul 10 pagi. Jadi sembari menunggu buka, aku foto-foto saja di bagian depannya dan memperhatikan arsitektur istana ini dari kejauhan. Sekalian juga mencari informasi di papan-papan dekat loket tiket. Eh, usut punya usut aku beruntung datang di hari Free Admission. Hari Free Admission ke Gyeongbukgung Palace ini selalu di hari Rabu minggu terakhir tiap bulan. Kalau kamu datang di hari yang lain dan ingin mendapatkan Free Admission alias nggak bayar tiket, kamu harus mengenakan hanbok. Yang mana kebetulan hari itu aku juga pake hanbok ala-ala gitu hahaha.


Gyeongbukgung Palace ini super gede, ya namanya juga istana ya. Tapi mungkin karena aku kepagian atau karena cuaca agak mendung, jadinya istana ini nggak terlihat terlalu istimewa. Atau mungkin juga karena aku udah sering nonton drama Saeguk juga, jadinya kayak "Oh ini toh istana yang dipake syuting drama-drama Saeguk itu?"

Karena memang interior dan desainnya tuh mirip banget dengan yang sering kita tonton di drama Saeguk. Ditambah lagi, nggak ada guide yang ngejelasin makna dari tempat ini apa gitu-gitu. Jadi waktu aku ke sini rasanya jujur agak sedikit membosankan. Ada juga beberapa tempat yang dikunci jadi kita nggak bisa masuk atau eksplor tempat itu. Cuma ya kalau kalian ke sini pas hari yang cerah dan pake Hanbok jadinya akan cakep masuk feed sosial media sih.

Setelah puas jalan-jalan ngepoin Gyeongbukgung Palace dan merasa bosan, aku lanjut ke destinasi selanjutnya ya itu Gwanghamun Square. Kalau ngomongin Gwanghamun tuh nggak bisa nggak inget Kyuhyun. Konon at Gwanghamun ini salah satu lagunya Kyuhyun yang populer. Dan kebetulan Gwanghamun Square ini gak jauh juga dari Gyeongbukgung Palace, tinggal jalan lurus aja nyampe deh. Oh iya worth noting juga bagi temen-temen yang akan ke Korea untuk kali pertama, komplek landmark Gyeongbukgung, Gwanghamun, sampai Cheonggyecheon ini berada di kawasan pemerintahan juga. Istilahnya semacam alun-alun kotanya gitu lah. Deket banget dengan Gyeongbukgung Palace ada kantor pemerintahan Korea gitu. Dan pedestriannya gede banget. Jalannya pun gede banget, nyeberang jalan berasa jauh banget. Untungnya meski supir Korea ini suka ngebut mereka sungguh taat peraturan dan ngalah banget sama pejalan kaki πŸ‘Œ

Di perjalanan menuju Gwanghamun, ada patung Raja Sejong (μ„Έμ’…λŒ€μ™•) yang berdiri gagah. Biasanya para turis juga suka nih foto di depan patung ini. Karena waktu itu aku adalah turis yang pertama kali ke Korea, tentu saja aku juga mengambil foto di depan patung ini. Konon pencapaian terbaik Raja Sejong selain di bidang pemerintahan adalah penciptaan huruf Hangul. Coba kalau nggak ada Raja Sejong, mungkin sampai sekarang Korea akan pakai huruf Hanja (alphabet China).

Lanjut dari patung Raja Sejong, ke depan sedikit ada patung tokoh besar Korea lainnya yaitu Admiral Yi Sun Shin. Kalau Admiral ini dulunya aku tahu dari sebuah manga Jepang, lupa manganya apa. Baru tahu kalau Admiral Yi Sun Shin asalnya dari Korea setelah nonton drama Saeguk. Konon Admiral Yi Sun Shin ini terkenal karena kemenangannya melawan Jepang saat beliau menjabat sebagai petinggi angkatan laut Korea di Dinasti Joseon.

Setelah bikin konten sebentar di depan patung Yi Sun Shin, aku bergerak maju lagi. Tujuan garis lurus dari Gyeongbukgung sampai Gwanghamun sudah tercapai? Lalu kemana lagi? Tujuan selanjutnya adalah Cheonggyecheon yang sebenarnya ingin aku kunjungi di malam ketika aku sampai di Korea. Sekali lagi, karena pas sampai cuacanya hujan dan basah, aku jadi mager. Maka dari itu sekalian aja ke Cheonggyecheon biar full jadi turis sebelum jadi warga lokal.

Awalnya kukira Cheonggyecheon akan jauh dari Gwanghamun. Ternyata eh ternyata, Cheonggyecheon cukup dekat dan aku nggak perlu naik Subway atau Bus untuk ke situ. Cukup jalan kaki dan menyeberang jalan saja. Kebetulan juga, di jalan yang aku lewati menuju Cheonggyecheon terdapat tapping acara berita pagi. Aku sempat melihat ke dalam studio dari balik kaca. Para panelis yang sedang bekerja mukanya tuh super porselen yang hampir di level nggak riil. Maksud aku, selama di Korea memang yang aku lihat adalah orang tampan. Meskipun pakai masker para cowok Korea ini tampan. Satu mungkin dikarenakan oleh sense of fashion mereka yang simple tapi attractive. Dua mereka memang bersih dan merawat badan saja. Bahkan orang biasa di Korea Selatan pun ganteng dan cantik karena dua hal ini. Nah, orang-orang yang lagi tapping di studio itu super putih dan mukanya super mulus kayak boneka. Di situlah aku menyadari bahwa memang Korea Selatan ini penampilan (μ–Όκ΅΄/웨λͺ¨) adalah yang utama.

Cheonggyecheon sendiri sebetulnya adalah kanal, konon katanya Cheonggyecheon ini sudah eksis sebelum zaman perang dan kebetulan posisinya ada di tengah kota. Ceritanya Cheonggyecheon ini sengaja dikonservasi sebagai saksi biksu pembangunan infrastruktur Korea Selatan di era modern. Aku sendiri baru tahu soal Cheonggyecheon karena dia menjadi salah satu tujuan wisata yang disebutkan di NCT Life. Aku ingat banget waktu itu Taeyong main-main di Cheonggyecheon dan main lempar koin atau sekedar berfoto-foto di malam hari. Itulah yang melatarbelakangi aku ingin ke Cheonggyecheon di malam hari, karena konon lebih bagus di malam hari. Namun di hari yang sepi itu, Cheonggyecheon tetap cantik walau di siang hari. Airnya super jernih. Udaranya sejuk sekali. Dan tentu saja aku mendapatkan foto-foto ciamik di Cheonggyecheon.



Setelah berjemur agak lama di Cheonggyecheon dan memutuskan kemana lagi berikutnya, pada akhirnya aku memilih untuk pergi ke Deoksugung Stonewall. Kalau yang ini jaraknya cukup jauh, cuma terlalu nanggung kalau tidak melanjutkan jalan kaki. Dan berhubung saat itu juga aku lapar, jadi aku mampir sebentar untuk beli Kimbap Segitiga (삼각 κΉ€λ°₯) dan Susu Pisang (λ°”λ‚˜λ‚˜λ§› 우유) ikonik itu. Bahkan aku sempat duduk duduk dekat jalan keluar Stasiun City Hall sembari mengisi perut. Eh nggak tahunya Deoksugung Stonewall tinggal nyeberang aja.

Deoksugung Stonewall ini konon nggak terlalu terlihat ciamik di hari itu, mungkin lagi-lagi karena cuacanya mendung ya? Dan aku berpikir nggak ada orang juga yang bisa bantuin aku buat ambil foto. Jadi ya sudah aku cuma mampir sebentar. Eh nggak tahunya, ada event menarik yaitu upacara pergantian penjaga. Jadi parade ini tuh sebetulnya bermula saat aku masih di Gyeongbukgung Palace dan berhenti di Deoksugung. Baru sempat ngontenin alias merekam prosesnya pas di Deoksugung. Jadi aku berhenti sebentar dan melihat event parade pergantian penjaga ini. Sedikit banyak mengingatkanku pada pergantian penjaga di Buckingham Palace. Bagusnya, di event-event kultural seperti ini tuh disampaikan dalam banyak bahasa: Korea, Jepang, China, dan Inggris. Jadi kita masih akan mengerti protokol pergantian penjaganya bagaimana dan guide kulturnya seperti apa.

Deoksugung Stonewall sendiri buatku berarti SM Station Yoona dengan 10Cm dan juga jalanan tempat Woo Young Woo pacaran sama Kang Tae Oh di Extraordinary Attorney Woo. Segala macam tempat yang aku kunjungi ini, kalau nggak berkaitan sama Kpop ya berkaitan sama drama. Memang Agista sudah Kpop banget mendarah daging.

Setelah dari Deoksugung Stonewall, barulah aku menuju destinasi yang terakhir yaitu Namsan Seoul Tower. Konsep hari pertama memang turis banget, jadi sekalian lah gas aja ke touristy places agar esok-esok nggak kepikiran lagi. Namsan Tower ini sebetulnya adalah destinasi terjauh dari hotel sehingga aku perlu untuk ambil Subway. Untuk masalah mencari jalur Subway sendiri, sebetulnya banyak orang merekomendasikan untuk instal Kakao Map atau Naver Map. Aku sendiri instal Kakao Map. Tapi masalah membaca peta dan jalur subway, aku lebih percaya pada Citymapper sejak di Inggris. 

Memang sih ada tempat-tempat yang bisa dikenali di Citymapper, contohnya Yupgi Tteokboki dan Yoogane Chicken. Tapi kalau masalah landmark atau beberapa tempat, semua cukup lengkap kok di Citymapper. Jadi, memang kemanapun nggak perlu khawatir selama sudah menginstall Citymapper. Lagipula jangkauan kota yang ada di Citymapper juga sudah cukup lengkap apalagi sekarang Citymapper bisa digunakan di navigasi smartwatch. Makin keren lagi deh pokoknya πŸ‘Œ

Dari Deoksugung Stonewall,  transportasi yang direkomendasikan Citymapper adalah Subway dan kereta gantung. Sebetulnya paling enak naik bus karena bisa langsung berhenti sekitar 210 meter dari N-Seoul Towernya. Sayangnya rute itu tidak tersedia dari Deoksugung. Untuk ke N-Seoul Tower setelah naik Subway dan berhenti di stasiun terdekat, aku perlu trekking yang lumayan bikin ingin nangis. Jaraknya sih nggak sejauh itu tapi medannya itu loh. Nggak berlebihan kalau teman-temanku berpesan untuk menggunakan sepatu yang nyaman di Korea karena memang kontur tanah Seoul itu naik turun bukit cukup ekstrem. Dan nggak heran kenapa orang Korea nggak banyak yang obesitas, karena memang mereka menggunakan transportasi umum yang bahkan pindah platform saja harus naik turun tangga. Riil ini sodara-sodara.


Namsan Tower sendiri, kalau di drama-drama digambarkan sebagai tempat yang romantis. Mungkin karena emang warga Korea Selatan ini nggak bisa hidup tanpa cinta (re: pacar) kali ya? Padahal waktu aku ke Namsan, all the excitement was gone. Nggak tahu kenapa, ke Namsan tuh perasaannya biasa aja. Nggak ada perasaan bahagia atau terlibat romantisme atau gimana. Waktu nyampe dan melihat semua gembok cinta ini impressionnya cuma "Oh."

Bahkan untuk mengingat scene apa yang paling memorable aja juga susah. Di situ aku berpikir, mungkin rasa excitement yang absen ini disebabkan oleh betapa seringnya aku melihat konsep serupa di tempat yang sudah-sudah. Atau mungkin sudah kebas saja karena sudah terlalu sering melihatnya di drama. Tapi berbeda dengan ketika aku sudah masuk ke dalam Namsan Towernya. Rasanya senang karena bisa melihat Seoul dari ketinggian dan senang karena di dalam Namsan Tower, merchnya lucu-lucu banget.

Oh iya, untuk cable car dan masuk Namsan Tower sendiri kalian perlu membayar tiket. Cable car kalau mau ambil perjalanan pulang-pergi bayar KRW 14,000 sementara satu kali jalan KRW 11,000. Untuk masuk Namsan, tiketnya juga KRW 11,000.

Di dalam Namsan Tower ini ada observatorium, ya itu yang bisa ngelihat pemandangan dari ketinggian. Aku sempat kebingungan menemukan tempat masuknya pada awalnya padahal petunjuk arahnya cukup jelas. Memang Agista ini suka disorientasi dan buta arah aja. Sebelum masuk eskalator, akan ada imersifa event. Cakep banget. Cakep banget nggak bohong. Setelah lewat dan menikmati imersifa itu barulah kita sampai di elevator yang cuma bisa dioperasikan oleh operator. Elevator inilah yang membawa kita ke observatorium Namsan Tower. Di situ aku menghabiskan waktu cukup banyak untuk menikmati pemandangan Seoul.

Suka banget!

Jadi sayang aja kalau kalian ada itinerary ke Namsan dan nggak masuk observatorium. So, please masuklah dan nikmati pemandangan Seoul dari atas.

Setelah puas menikmati waktu di Namsan Tower, aku memutuskan untuk balik. Iya balik karena baterai Handphone juga sudah semakin menipis. Memang bawa powerbank sih tapi aku nggak mau ambil risiko karena powerbanknya ternyata udah mau koit juga untuk ngecharge dua HP sekaligus. Sebelum pulang, sempat mampir dulu ke toilet di Namsan Tower. Yang bikin agak rikuh adalah toiletnya terbuka bos! Memang ada pintu tertutup sih tapi jendelanya terbuka gitu. Maksudnya apa coba? Kan tetap aja ya masa kita kencing dan boker melihat pemandangan sekaligus membiarkan orang melihat pemandangan kita? Itu adalah toilet teraneh yang pernah aku kunjungi dan aku gak pernah merasa sangat terekspos saat buang hajat kecuali kencing di Namsan Tower.

Oh iya yang perlu dijadikan catatan juga saat ke Korea adalah, usahakan selalu bawa tisu basah dan tisu kering. Untuk tisu basah hukumnya wajib karena toilet Korea adalah toilet kering. Kalau nggak ada tisu basah ya wasalam risihnya nggak kebayang seperti apa karena ngga ada bidet untuk membersihkan area pribadi kita. Jadi teman-teman Indonesiaku, aku sarankan kalian bawa tisu basah kemana-mana kecuali kalian memang terbiasa bersihin area pribadi pakai tisu kering.

Setelah buang air itulah aku memutuskan untuk turun ke bawah dan menuju destinasi berikutnya yaitu Dongdaemun Design Plaza (DDP). Awalnya masih ingin cari makan, tapi berhubung makanan di Korea rata-rata mengandung babi jadi aku mengurungkan niat. Ku akan selalu bisa pergi ke 7-Eleven untuk beli kimbap tuna.

Di perjalanan menuju pulang inilah aku melakukan sebuah kebodohan untuk kali pertama dan terakhir di Korea. Sudah turun ke bawah nih dan menunggu di halte bus. Begitu busnya datang, aku naik dan baru menyadari kalau saldo T-Moneyku nggak cukup untuk dipake pulang balik. Di sinilah Bunda riset itu penting. Berbeda dengan di London, sistem pembayaran dan tarif transportasi umum ini agak membuatku pusing karena nggak terlalu banyak info.

Contohnya ketika aku baru sampai di Korea dan hendak menuju Seoul. Aku nggak tahu cara beli T-money meski mereka bilang ada mesin T-Money di dalam stasiun. Aku bingung dong, karena mesin yang ditunjuk adalah mesin isi ulang T-Money. Walhasil untuk menuju Seoul aku beli tiket kereta sekali jalan dan baru beli T-Money di sebuah stasiun. Itupun ternyata aku isi saldo terlalu sedikit yaitu KRW 2,000. Sementara sepertinya tiap sekali naik Subway harganya KRW 1,250 dan kalau naik bus KRW 1,100.

Jadi waktu naik bus dari Namsan itu, ternyata saldoku hanya KRW 750, jelas kurang banget. Pantesan kok mesinnya bunyi "Tit Tit" dan Pak Supir bilang "Don eobso."

Di saat itu aku hampir sempat panik, dimana di Namsan aku bisa isi ulang T-Money kan? Karena isi ulang T-Money hanya ada di stasiun atau di convenience store. Nah, sementara pas aku jalan-jalan dari Namsan Tower ke halte bus nggak melihat convenience store satupun. Akhirnya bermodal HP dengan baterai agak mengkhawatirkan, aku cek lagi di Google Maps. Beruntung tadi juga sempat notice ada semacam Plaza di daerah Namsan. Google Maps tidak menjawab pertanyaanku "Convenience Store near me" dan aku akhirnya bermodalkan nekad pergi ke Plaza tersebut. Beruntung ya Allah! Ternyata memang punya insting dan logika yang sedikit jalan itu membantu, di Plaza tersebut ada mini market GS25 yang membuatku bisa top up T-Money dan mengantarkanku pulang.

Dari pengalaman nggak terlalu mengenakkan inilah esok harinya aku langsung mengisi T-Moneyku sebesar KRW 10,000 dan baru aku isi ulang lagi di hari ketiga dan hari terakhir untuk naik shuttle bus pulang ke Jakarta.

Di perjalanan menuju DDP ini, aku sempat nyasar karena salah turun stasiun. Stasiun yang harusnya aku tuju masih satu stop lagi tapi aku terlalu cepat turun. Akhirnya aku harus berjalan berganti platform dan muter-muter banget sampai nyasar di Jungbuk Market. Awalnya sempat cranky karena nggak sampai di tempat yang aku tuju dengan tepat, tapi nggak jadi. Justru dengan kesasar ini aku jadi menemukan tempat-tempat unik. Seperti pasar dried seafood yang surprisingly pasar Korea tuh bersih banget. Memang bau amis seperti pasar pada umumnya sih tapi bersih banget, nggak kotor seperti di Pasar Singosari atau Pasar Kebalen.

Aku juga sempat kesasar di daerah yang sepanjang jalanannya jualan kamera, termasuk kamera analog. Di situ aku jadi ingat gebetan yang menggemari kamera analog lalu nggak jadi marah-marah. Malah ingat dia dan jadi punya bahan obrolan untuk dia. Yah meskipun saat ini hubungan kami gak berprogres jauh-jauh dan setelah ngomongin soal jalan kamera ini dia masih tidak menunjukkan ketertarikan, sigh.

Meskipun akhirnya kesasar dan berputar-putar, aku justru malah menikmati momen-momen itu. Sangat jarang sekali aku jadi present dan menikmati momen. Apalagi di jalanan Seoul tuh setiap sudut estetik, jadinya aku punya banyak bahan untuk difoto sebelum akhirnya tiba di DDP. Begitu tiba di DDP, justru lagi-lagi aku nggak merasa excitement itu. Pas udah nyampe kayak "Oh ya udah".

DDP ini memang Plaza, di dalamnya ada museum, ada hall, dan ada plazanya. Untuk masuk museumnya bayar lagi jadi aku mengurungkan niat. Aku nggak ingin masuk museum lagi. Sesungguhnya aku ke DDP ingin reminiscing memories aja, contohnya reminiscing potongan karpet merah acara award. Dan reminiscing scene Vincenzo ciuman di DDP hahaha. Sungguh gak penting ya? Aku juga mencari LED Rose yang sayangnya gak ada. Entah instalasinya sudah dicopot atau bagaimana. Yang jelas aku sudah berputar-putar di DDP dan dua kali ke sana masih belum menemukan LED Rose itu.

Setelah puas foto-foto di DDP, gerimis mulai tiba. Itu berarti aku memang harus segera pulang. Ya sudah aku putuskan untuk pulang daripada kehujanan dan ribet lagi.

Di perjalanan pulang, Citymapper mengarahkanku ke stasiun yang berbeda dari yang hari sebelumnya aku ambil. Sore itu aku pulang lewat belakang hotel. Eh nggak tahunya, jalanan di belakang hotel adalah Insadong. Insadong ini merupakan culture streetnya Seoul, nggak heran kok banyak galeri seni dan orang jualan karya seni di jalanannya.

Insadong memang nggak sepadat Hongdae atau Myeongdong (nanti akan diceritakan) tapi aku cukup terkejut waktu pulang jalanan ini ramai dengan anak muda. Lagi-lagi aku menemukan bahan-bahan untuk diabadikan. Dan tiba-tiba cuaca jadi cerah lagi, sementara aku tinggal beberapa meter saja dari hotel. Mau pergi main lagi sudah mager minta ampun. Sempat berpikir untuk jalan-jalan aja di Insadong tapi juga aku urungkan, hari itu aku sudah berjalan 27ribu langkah. Kaki sudah nggak kuat lagi digunakan untuk melangkah. Akhirnya aku memilih untuk menyimpan Insadong di hari-hari terakhir dan memutuskan untuk mengambil gambar yang kira-kira cakep untuk aku unggah di blog ini.


Gimana cakep kan? Hari pertama berjalan sungguh sangat menyenangkan dan justru hal-hal menyenangkan itu datang dari momen yang nggak aku duga seperti kesasar di jalan. Mungkin kalau ke Seoul lagi, aku akan lebih memilih untuk jalan-jalan ke tempat random aja. Karena mengambil gambar di touristy places tidak se-menarik mengambil gambar di random street. Atau memang akunya saja yang kesukaannya sudah bergeser dari "Ingin merekam tempat-tempat penting" menjadi ke "Menghargai momen yang sedang terjadi saat itu."

Salah satu hal yang aku suka dari perjalanan ini selain pada akhirnya kekhawatiranku tidak terbukti adalah perjalanan ini terasa menyenangkan dan membuatku bahagia. Memang banyak yang kupikirkan, termasuk memikirkan soal seberapa lama kebahagiaan itu akan bertahan. Tapi aku sungguh menikmatinya. Dan aku nggak sabar untuk memulai hari-hari berikutnya. Seoul itu seperti rumah, terlalu familiar. Tapi kalau disuruh tinggal di sana aku nggak mau, karena di hari pertama-pun aku tidak merasa atmosfer keramahan orang-orangnya. Ya mungkin aku akan cocok-cocok saja tinggal di lingkungan individualis tapi Seoul terlalu dingin hahahaha.

Satu lagi, perjalanan ini juga membuktikan bahwa sekali lagi jalan-jalan sendirian alias solo travelling itu juga seru. Kamu pergi sesuai dengan pace kamu sendiri, kamu membawa beban yaitu dirimu sendiri, dan kamu nggak terbatas pada apapun. You do you. Bahkan hal-hal kecilpun akan lebih kamu hargai. Makanya, kalau ada yang nanya padaku "Emang seru ya solo traveling?" Sekali lagi aku sudah buktikan bahwa jalan-jalan sendiri itu seru banget!!!!

Kalau mau yang lebih seru lagi, kalian bisa cek vlog Part 1 cerita perjalananku ke Seoul di bawah ini. μ•ˆλ…• ! μš°λ¦¬λ‹€μ‹œλ§Œλ‚˜μž~

Comments