Musim Semi ala Jepang & Korea di Jawa Timur Park 3


Sudah memasuki bulan April, negara-negara subtropis kini harusnya sedang mengalami musim semi. Ketika aku masih di London dulu, musim semi tidak terlalu jauh berbeda dengan musim dingin. Suhu masih berada di bawah 10 derajat celcius, langit juga masih diselimuti oleh mendung yang tak berkesudahan. Tak jarang juga hujan turun lebih sering di musim semi ini. Yang membedakan musim semi dan dingin adalah tunas-tunas, daun-daun, dan bunga mulai tumbuh.

Awal musim semi, tidak ada perbedaan signifikan dengan musim sebelumnya. Bunga-bunga sakura yang ada di Regent's Park pun masih belum tumbuh. Namun begitu mulai menginjak pertengahan, pohon-pohon sakura mulai dihiasi bunga-bunga berwarna pink. Terutama yang ada di Greenwich Park. Tidak heran kalau musim kesukaan Mbak Ayodd adalah musim semi. Bunga warna-warni di hampir semua taman London bermekaran dan tampak begitu cantik.

Jepang dan Korea pun demikian, di musim semi seperti ini banyak sekali yang berfoto-foto dengan bunga sakura. Tak terkecuali sederetan idola K-Pop, seperti Yesung yang baru saja pamer pepohonan sakura di feed Instagramnya. Berhubung tahun ini aku sudah tidak di London, aku tidak lagi merasakan musim semi. Yang ada hanyalah musim semi bohongan dilengkapi dengan bunga sakura bohongan juga di Jawa Timur Park 3. Terlepas dari segala pola artifisial sebagai bentuk replika negara-negara subtropis ini, aku bahagia karena aku bisa mencoba mengenakan Hanbok di The Legend Star!

Bila beberapa saat lalu aku hanya berkesempatan untuk pergi ke Upside Down World, maka kali ini aku berhasil memenuhi keinginan dengan berkunjung ke The Legend Star plus menyewa Hanbok dan juga Kimono. Destinasi wisata ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Kalau aku baru me-review-nya sekarang memang terasa begitu terlambat sih. Tidak apa-apa, yang penting toh aku sudah pernah mengunjunginya kan?

Untuk masuk ke The Legend Star, kamu harus membayar tiket masuk sebesar Rp75.000 di hari biasa. Harga yang sama juga dipatok oleh Dinosaurs Park di sampingnya. Di hari biasa, tidak berlaku tiket terusan karena harga Rp75.000 itu sudah termasuk diskon 25% untuk dua wahana terbesar ini. Berbeda halnya dengan akhir pekan, kamu bisa membeli tiket terusan sebesar Rp170.000 untuk Dino Park dan The Legend Star. Harga per wahananya adalah Rp100.000 di akhir pekan. Namun pengelola taman ini juga menyediakan tiket terusan ke Fun Tech Plaza atau Museum Musik Indonesia di kompleks yang sama dengan total harga Rp130.000 pada akhir minggu.

Sejujurnya, wahana wisata di Jawa Timur Park 3 ini tidak terlalu informatif atau mengadu adrenalin seperti di Jawa Timur Park 1 atau 2. Di JP1 misalnya, kamu bisa mengunjungi museum tubuh atau naik sejumlah wahana yang menguji adrenalin. Di JP2 ada museum satwa sehingga membuatmu lebih mengenal satwa, tidak hanya berfoto-foto ria saja. Dino Park masih mengandung informasi yang berguna bagi anak-anak, tapi The Legend Star sebenarnya hanyalah tempat untuk berfoto-foto saja.


Menjamurnya wisata selfie ini semakin marak karena orientasi pengunjung zaman sekarang adalah Instagram, termasuk aku. Informasi tidak lagi dipikirkan, yang penting foto untuk instagram jadi yang terdepan. Konsep yang dimiliki oleh The Legend Star pun sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Museum Angkut. Di Museum Angkut, memang terdapat bermacam angkutan dari zaman tua hingga modern tapi tiap spot didesain sebagai replika landmark-landmark populer di dunia. The Legend Star pun demikian, ada patung lilin dari tokoh-tokoh populer dunia dan dilengkapi dengan sejumlah landmark. Seperti yang aku sebutkan tadi, ada bentuk artifisial dari negara-negara subtropis.

Tujuanku sendiri untuk masuk ke The Legend Star bukanlah berkunjung ke replika Istana Merdeka atau replika tulisan 'I amsterdam'-nya Belanda. Yang pertama, aku bisa berkunjung langsung ke Istana Merdeka kapanpun kalau aku sempat. Yang kedua, aku sudah pernah ke Belanda dan memotret tulisan 'I amsterdam' di depan Rijk Museum. Yang kuburu dalam perjalanan ke The Legend Star adalah persewaan Kimono dan Hanbok dengan latar musim semi ala-ala Asia Timur.

Suatu kali, aku pernah berkata pada temanku: "Rasanya aku nggak perlu ke Belanda deh kalau aku juga bisa lihat kanal-kanal dengan perahu semacam ini di Inggris." atau "Rasanya aku nggak perlu ke Belanda deh kalau di London juga ada tulip." Temanku itu membantah argumenku, "Ya tapi kan beda, Gis. Vibenya aja udah beda gitu. Coba deh kamu ke Belanda langsung." Awalnya aku masih skeptis karena merasa bahwa ya kalau sudah ada ngapain kan pergi jauh-jauh ke negaranya? Rupanya argumen temanku ini benar. Semirip-miripnya replika atau atmosfer negara lain, tetap saja tidak afdol kalau kita tidak berkunjung ke negaranya langsung.

Sama, meski aku sudah cukup puas berfoto-foto di zona Asia Timur di The Legend Star ini, justru rasa penasaranku untuk berkunjung ke negara asalnya jadi semakin menguat. Apalagi setelah mencoba Hanbok di zona Korea. Memang sih setting istananya sudah mirip dengan drama-drama Saeguk di Korea, namun hal itu tidak lantas mengurangi keinginanku untuk memakai Hanbok langsung di Korea sana. Di zona Korea ini, patung lilinnya hanya ada dua yakni patung lilin Kim Soo Hyun dan Lee Min Ho. Lucunya, patung Kim Soo Hyun jadi lebih mirip Suho EXO daripada KSH sendiri.

Sementara itu di zona Jepang ada semacam zona musim dingin, replikasi dari dinginnya Sapporo. Bagi orang tropis, masuk ruangan ini memang begitu dingin hingga menusuk tulang. Apalagi mereka masuk tanpa mengenakan jaket bulky tebal atau coat kan? Namun bagi orang yang sudah pernah tinggal di negara subtropis, dinginnya zona winter in Japan ini tidak terlalu kentara kok. Malah lebih tepat disebut sejuk ketimbang dingin. Sebenarnya aku berekspektasi akan adanya ice rink atau rumah-rumahan eskimo, replika salju, dan juga es. Begitu masuk ke dalam zona ini, aku kecewa parah. Tidak ada ice rink, tidak ada salju-saljuan, konsep interiornya juga kurang wah. Terlepas dari kekecewaanku, yah boleh lah aku beri apresiasi atas usaha replikasinya.

Persewaan baju tradisional ini rata-rata dipatok dengan harga Rp50.000 untuk dipakai selama 20 menit. Informasi yang sebenarnya berbeda dari yang kudapat. Sebelumnya, seorang teman blogger mengatakan bahwa persewaan baju tradisional: Hanbok, Kimono, Cheongsam, kostum Belanda dibanderol dengan harga Rp50.000 untuk sejam. Padahal pemakaian hanya berlangsung 20 menit dan itupun harus meninggalkan kartu identitas (KTP/SIM). Di satu sisi, batasan waktu ini masuk akal karena seseorang tidak akan menghabiskan waktu hingga satu jam di zona yang sama bukan?


Kalau boleh aku bilang, sejujurnya kostum yang disewakan di The Legend Star ini bagus-bagus kok. Baik dari segi motif dan bahannya. Tapi bila dibandingkan dengan penyewaan kostum di negara asalnya (Jepang, China, atau Korea) kostum di The Legend Star ini terbilang lebih simpel. Contohnya saja Kimono yang kukenakan di foto sebelumnya. Seharusnya kimono terdiri dari berlapis-lapis pakaian, yang kupakai hanya bagian outer saja. Obi yang dipasangkan hanya disimpulkan ala kadarnya, mengabaikan seni simpul obi yang menggambarkan status dan identitas seperti di Jepang. Masuk akal sih. Coba kalau kamu mengenakan kimono berlapis-lapis yang super berat seperti di negara asalnya, kamu pasti akan kesusahan bergerak dan bakal kepanasan.

Hanbok pun demikian. Di zona Korea, tersedia bermacam Hanbok dengan warna yang cantik. Hanbok untuk commoner yang biasanya dipakai saat Seollal misalnya. Ada juga Hanbok Royal seperti yang dikenakan oleh anggota kerajaan di zaman Saeguk. Tersedia juga Hanbok untuk pria lengkap dengan hiasan kepala dan sepatu lho! Meski tidak terlalu komplit seperti di Korea atau Jepang, setidaknya kostum yang disewakan di The Legend Star ini masih memuaskan. Jadi kamu-kamu yang hendak berkunjung ke luar negeri, boleh banget 'gladi resik' dulu dengan mengenakan kostum di The Legend Star JP 3 ini.

Selain miniatur negara, The Legend Star juga punya pojokan Harry Potter. Zona Harry Potter ini merupakan replika Diagon Alley lengkap dengan kepala Hogwarts Express dan juga trolly platform 9 3/4. Buat kamu yang belum sempat pergi ke platform 9 3/4, Universal Studio Tokyo, atau WB Studio di Leavesden bisa banget sih berkunjung ke zona Harry Potter ini. Tingkat kemiripan Diagon Alley dan juga perintilan di zona Harry Potter 9 3/4 ini sekitar 75% lah, mirip sih tapi masih kurang maksimal. Apalagi masih ada satu lokasi yang ternyata masih under construction, zonanya juga terbilang cukup kecil sehingga tidak terlalu memuaskan. Lucunya, ada replika patung lilin Harry Potter kecil dan juga Dumbledore yang sebenarnya lebih mirip dengan Gandalf di zona selanjutnya, zona Oscar. Sesungguhnya aku ingin protes karena Dumbledore sering disalahartikan sebagai Gandalf, begitu juga sebaliknya.

Kalau kamu tanya apakah Rp75.000 (weekday) cukup worthy untuk berkunjung ke The Legend Star? Aku bisa jawab IYA, harga segitu bahkan terbilang murah. The Legend Star is surprisingly wide dan tentu saja bikin capek. Kamu membutuhkan setidaknya 4 jam untuk berkeliling tempat ini. Memang sih kamu bisa berkunjung dalam kurun waktu 2-3 jam saja tapi kamu akan jauh lebih puas bila menghabiskan waktu seharian di The Legend Star. Hal yang sama juga berlaku di Dino Park, kamu butuh waktu 3-4 jam untuk menghabiskan seluruh wahana di dalamnya. Maka dari itu, aku tidak menyarankan kamu untuk membeli tiket terusan dari Dino Park lalu The Legend Star karena pasti akan capek banget.

Dino Park buka dari jam 11 siang hingga jam 9 malam, The Legend Star buka dari jam 12 siang hingga jam 9 malam. Kalau kamu lapar di tengah perjalanan, ada sejumlah kantin dan restoran di kompleks Jawa Timur Park 3 kok. Harganya juga tidak terlalu mencekik, masih masuk akal lah. Jadi tunggu apa lagi? Kalau kamu tidak punya cukup budget untuk travelling ke luar negeri, datang saja ke taman-taman tematik Jawa Timur Park group. Niscaya rasa penasaranmu dengan landmark luar negeri akan terpenuhi. Kalau mau versi yang lebih murah lagi, kamu bisa berkunjung ke Transmart, GRATIS!

Galeri Foto













Comments

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)