Akhir Tahun dan Hobi Baru

Sudah satu bulan nampaknya aku hiatus dari blog, bukan karena aku sudah tidak suka menulis tapi aku mungkin sedang memilih untuk beristirahat. Kata salah seorang yang paling aku suka, istirahat sebentar nggak apa-apa karena istirahat itu memang perlu. Coba bayangkan, misalkan kamu bekerja terus-menerus tanpa ambil istirahat maka kamu akan mengalami burn out. Dan itu sudah terjadi padaku selama beberapa bulan belakangan. Pekerjaanku rasanya nggak ada habisnya, ya memang pekerjaan nggak ada habisnya sih, cuma kita bisa memilih untuk menentukan prioritas pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang belum. Lalu kita juga berhak istirahat, maka dari itu perusahaan memberikan keleluasan kita untuk mengambil cuti. Kalau aku sudah di tahap benar-benar lelah bekerja dan nggak mau melakukan suatu hal, biasanya aku ambil izin sakit satu hari. Bukan karena sakit tapi karena aku mau istirahat dan me-reset otakku. Keesokan harinya, aku semangat lagi bekerja. Itu rahasianya.

Sama dengan yang telah kusebutkan di atas, dua tahun lalu mungkin aku aktif sekali menulis blog. Minimal sebulan sekali lah. Namun dua tahun belakangan ini, karena kesibukan pekerjaan dan rasanya aku nggak memiliki terlalu banyak inspirasi untuk ditulis, jadi aku memilih untuk istirahat. Menulis blog kalau memang ada topik menarik yang perlu kubahas. Menulis blog kalau memang hal itu membuatku merasa nyaman. Pada akhirnya, menulis adalah rumahku. Ya dengan menulis, aku bisa menyortir ulang isi kepalaku dengan baik. Nah, kali ini topik yang ingin aku bagikan adalah hobi baruku selama akhir tahun ini: jurnaling dan berolahraga. Wow, aku berolahraga? Sebuah keajaiban.

2020 ini merupakan tahun yang paling nggak disangka-sangka, hal ini mengubah gaya hidup masyarakat termasuk aku. Sudah terhitung 9 bulan ini aku bekerja dari rumah, ya walaupun beberapa waktu lalu masih sempat hybird bekerja dari rumah dan kantor sih. Jujur, aku lebih suka bekerja dari rumah karena nggak terlalu menghabiskan energi apalagi berurusan dengan kemacetan. Lalu yang kedua, teknologi sudah canggih, kita benar-benar nggak harus tatap muka dengan atasan atau kolega ketika bekerja sudah mengandalkan kolaborasi digital. Kecuali memang ada hal penting yang harus dibahas. Work From Home alias bekerja remote ini adalah sesuatu yang aku sukai. Cuma selalu ada sisi negatif di setiap hal, dalam pelaksanaan WFH, orang-orang (re: atasan) di tempatku semakin tidak ngotak soal jam kerja. Mungkin karena pikirnya bekerja dari rumah bisa disambi rebahan? Jadi jam kerja yang semula 8 jam berubah menjadi 16 jam, ini ngaco sih. Work From Home bukan berarti atasan bebas abusive soal jam kerja.

Untuk mengatasi stress akibat jam kerja yang ngawur itu, akhirnya aku berusaha untuk channeling energi negatif ke hal-hal baru. Yang pertama jurnaling dan yang kedua olahraga. Sebenarnya ada hobi lain yang aku tekuni kembali yakni menggambar tapi kan hobiku menggambar sudah lama ya maka dari itu tidak bisa disebut sebagai hobi baru. Begitu pun hobi fangirling. Selain jurnaling dan olahraga, ada hobi yang baru aku lakoni semasa pandemi yakni main drum. Justru kegiatan main drum ini muncul terlebih dahulu dibandingkan kedua hobi sebelumnya. Lalu aku juga akhir-akhir ini suka nontonin vlog mbak-mbak Korea yang memasak di dorm/apartemen yang mereka tinggali sendiri. Siapa tahu dapat inspirasi resep kan?

Hobi jurnaling ini bermula dari vlog mbak-mbak Korea itu juga. Karena aku baru saja membeli sebuah iPad, entah kenapa Youtube merekomendasikan channel mbak-mbak Korea yang menulis jurnal. Aku tonton video itu, dan entah kenapa kok jadinya menarik. Berdasarkan buku yang baru aku baca juga I want to Die but I want to Eat Tteokpokki, jurnaling menjadi salah satu cara untuk healing. Nggak ada salahnya dicoba, toh dulu aku juga suka menulis diary. Aku juga melihat Mbayodd menjurnal (bukan jurnal digital) dengan lucu, menurut mbayodd jurnaling memang bikin hepi sih. Journaling ini juga membantuku untuk lebih bisa menguraikan keruwetan-keruwetan dalam otakku. Ketimbang aku menjurnal di aplikasi Stoic*) saja, rasanya bakal lebih lega kalau menulis jurnal digital begitu pikirku.

*) Stoic merupakan aplikasi untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi untuk merasa lebih baik. Terdapat beberapa metode yang disediakan oleh aplikasi ini seperti: journaling, fear setting, relax breathing, dan meditating.

Selanjutnya adalah olahraga. Aku berolahraga ini bagaikan keajaiban dunia karena aku sendiri sangat memahami diriku yang benci dengan olahraga atau bergerak. Namun keadaan memaksaku. Yang pertama, aku mengalami kesulitan tidur jadi aku harus membuat diriku lebih lelah agar tidur dengan baik. Yang kedua, badanku sudah di level obesitas. Mau nggak mau, suka tidak suka aku harus mulai memikirkan kesehatan badan ini kalau tidak mau sakit-sakitan di usia 30-an ke atas nanti. Olahragaku sederhana, belum ke tingkat advance. Pada awalnya aku melakukan aktivitas Chloe Ting 2 weeks abs tapi ini hanya berlangsung satu minggu, lalu beberapa minggu stop, mulai lagi satu minggu, dan begitu seterusnya. Yang paling berkontribusi di ketidakkonsisten-anku dalam melakukan work out Chloe Ting dulu adalah jam kerja yang ngaco.

Belajar dari hal tersebut dan sebenarnya karena aku merasa terlalu berat melakukan work out ala Chloe Ting, aku jadi mengubah olahraga ke bentuk lain yakni jalan kaki. Aku mulai membiasakan diri untuk bangun lebih pagi dan berjalan kaki minimal setengah jam. Faktor lain yang membuatku jadi bersemangat untuk mulai jalan kaki adalah Park Sungjin. Kalau Park Sungjin bisa meluangkan waktunya untuk olahraga dan healing dari gangguan kecemasannya, masa aku nggak bisa? Siapa tahu berolahraga juga memiliki efek yang bagus untuk kesehatan mentalku juga? Kan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Ketika aku observasi waktu yang kuluangkan untuk olahraga, bila dilakukan di jam yang tepat maka di hari kerja pun mungkin aku masih sempat untuk olahraga dan berangkat ke kantor seperti biasa. Sepulang dari jalan kaki, aku biasanya work out ringan dari step yang sudah dicontohkan Chloe Ting. Nggak semua gerakan kulakukan tapi aku mencoba untuk rutin melakukan beberapa gerakan yang bisa aku lakukan. Efek dari olahraga ini adalah tidurku lebih teratur. Dan sepertinya jam biologisku sudah mulai menyesuaikan dengan kebiasaan baruku ini. Masalah yang perlu aku tangan selanjutnya adalah jadi konsisten.

Tambahan lagi, ini bukan hobi sih tapi masih terhitung hal baru. Aku jadi mendengarkan lagu-lagu tastebreaker selama tahun 2020 ini. Kebanyakan lo-fi atau musisi-musisi non-mainstream yang namanya jarang kudengar. Thanks to Jonathan.

Mungkin kalau aku nggak mengalami sleep deprivation atau anxiety, aku nggak akan memulai kebiasaan-kebiasaan baru ini. Memang manusia itu butuh dorongan untuk melakukan sesuatu ya? Dan semoga aku konsisten melakukan kebiasaan baru ini ke depannya. Nah, bagaimana dengan kalian? Kebiasaan baru apa yang kalian tekuni selama pandemi ini?

Comments

  1. Gila apa kerja 16 jam, idealnya 8 jam untuk kerja, 8 jam tidur, 8 jam untuk diri sendiri/keluarga/lain-lain selain kerja. Aku doain semoga atasannya segera sadar.
    Hobi baru pas pandemi ya, apa ya kayaknya nggak ada wakakakakak hobi-hobi lama aja yang aku jalani sejauh iniπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah kak, aneh banget atasanku. Bikin gelo. Work life balance itu ya kerja 8 jam, selebihnya ya istirahat sama buat diri sendiri/keluarga. Lha ini dibalik-balik. Kalau nenun album Semicolon gimana? wakakakaka

      Delete

Post a comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)